Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”
(Q.S. Al-Ma’un/107: 1–7)
Surah ini diawali dengan kalimat pertanyaan. Dalam kaidah tafsir, jika sebuah surah atau ayat diawali dengan kalimat bertanya, biasanya terdapat sesuatu yang amat substansial dan bersifat penting yang hendak diungkapkan Tuhan di dalamnya. Ayat-ayat di atas menegaskan kepada kita makna dan hakikat keberagamaan dalam diri kita.
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa dengan selesainya kita menunaikan ibadah formal atau ibadah mahdhah, otomatis segala urusan kita dengan agama belumlah selesai. Keberhasilan keberagamaan kita ternyata juga diukur melalui hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan, yaitu sikap kita terhadap anak yatim, fakir miskin, dan berbagai persoalan sosial lainnya. Orang yang hanya mengutamakan ibadah ritual tanpa melahirkan makna dan dampak sosial ternyata keberagamaannya belum mencapai hakikat yang sesungguhnya. Segalanya baru berarti setelah diuji dalam realitas kehidupan kita sehari-hari.
Baca juga : Harmoni Antara Agama Dan Pancasila
Jika seseorang masih belum peduli dan prihatin terhadap nasib orang-orang pinggiran serta kaum yang tertindas dan dizalimi, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, maka keberagamaannya patut dipertanyakan. Menjalin hubungan vertikal dengan Tuhan saja tidak cukup, melainkan harus direalisasikan dalam hubungan horizontal yang baik pula, dalam bentuk perbuatan baik kepada mereka yang memerlukan perhatian dan pertolongan. Siapa pun kita dan apa pun kapasitas yang kita miliki, pasti memiliki kekuatan untuk membantu sesama, setidaknya dalam bentuk doa.
Surah di atas juga dengan tegas mengingatkan bahwa salat menjadi tidak bermakna jika sikap mental seseorang masih suka memamerkan kemewahan dan kelebihannya di tengah orang-orang yang hidup dalam keprihatinan. Demikian pula dengan orang-orang yang enggan peduli dan tidak memiliki kepekaan sosial.
Mereka memiliki sesuatu yang lebih, tetapi tidak pernah berbagi dengan orang lain. Mereka yang merasa cukup dengan hubungan formalnya dengan Allah, tetapi tidak mau tahu terhadap penderitaan orang lain, adalah mereka yang telah terkecoh oleh keberagamaan yang bersifat formal dan semu.
Baca juga : Mengindonesiakan Umat Beragama
Ayat-ayat dalam surah tersebut juga menegaskan bahwa kesalehan individual semata tidak cukup, tetapi harus diparalelkan dengan kesalehan sosial. Sebaliknya, kesalehan sosial juga perlu dibangun di atas kesalehan individual. Lebih celaka lagi jika seseorang tidak saleh secara individual sekaligus tidak saleh secara sosial.
Kesalehan tentu bukan hanya persoalan kesalehan individu. Dalam kapasitas kita sebagai pemimpin institusi, sekurang-kurangnya sebagai pemimpin rumah tangga, kita juga dituntut untuk mewujudkan kesalehan secara kolektif, baik secara individual maupun sosial, kepada bawahan dan seluruh anggota keluarga.
Kita semua digambarkan dalam hadis Nabi sebagai pemimpin yang bertanggung jawab terhadap komunitas yang dipimpinnya: kullukum ra’in wa kullu ra’in mas’ulun ‘an ra’iyyatihi.
Baca juga : Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler
Jika semua umat beragama menjalankan keberagamaannya dengan baik dan benar, yang akan diuntungkan adalah kita sebagai warga bangsa. Sebaliknya, jika kita menjadi warga negara yang baik dan benar, yang diuntungkan juga adalah kita sebagai umat. Di sinilah arti penting ketika identitas sebagai umat dan sebagai warga bangsa dapat berjalan secara selaras.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Kamis, 17 September 2026 dengan judul "Makna Hidup Beragama"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.