BREAKING NEWS
 

Refleksi Konsep Hidup Ikigai dalam Perubahan Pola Pikir Masyarakat Menuju Sustainable Consumption and Production

Writer : Intan Nuraini
Editor : UJANG SUNDA
Sabtu, 31 Desember 2022 09:29 WIB
Human mindstet (Sumber: Camille Lamouille, 2019)

Konsumsi merupakan cara seseorang dalam memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan kehidupannya baik itu keutuhan pokoknya atau sekadar memuaskan keinginan. Konsumsi manusia terus meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dunia. Saat ini, diperkirakan jumlah manusia yang hidup di bumi diproyeksikan mencapai 7,942 miliar pada tahun 2022 menurut United Nations (2022), dan Indonesia menempati jumlah populasi terbanyak ke-4 dunia setelah Amerika dengan jumlah penduduk 275 juta. Jumlah ini diproyeksian akan terus bertambah setiap tahunnya dan secara langsung akan berdampak pada peningkatan jumlah konsumsi yang dibutuhkan. Selain kenaikan jumlah konsumsi karena jumlah penduduk yang terus bertambah, konsumsi juga dapat naik karena adanya diversifikasi produk yang membuat banyaknya variasi produk yang ditawarkan untuk memberikan solusi dalam permasalahan yang dihadapi manusia. 

Dengan atau tanpa disadari, manusia saat ini sudah terbawa oleh arus hidup konsumtif yang lebih dikendalikan oleh kepuasan keinginan tanpa memperhatikan apakah produk yang dikonsumsi tersebut benar-benar diperlukan dalam hidupnya atau tidak. Kondisi sosial budaya sangat berperan dalam pegembangan sifat konsumtif dalam masyarakat saat ini. Bahkan, beberapa pelaku usaha yang menyadari kondisi ini memanfaatkannya untuk meningkatkan profit penjualan dengan melakukan promosi melalui berbagai media sosial.

Media sosial membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap keinginaan dan mempersuasi seseorang untuk membeli suatu barang. Hal ini ditambah dengan adanya sifat FOMO (Fear of Mising Out) yang terjadi pada masyarakat terutama kaum muda akibat adanya perkembangan trend sosial. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa perkembangan dunia sosial yang sangat pesat saat ini menjadi faktor utama meningkatnya sifat konsumtif yang terjadi pada masyarakat. Sifat kosumtif yang berlebihan ini ditandai dengan meningkatnya frekuensi konsumsi pada seseorang dan melakukan pembelian barang yang tidak terlalu dibutuhkan. 

Pada dasarnya, kebutuhan manusia dibedakan atas tiga golongan, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Kebutuhan manusia yang dibutuhkan untuk mencukupi kebtuhan dasar seperti makan, minum dan pakaian termasuk dalam kebutuhan dasar yang bersifat biologis. Kebutuhan sekunder dan tersier datang dari adanya keinginan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dan memperoleh suatu kepuasan. Saat ini, kebutuhan sekunder dan tersier meningkat karena pengaruh sifat konsumtif yang timbul dari adanya keadaaan FOMO yang dibawa dari dunia sosial.

Baca juga : Politisi PPP Minta Masyarakat Boikot Kanal YouTube Deddy Corbuzier

Peningkatan konsumsi pada suatu masyarakat akan menimbulkan adanya kebutuhan pasokan yang tinggi dari bahan baku produk. Pemenuhan akan produk yang diminta cederung memaksa manusia untuk menguras dan mengekstrak bahan baku dari alam sebanyak banyaknya demi mencapai keuntungan dan kepuasan. Hal ini berdampak pada menurunnya daya dukung lingkungan dan efeknya sudah sangat terasa saat ini. Mulai dari bencana alam, krisis iklim, bahkan sampai efek pemanasan global telah menjadi jejak nyata dari sifat konsumtif yang lebih mengarah pada keserakahan pada manusia. Oleh karenanya, diperlukan suatu gagasan dan langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak dari sifat konsumtif yang tidak berkelanjutan ini. Berdasarkan hal ini, maka saya menyarankan untuk melakukan perubahan pola pikir pada masyarakat terlebih dahulu sebagai upaya awal mencapai konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. 

Perubahan pola pikir ini dipilih mengingat akar penyebab dari konsumsi yang terlalu berlebihan dan cenderung mengarah ke keserakahan ini muncul akibat pola pikir yang tidak sesuai dengan pemahaman pola pikir sustaiable. Selain itu, pola pikir akan mempengaruhi sikap seseorang dalam melakukan pengambilan keputusan. Dengan mengubah pola pikir, maka manusia akan lebih mudah dalam melakukan gerakan-gerakan yang dapat membantu mengatasi masalah yang terkait dengan sustainable consumtion and production. Berdasarkan paparan identifiksasi masalah yang telah saya sampaikan sebelumnya, saya mengidentifiksasi adanya perkembangan pola pikir yang tidak sesuai dengan konsep sustaiable ini muncul akibat perkembangan dan pengaruh dunia sosial.

