Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam lintasan sejarah dunia Islam, dikenal dua nama Umar yang layak menjadi teladan umat. Umar yang pertama ialah Umar ibn Khaththab, khalifah kedua setelah Nabi Muhammad SAW, dan Umar ibn Abd al-‘Aziz, salah seorang khalifah dari Bani Umayyah.
Khalifah Umar ibn Khaththab sama sekali tidak memberikan sedikit pun peluang bagi KKN selama menjadi khalifah. Bahkan, ia memiliki kebijakan yang sangat tegas terhadap para koruptor. Khalifah Umar ibn Khaththab juga tercatat sebagai khalifah yang sangat bersahaja dengan segudang prestasi, sebagaimana pernah dibahas dalam artikel terdahulu tentang al-Khulafa’ al-Rasyidin.
Sementara itu, Khalifah Umar ibn Abd al-‘Aziz lahir pada tahun 63 H/682 M dan memiliki usia yang relatif pendek, hanya 35 tahun. Ia wafat karena diracun oleh pembantunya. Meskipun memerintah kurang dari tiga tahun, ia berhasil mengembalikan suasana kehidupan masyarakat dan keumatan seperti pada zaman Khulafa’ al-Rasyidin.
Baca juga : Memaknai Prediksi Masa Depan
Ia dikenal sebagai khalifah yang sangat bersahaja. Ia hanya memiliki satu stel pakaian kekhalifahan sehingga harus menunggu pakaian tersebut kering sebelum dapat digunakan di depan publik. Ketika dalam keadaan kritis, ia ditanya, “Apa yang engkau akan wasiatkan kepada anak-anakmu?” Ia menjawab, “Aku tidak mewasiatkan apa-apa karena aku tidak memiliki apa-apa. Jika anak-anakku orang saleh, Allah-lah yang mengurus orang-orang saleh. Jika mereka orang-orang yang tidak saleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang mendurhakai Allah lalu menggunakan harta itu untuk mendurhakai Allah.”
Banyak pengalaman menarik dari Khalifah Umar ibn Abd al-‘Aziz yang perlu dicontoh oleh para pejabat publik. Pada suatu malam, ketika masih menjalankan tugas-tugas pemerintahan di istana, tiba-tiba salah seorang anaknya mengetuk pintu kamarnya untuk membicarakan sesuatu. Sebelum membuka pintu, Umar ibn Abd al-‘Aziz menanyakan kepada anaknya apakah yang akan dibicarakan itu urusan pribadi keluarga atau urusan negara.
Sang anak menjawab bahwa yang hendak dibicarakan adalah urusan keluarga. Mendengar jawaban itu, sang ayah langsung mematikan lampu lalu mempersilakan anaknya masuk. Sang anak bertanya, “Mengapa lampu dimatikan?” Ayahnya menjawab bahwa lampu tersebut digunakan untuk kepentingan negara, bukan untuk kepentingan pribadi. Karena yang akan mereka bicarakan adalah urusan pribadi, lampu itu sebaiknya dimatikan. Sang anak pun mengerti, memahami, sekaligus belajar tentang kejujuran dari ayahnya.
Baca juga : Memaknai Kisah Masa Lampau
Pengalaman kedua Umar ini menarik untuk dijadikan renungan. Betapa banyak rumah jabatan atau rumah dinas yang sesungguhnya dimaksudkan untuk mempermudah pelaksanaan urusan masyarakat dan kenegaraan. Jika rumah jabatan dengan segala macam fasilitas yang disediakan oleh negara kemudian lebih banyak digunakan untuk kepentingan pribadi atau keluarga, apalagi diserahkan kepada orang lain atau ditempati oleh anggota keluarga, maka hal tersebut sungguh bertentangan dengan apa yang dicontohkan oleh Khalifah Umar ibn Abd al-‘Aziz.
Seandainya ada pilihan, lebih baik menggunakan rumah pribadi untuk mengurus negara daripada menggunakan rumah negara untuk kepentingan pribadi. Ini rumah jabatan, apalagi kantor.
Jika fasilitas negara yang ada di kantor dan di rumah jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau golongan, pertanggungjawabannya di dunia, apalagi di akhirat, tentu sangat berisiko. Mungkin seseorang bisa saja merekayasa pengeluaran di kantor atau di rumah dinas sehingga pelanggaran tidak terlacak oleh inspektorat, BPK, atau KPK. Namun, mata Allah SWT pasti tidak dapat dibohongi.
Baca juga : Menjadi Selebriti Langit
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 29 September 2026 dengan judul "Meneladani Dua Umar"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.