Sebelumnya
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, kerugian akibat fenomena rob di pesisir Jakarta mencapai Rp 2,1 triliun per tahun.
Menurutnya, nilai kerugian ekonomi itu akan terus meningkat dari tahun ke tahun, bila fenomena banjir rob tak segera diatasi.
Diketahui, banjir rob adalah fenomena alam yang terjadi ketika air laut meluap ke daratan dan menggenangi wilayah pesisir yang biasanya tidak terendam air. Fenomena ini berbeda dengan banjir, yang disebabkan curah hujan tinggi.
Baca juga : 3 KPK Gadungan Dicokok Di Hotel
Banjir rob biasanya terjadi saat pasang laut mencapai ketinggian yang lebih dari biasanya, sehingga air laut masuk ke area daratan, bahkan ke permukiman yang berada di dekat pantai.
Dalam beberapa kasus, fenomena ini dapat terjadi secara berkala. Terutama di daerah yang memiliki topografi rendah.
Di media sosial X, perbincangan netizen terkait salah satu masalah klasik Jakarta, banjir rob, tidak pernah surut. Banyak netizen menghubungkan masalah tersebut dengan tingkat kepadatan penduduk di Jakarta.
Baca juga : Top, Laba BSI 2024 Tumbuh Double Digit
“Akar masalahnya, Jakarta itu terlalu padat. Daerah serapan air dan wilayah lalu lintas air rob, banyak yang berubah jadi rumah dan jalan. Dulu, ini pernah jadi bahan diskusi dosenku. Ingat, banjir rob itu mekanisme alam yang kita nggak bisa intervensi,” tulis akun @AzharaMars22.
“Kalau kita lihat peta Jakarta di era penjajahan Belanda, wilayah pesisir itu tanah kosong. Jadi, kalau saat itu terjadi bencana rob, mungkin dampaknya nggak terlalu besar. Sekarang, kalau kita datang ke Mangga Dua, isinya rumah. Ke Penjaringan, juga pemukiman padat, ke Kapuk apalagi. Padat banget,” timpal akun @pangeranbertopenghitaaams.
Akun @anonimman137997 meminta Pemprov Jakarta dan Pemerintah Daerah (Pemda) di sekitarnya melakukan terobosan untuk mengantisipasi bencana tahunan.
Baca juga : Indonesia Siap Jadi Pusat Industri Kecantikan Dunia
“Kok kita jadi akrab ya sama bencana? Seolah itu wajar terjadi setiap tahun! Saran gue, penghijauan di Jabodetabek diperbanyak. Mau pakai istilah reboisasi, penanaman kembali, whatever. Terpenting, bangunan baru, mall, apartemen, pelan-pelan dikurangi, dan AMDAL dikuatkan,” cuitnya.
“Sampai kapanpun Jakarta akan tetap banjir dan rob. Kenapa begitu? Wong tanahnya turun terus. Belum lagi nyedot air sumurnya gila-gilaan,” cuit akun @pembasot77.
“Mungkin kalau ibu kota segera pindah ke IKN, masalah kepadatan penduduk di Jakarta akan hilang. Mungkin loh ya,” sahut akun @bend3372389. [SSL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.