BREAKING NEWS
 

Riset Ungkap Self-Care Efektif Kurangi Beban Sistem Kesehatan

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : FAQIH MUBAROK
Selasa, 28 Juli 2026 19:46 WIB
Praktik perawatan diri (self-care) yang terintegrasi dengan sistem kesehatan dinilai mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

RM.id  Rakyat Merdeka - Praktik perawatan diri (self-care) yang terintegrasi dengan sistem kesehatan dinilai mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, memperluas akses layanan kesehatan, sekaligus mengurangi beban sistem kesehatan yang saat ini menghadapi berbagai tantangan.

Bahkan, praktik tersebut diperkirakan dapat memberikan manfaat ekonomi hingga sekitar 179 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per tahun.

Temuan itu diungkap dalam riset terbaru Economist Enterprise bertajuk Making Self-Care Work: Integrating Self-Care into Health Systems.

Dengan dukungan Bayer, riset Economist Enterprise menyebutkan self-care dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam membantu negara mewujudkan Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage/UHC).

Menurut riset tersebut, sistem kesehatan di banyak negara kini menghadapi tekanan akibat meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, tingginya kasus penyakit kronis, kekurangan tenaga kesehatan, serta ketimpangan akses layanan.

Baca juga : Kejagung Ungkap Alasan Eks Jampidsus Masih Berstatus Saksi

Dalam kondisi itu, self-care dinilai mampu meningkatkan hasil kesehatan (health outcomes), memperluas akses pelayanan, dan mendukung keberlanjutan sistem kesehatan. Riset itu menekankan self-care akan memberikan manfaat optimal apabila menjadi bagian dari sistem kesehatan formal yang didukung informasi tepercaya, akses yang terjangkau, serta mekanisme rujukan yang jelas.

Scientist pada Department of Sexual, Reproductive, Maternal, Child, Adolescent Health and Ageing World Health Organization (WHO), Manjulaa Narasimhan mengatakan self-care merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan.

"Dengan bukti klinis, kebijakan yang mendukung, serta tenaga kesehatan yang terlatih, self-care dapat berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat," kata Manjulaa dalam riset yang dipublikasi Economist Enterprise, seperti dikutip Selasa (28/7/2026).

Mengacu pada definisi WHO, self-care merupakan kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, serta mengelola kondisi kesehatannya. Praktik tersebut mencakup perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pemanfaatan perangkat digital, pemantauan kesehatan secara mandiri, hingga penggunaan obat bebas atau over-the-counter (OTC).

Adsense

Riset Economist Enterprise juga menegaskan bahwa self-care bukan pengganti layanan kesehatan formal, melainkan pelengkap yang akan bekerja optimal jika didukung sistem kesehatan.

Baca juga : Bhinneka Life dan Kuching Specialist Hospital Perkuat Perlindungan Kesehatan

Dengan dukungan informasi yang kredibel, akses yang mudah, dan jalur rujukan yang jelas, self-care mampu memperluas akses layanan kesehatan, memperkuat upaya pencegahan dan intervensi dini, meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan, serta mengurangi beban layanan kesehatan.

Member of the Bayer Board of Management sekaligus President Consumer Health, Julio Triana mengatakan solusi self-care seperti perangkat digital, obat bebas yang aman, suplemen nutrisi, dan informasi kesehatan berbasis bukti menjadi fondasi penting untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan global.

"Kami ingin memberdayakan masyarakat agar mampu mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatannya. Namun, self-care harus didukung informasi berbasis bukti, standar yang ketat, serta jalur rujukan yang jelas menuju layanan kesehatan profesional," sambung Julio.

Riset tersebut juga mengidentifikasi tiga prioritas agar self-care dapat menjadi bagian efektif dari sistem kesehatan, yakni memperkuat implementasi kebijakan, memperluas akses melalui dukungan yang tepercaya dan merata, serta memperkuat bukti ilmiah, pengukuran, dan akuntabilitas.

Sejumlah negara telah mulai mengintegrasikan self-care ke dalam sistem layanan kesehatan. Jerman, misalnya, menerapkan skema green prescription yang memungkinkan dokter meresepkan obat bebas sebagai bagian dari terapi mandiri dengan panduan medis.

Baca juga : Akademisi Unpad Dorong Evaluasi DMO dan RKAB demi Keandalan Sistem Kelistrikan

Sementara di Indonesia, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) terus mendorong penerapan gaya hidup sehat, edukasi kesehatan, sanitasi, serta penggunaan obat secara bertanggung jawab.

Director General Global Self-Care Federation, Greg Perry, menegaskan bahwa self-care tidak dimaksudkan untuk mengalihkan tanggung jawab dari sistem kesehatan.

"Produk dan layanan self-care berbasis bukti serta obat bebas yang didukung informasi akurat justru menciptakan ruang kapasitas bagi sistem layanan kesehatan sehingga pasien dapat memperoleh penanganan medis di fasilitas kesehatan secara tepat waktu ketika benar-benar membutuhkannya," ujar Greg.

Riset Economist Enterprise menyimpulkan penguatan tata kelola, pembiayaan, akuntabilitas dan sistem pendukung akan menjadikan self-care sebagai solusi yang hemat biaya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense