RM.id Rakyat Merdeka - Psikiater sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc menjelaskan soal ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi fungsi akademik, sosial, hingga kinerja seseorang di dunia kerja.
Menurutnya, pemahaman yang tepat mengenai gejala, waktu konsultasi, serta penanganan ADHD adalah kunci untuk mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius.
“Penderita ADHD umumnya mengalami kesulitan memusatkan perhatian. Sangat mudah terdistraksi oleh rangsangan kecil di sekitarnya. Mereka sering tidak menyelesaikan tugas sampai tuntas, dan tampak seperti tidak mendengarkan ketika diajak berbicara," kata dr. Riati dalam keterangannya di situs resmi IPB University, Sabtu (24/1/2026).
Selain mengalami gangguan perhatian, penderita ADHD juga cenderung gelisah, sulit diam, serta banyak bergerak meskipun berada dalam situasi yang menuntut ketenangan. Perilaku impulsif seperti memotong pembicaraan atau tidak sabar menunggu giliran, juga kerap muncul.
Kapan ADHD Konsultasi ke Dokter?
Baca juga : Pakar IPB: Mentan Sukses Orkestrasi Pencapaian Swasembada Pangan
dr Riati menuturkan, konsultasi ke dokter sebaiknya segera dilakukan, bila gejala ADHD muncul sejak sebelum usia 12 tahun dan berlangsung terus-menerus selama enam bulan atau lebih.
Tanda penting lainnya adalah ketika gejala tersebut muncul di lebih dari satu lingkungan seperti di rumah, sekolah, atau tempat kerja.
“Konsultasi menjadi sangat utama ketika gejala sudah mengganggu fungsi sosial, prestasi akademik, kinerja pekerjaan, hingga menimbulkan stres berat,” ujar dr Riati.
ADHD dapat berdampak signifikan terhadap prestasi akademik maupun kinerja profesional. Penderita sering kesulitan mempertahankan fokus saat belajar atau bekerja, sehingga tugas tidak selesai tepat waktu dan hasil akademik menurun.
Baca juga : Pulihkan Sumatera, Polri Kerahkan 86 Alat Berat Ke Lokasi Bencana
Kondisi ini juga mempengaruhi motivasi dan ketekunan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. “Apabila tidak ditangani secara tepat, risiko kegagalan studi atau pekerjaan dapat meningkat,” ucapnya.
Bagaimana Menangani ADHD?
ADHD ditangani secara multimodal dengan mengombinasikan terapi obat dan non-obat. Terapi perilaku dan terapi kognitif-perilaku (CBT) dianjurkan untuk melatih regulasi diri, emosi, serta fungsi eksekutif.
Dari sisi medis, dokter dapat meresepkan obat seperti metilfenidat atau atomoksetin untuk membantu meningkatkan fokus dan mengontrol impulsivitas. Modifikasi lingkungan, dukungan keluarga, serta penerapan gaya hidup sehat juga berperan penting dalam membantu menstabilkan gejala.
"Impulsif dan tidak tepat waktu memang termasuk gejala ADHD, namun tidak selalu menandakan seseorang pasti mengalami kondisi tersebut," papar dr. Riati.
Baca juga : Puncak Arus Nataru, ASDP Pastikan Kesiapan Layanan Penyeberangan Danau Toba
“Diagnosis ADHD harus dilakukan oleh tenaga profesional dengan kriteria yang jelas dan menyeluruh,” pungkasnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.