Perubahan pola pikir yang saya usulkan adalah dengan melakukan refleksi konsep hidup Ikigai yang lahir pada masyarakat Jepang dalam mencapai sustainable consumption and production. Ikigai memudahkan seseorang dalam melakukan penentuan skala prioritas dan menyeimbangkan semua elemen yang penting dalam hidupnya dan tentu saja hal ini akan mempengaruhi pengambilan keputusan dari seseorang. Ikigai terdiri dari empat elemen yaitu passion, mission, vocation, dan profrssion (Hapasari dan Mugiyanti, 2022).

Inti dari Ikigai adalah menyeimbangkan keempat elemen tersebut untuk mencapai tujuan hidup yang berkelanjutan. Prinsip ikigai telah terbukti mampu memberikan angka harapan hidup yang tinggi pada masyarakat jepang, yaitu pada angka 81,1 tahun pada laki-laki dan 87,1 pada perempuan (United Nations, 2022). Dengan menerapkan refleksi Ikigai dalam sustainable consumption and production, diharapkan manusia dapat mencapai adanya sustainibilitas atau ketahanan terhadap proses konsumsi dan produksi.

Baca juga : Menkumham: Wujudkan Narapidana Berketerampilan Dan Produktif

Dalam hubungannya dengan sustainable consumption and production, refleksi prinsip ikigai diperlukan untuk mencapai sustainibilitas antara elemen elemen terkait, yaitu sosial, lingkungan dan ekonomi. Elemen sosial berperan dalam menumbuhkan niat dan menjadi dasar motif seseorang dalam mengkonsumsi suatu produk. Elemen lingkungan berperan sebagai penyedia bahan baku untuk produksi produk yang akan dikonsumsi, dan elemen ekonomi sebagai faktor pendukung seseorang dalam melakukan pembelian produk yang akan dikonsumsi. Ketiga elemen ini harus seimbang untuk mencapai sustainable consumption and production.

Sustainibilitas ini merupakan refleksi dari ikigai yang sama-sama merupakan tujuan yang ingin dicapai. Dalam penerapannya, manusia harus mempertimbangkan ketiga elemen ketika akan memutuskan untuk mengkonsumsi suatu produk. Perubahan pola pikir yang terjadi akibat refleksi Ikigai dalam sustainable consumption and production adalah adanya tuntutan untuk menganalisis pengambilan keputusan dari beberapa elemen yang menjadi dasarnya. Analisis ini akan menghasilkan keputusan yang lebih tepat ketika akan memutuskan untuk mengkonsumsi suatu barang atau tidak, sehingga efek FOMO dapat dikurangi dan tidak menyebabkan adanya perilaku konsumtif yang sia-sia.

Perubahan pola pikir ini akan lebih menghasilkan efek yang lebih berimbas apabila diikuti dengan adanya penentuan hal yang benar-benar mendesak untuk dibeli dan mempertimbangkan juga dari aspek harga serta efek terhadap lingkungan baik dari tahap produksi atau setelah konsumsi dari produk tersebut. Penentuan hal-hal yang   penting untuk dibeli dapat dilakukan dengan melakukan pengelompokan dalam list belanja dan menentukan besaran belanja maksimal serta waktu belanja yang terjadwal sehingga pembelian barang diluar jadwal tersebut tidak dapat dilakukan. Perubahan pola pikir ini harus diikuti oleh sifat disiplin dan konsisten sehingga akan menimbulkan kebiasaan yang baik untuk mencapai sustainable consumption and production.

Kebiasaan baik yang ditimbulkan dari perubahan pola pikir ini dapat juga disebarluaskan kepada masyarakat lain melalui media sosial dan menggaungkan trend sustainable consumption and production melalui media sosial. Perubahan tren dari sifat yang konsumtif berlebih menjadi tren yang lebih sesuai dengan prinsip sustainibilitas ini akan menimbulkan adanya efek FOMO. Namun, efek FOMO yang ditimbulkan bersifat sehat dan sejalan dengan sustainable consumption and production. Dengan menggunakan strategi ini, saya harap sustainable consumption and production dapat tercapai dalam masyarakat yang sangat dinamis dalam bidang sosialnya.

Baca juga : Belum Vaksin, Belum Aman

Daftar Pustaka

Hapasari, PW., dan Mugiyanti, 2022. Korelasi Kebuthan Dengan Ikigai Pada Mahasiswa Program Studi Sastra Jepang Universitas Pakuan. Idea. 4(1).

United Nations. 2022

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense