RM.id Rakyat Merdeka - Kaum lelaki mesti lebih hati-hati tertular cacar monyet atau Monkeypox (Mpox). Sebab, ternyata lelaki lebih rentan terkena penyakit tersebut. Terutama, laki-laki berusia 20-40 tahun yang memiliki orientasi seksual homoseksual, biseksual dan penderita HIV.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan, pihaknya terus menjalankan sistem cegah tangkal terhadap Mpox. Yakni dengan melakukan promosi kesehatan terkait pencegahan dan penularan, pelaporan penemuan kasus melalui rumah sakit dan puskesmas, serta studi kasus kontrol yang memberikan rekomendasi penanganan.
Ani mengungkapkan, gambaran klinis yang dapat dijumpai pada pasien Mpox pada wabah 2022 dan 2023 lalu berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, kelelahan tubuh (fatigue) disertai ruam atau lesi berupa lenting atau gelembung kecil keputihan dengan bagian tengah yang berwarna gelap.
Baca juga : Tenis China Open 2024, Petenis Top Dunia Mundur
Keterangan lebih detail tentang lesi pada Mpox, papar Ani, lesi sering terjadi di daerah genital, dubur atau di dalam mulut dan biasanya berawal dari wajah dan/atau genital. Lalu, lesi tidak selalu menyebar di banyak tempat di tubuh. Bisa terbatas pada beberapa lesi saja, bahkan bisa hanya satu lesi. Kemudian, lesi sering terasa nyeri kecuali saat penyembuhan (menjadi gatal).
“Dengan langkah-langkah yang terus dilakukan, diharapkan kasus Mpox di Jakarta dapat diminimalisasi. Dan, masyarakat tetap waspada serta berperan aktif dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit ini,” ujarnya.
Praktisi kesehatan masyarakat, Ngabila Salama mengatakan, dari data epidemiologi di Indonesia, ada empat faktor yang sangat mempengaruhi seseorang bisa terinfeksi Mpox. Pertama, kelompok populasi Lelaki Suka Lelaki (LSL). Kedua, pria berusia 20-40 tahun. Ketiga, memiliki status HIV plus. Keempat, kelompok LSL yang belum pernah mendapat vaksinasi Mpox lengkap 2 dosis, selang pemberian 1 bulan.
Baca juga : Tamara Tyasmara, Sedikit Lega Mantan Dituntut Hukuman Mati
Ngabila menuturkan, Mpox di Jakarta bisa turun dari 58 kasus pada 2023 menjadi hanya 11 kasus pada 2024 karena transmisi lokal kasus.
“Saat 2023, setiap kasus positif langsung dilakukan isolasi di rumah sakit walau hanya bergejala ringan atau tanpa gejala,” kata Ngabila, Senin (23/9/2024).
Menurutnya, mata rantai penularan belum putus karena ada beberapa faktor. Antara lain, adanya ketakutan terstigma masyarakat sehingga terjadi missing cases karena pasien yang bergejala enggan datang berobat ke fasilitas kesehatan dan sembuh dengan sendirinya (infeksi virus self limiting disease).
Baca juga : Tanpa Oposisi, DPR Ompong
“Surveilans Mpox perlu terus ditingkatkan untuk menurunkan missing case. Positivity rate, case fatality rate harus dijaga rendah,” tegasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.