BREAKING NEWS
 

Gigi Tiruan Sudah Bagus, Kok Masih Tak Nyaman? Psikologi Ternyata Ikut Berperan

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 27 Agustus 2026 12:58 WIB
Pemasangan gigi tiruan. (Foto: Dok. Universitas Trisakti)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak pasien mengeluh meski sudah memakai gigi tiruan dengan kualitas terbaik. "Dok, saya masih belum nyaman menggunakan gigi tiruannya, padahal gigi tiruannya sudah sangat bagus". 

Keluhan seperti ini, menurut drg. Eka Seftiana Indah Sari, Sp.Pros dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, cukup sering terjadi. 

"Keberhasilan perawatan gigi tiruan ternyata tidak hanya bergantung pada seberapa pas, kuat, atau bagus gigi tiruan tersebut. Kondisi psikologis, harapan, dan kemampuan pasien beradaptasi juga ikut menentukan," ujar drg. Eka.

Bukan Hanya Soal Fungsi Mengunyah

Kehilangan gigi, kata drg. Eka, bukan hanya menyebabkan kesulitan mengunyah. Dampaknya juga bisa ke penampilan, cara berbicara, kepercayaan diri, hingga kenyamanan saat bersosialisasi. 

Baca juga : Universitas Trisakti Dampingi BUMDes Wangunjaya Ternak Ayam Berkelanjutan

Penelitian menunjukkan, kehilangan gigi berkaitan dengan penurunan kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan mulut. "Jadi ketika seseorang mendapatkan gigi tiruan, yang dipulihkan bukan hanya fungsi giginya, tetapi juga kenyamanan dan rasa percaya dirinya," jelasnya.

Perlu Waktu Adaptasi

Gigi tiruan adalah benda baru di dalam mulut. Saat awal pemakaian, pasien bisa merasakan mulut terasa penuh, suara berubah saat berbicara, atau masih sulit mengunyah.

Adsense

Hal itu bukan berarti perawatan gagal. Otak, lidah, dan otot-otot di sekitar mulut butuh waktu untuk beradaptasi dengan gigi tiruan baru.

"Pasien yang memahami proses adaptasi biasanya punya harapan lebih realistis dibanding yang berharap gigi tiruan langsung terasa sama seperti gigi asli," kata drg. Eka.

Baca juga : Universitas Trisakti Gelar PKM Internasional Migrant Money Guide di Ho Chi Minh

Sebuah tinjauan ilmiah terbaru juga menyebut kepuasan pengguna gigi tiruan dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari kenyamanan, kestabilan, kemampuan mengunyah, penampilan, hingga pengalaman pasien, faktor psikologis, kepribadian, dan kemampuan komunikasi dokter gigi.

Harapan Realistis Kunci Kepuasan

drg. Eka memberi contoh 2 pasien dengan gigi tiruan kualitas sama. Pasien pertama memahami perlu waktu belajar mengunyah dan berbicara. Pasien kedua berharap langsung persis seperti gigi asli. 

Hasilnya, tingkat kepuasan keduanya bisa berbeda meski hasil teknisnya sama. "Oleh karena itu dokter gigi perlu tahu apa yang sebenarnya diharapkan pasien. Mengetahui tipe kepribadian pasien juga penting untuk meningkatkan komunikasi selama perawatan," ujarnya.

Kapan Disebut Berhasil?

Menurut drg. Eka, gigi tiruan yang terlihat sempurna belum tentu berhasil jika akhirnya tidak digunakan pasien.

Baca juga : PKM Internasional Universitas Trisakti Hadir di Vietnam

"Keberhasilan tercapai ketika gigi tiruan bisa membantu makan lebih nyaman, berbicara baik, tersenyum lebih percaya diri, dan kembali beraktivitas tanpa merasa terganggu," terangnya.

Ia menekankan, perawatan gigi tiruan tidak hanya melihat "gigi yang hilang", tetapi juga memahami orang di balik senyum tersebut. Keberhasilan akhir adalah hasil kerja sama antara kualitas perawatan, komunikasi, harapan realistis, dan kemampuan pasien beradaptasi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense