RM.id Rakyat Merdeka - Ban selip di lumpur, helm terhentak di atap mobil, dan jurang mengintip di sisi jalan—begitulah cara Land Rover menyambut kami menuju jantung hutan Bodogol, tempat air terjun tersembunyi dan jembatan gantung menanti.
“Pegangan yang kenceng, kalau nggak mau nyemplung!” Teriakan sopir Land Rover pagi itu sukses bikin kami semua otomatis mencari pegangan.
Jalanan lumpur sisa hujan semalam membuat ban selip kanan-kiri, sementara di sebelah sana jurang sudah siap jadi penonton setia.
Minggu (10/8/2025) pagi baru menunjuk angka tujuh, udara sejuk pegunungan Gunung Gede Pangrango masih membungkus tubuh. Semangat kami sudah terisi penuh sejak sarapan di resort. Langit biru cerah, tapi lintasan di depan jelas bukan untuk yang lemah hati.
Baca juga : Angkatan Puisi Esai Menguat di Era AI, Tembus Panggung Internasional
Batu, lubang, dan genangan lumpur jadi menu wajib. Jantung rasanya ikut offroad—degupnya nggak kalah dari dentuman suspensi di bawah jok. “Pantes disuruh pake helm, ternyata ini kejutannya,” celetuk salah satu peserta sambil terkekeh, mencoba menutupi wajah tegangnya saat Land Rover sedikit miring di tikungan berlumpur. Yang lain hanya tertawa getir—antara seru dan ngeri tipis-tipis.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan penuh degup itu akhirnya mengantar kami masuk ke Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Di sini, sambutan hangat sudah menunggu: rebusan pisang, jagung, ubi, dan kopi hitam pekat. Sambil menyesap kopi dan memandang hijau hutan, kami mulai lupa kalau tadi hampir copot dari kursi.
Perjalanan lalu berlanjut menuju Curug Cikaweni—air terjun tersembunyi di tengah rimbunnya hutan tropis. Airnya dingin menusuk, tapi menyegarkan. Rombongan lain memilih menuju Canopy Bridge Bodogol, jembatan gantung di atas pepohonan yang menjadi jalur edukasi alam. Dari atas sini, hamparan kanopi hutan terlihat seperti lautan hijau yang tak bertepi.
Baca juga : Merebak Di Negeri Tetangga, Prabowo Pantau Kasus Covid-19
Wilayah konservasi Bodogol juga menjadi rumah bagi beragam satwa khas, seperti owa jawa (Hylobates moloch) yang suaranya sering terdengar di pagi hari, surili, lutung, hingga macan tutul jawa.
Di antara pepohonan, aneka burung endemik beterbangan, sementara kupu-kupu dan capung berwarna-warni melintas di jalur trekking.
Siang menjelang, kami kembali ke titik awal, langsung disuguhi makan siang dengan lalapan segar dan sambal pedas yang sukses bikin keringat keluar lagi. Bukan karena lelah, tapi karena sambalnya juara.
Namun, drama belum selesai. Dalam perjalanan pulang, salah satu Land Rover tiba-tiba mogok di tengah jalur. Sopir sibuk mengecek mesin, sementara penumpangnya saling pandang—antara pasrah dan geli. Akhirnya, peserta di mobil mogok itu pindah ke Land Rover lain. Perjalanan pulang pun jadi makin penuh tawa, apalagi saat bercanda bahwa “offroad kami komplit, ada jalannya, ada jurangnya, ada lumpurnya… dan ada mogoknya.”
Baca juga : Gas dari Timur, Asa untuk Energi Nasional
Petualangan ini menjadi penutup manis setelah kami mengikuti E2S Retreat 2025 di Kinasih Resort and Conference, Bogor, Sabtu, 9 Agustus 2025.
E2S Retret 2025 bertema “Collaboration to Advance The ESDM Sector” ini bukan cuma soal diskusi dan kolaborasi lintas sektor, tapi juga memberi ruang bagi peserta untuk memompa adrenalin, menantang nyali, dan menambah tawa di jalur berlumpur tepi jurang—plus bonus mogok di akhir perjalanan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.