Sebelumnya
Metodenya disebut PRNT (Plaque Reduction Netralization Test). Untuk menimbulkan infeksi, diperlukan sejumlah virus dalam jumlah minimal tertentu.
Bila sudah bisa dikurangi sampai sekian persennya, infeksi dapat dicegah. Tidak harus 100 persen. Ada yang melaporkan cukup 30 persen. Bahkan cukup 20 persen. Tentu saja, semakin tinggi, risikonya semakin kecil.
Pada sebuah laporan awal, untuk mencapai 50 persen PRNT diperlukan kadar 54 BAU/mL. Untuk mencapai 90 persen, PRNT diperlukan sekitar 77 BAU/mL.
Baca juga : Bangkitkan Ekonomi, Vaksinasi Covid-19 Butuh Dukungan Masyarakat
"Tapi, itu semua masih laporan awal. Belum dapat dipastikan. Satu hal, dari beberapa laporan awal tersebut, yang dibutuhkan sebenarnya tidak tinggi sekali. Maka, ada baiknya kita tidak gelisah hanya karena hasil tetangga sebelah kok tinggi sekali," jelas Tonang.
Pada penyintas, titer antibodi lebih bervariasi. Pada kelompok tanpa gejala, bila diperiksa 1 bulan setelah sembuh, tinggal 46 persen yang masih ada antibodinya. Hanya 1-4 persen penyintas tanpa gejala, yang antibodinya tahan lama.
Pada kelompok ringan-sedang, rata-rata menurun setelah 3 bulan. Sebagian menurun tajam, sehingga banyak yang tidak segera terdeteksi.
Baca juga : Puan Tinjau Vaksinasi Sekolah, Siswa Bahagia Kembali PTM
Hanya pada kelompok berat-kritis, antibodi cenderung bertahan relatif lama.
Ada juga yang menyebut, kalau antibodi yang terlalu tinggi, bisa memicu badai sitokin bila suatu saat terinfeksi lagi. Soal ini, Tonang membantah.
"Itu tidak benar. Kalau titernya cukup, antibodi bisa segera menghadang. Harapannya, tidak sempat memicu badai sitokin. Hanya , tidak perlu juga kita berharap harus tinggi," pungkas Tonang. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.