BREAKING NEWS
 

Puluhan Orang Terinfeksi Di Jakarta

Lelaki Penyuka Sesama Jenis Rawan Kena Mpox

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : MARULA SARDI
Rabu, 25 September 2024 06:50 WIB
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati. (Foto: KOMPAS.com/Tria Sutrisna)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kaum lelaki mesti lebih hati-hati tertular cacar monyet atau Monkeypox (Mpox). Sebab, ternyata lelaki lebih rentan terkena penyakit tersebut. Terutama, laki-laki berusia 20-40 tahun yang memiliki orientasi seksual homoseksual, biseksual dan penderita HIV.

Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan, pihaknya terus menjalankan sistem cegah tangkal terhadap Mpox. Yakni dengan melakukan promosi kesehatan terkait pence­gahan dan penularan, pelaporan penemuan kasus melalui rumah sakit dan puskesmas, serta studi kasus kontrol yang memberikan rekomendasi penanganan.

Ani mengungkapkan, gamba­ran klinis yang dapat dijumpai pada pasien Mpox pada wabah 2022 dan 2023 lalu berupa de­mam, sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, kelelahan tubuh (fatigue) disertai ruam atau lesi berupa lenting atau gelembung kecil keputihan dengan bagian tengah yang berwarna gelap.

Baca juga : Tenis China Open 2024, Petenis Top Dunia Mundur

Keterangan lebih detail tentang lesi pada Mpox, papar Ani, lesi sering terjadi di daerah genital, dubur atau di dalam mulut dan biasanya berawal dari wajah dan/atau genital. Lalu, lesi tidak selalu menyebar di banyak tem­pat di tubuh. Bisa terbatas pada beberapa lesi saja, bahkan bisa hanya satu lesi. Kemudian, lesi sering terasa nyeri kecuali saat penyembuhan (menjadi gatal).

“Dengan langkah-langkah yang terus dilakukan, diharap­kan kasus Mpox di Jakarta dapat diminimalisasi. Dan, masyarakat tetap waspada serta berperan ak­tif dalam upaya pencegahan pe­nyebaran penyakit ini,” ujarnya.

Praktisi kesehatan masyara­kat, Ngabila Salama mengatakan, dari data epidemiologi di Indonesia, ada empat faktor yang sangat mempengaruhi seseorang bisa terinfeksi Mpox. Pertama, kelompok populasi Le­laki Suka Lelaki (LSL). Kedua, pria berusia 20-40 tahun. Ketiga, memiliki status HIV plus. Ke­empat, kelompok LSL yang be­lum pernah mendapat vaksinasi Mpox lengkap 2 dosis, selang pemberian 1 bulan.

Baca juga : Tamara Tyasmara, Sedikit Lega Mantan Dituntut Hukuman Mati

Ngabila menuturkan, Mpox di Jakarta bisa turun dari 58 kasus pada 2023 menjadi hanya 11 ka­sus pada 2024 karena transmisi lokal kasus.

“Saat 2023, setiap kasus posi­tif langsung dilakukan isolasi di rumah sakit walau hanya berge­jala ringan atau tanpa gejala,” kata Ngabila, Senin (23/9/2024).

Menurutnya, mata rantai penu­laran belum putus karena ada be­berapa faktor. Antara lain, adanya ketakutan terstigma masyarakat sehingga terjadi missing cas­es karena pasien yang bergejala enggan datang berobat ke fasilitas kesehatan dan sembuh dengan sendirinya (infeksi virus self limiting disease).

Adsense

Baca juga : Tanpa Oposisi, DPR Ompong

“Surveilans Mpox perlu terus ditingkatkan untuk menurunkan missing case. Positivity rate, case fatality rate harus dijaga rendah,” tegasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense