RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo menyoroti berbagai kebijakan yang dikeluarkan Perumda PAM Jaya. Salah satunya, penyesuaian tarif demi pelayanan yang lebih baik.
Rio mengatakan, secara historis PAM Jaya memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, dia memahami penyesuaian tarif ini dilakukan untuk peningkatan pelayanan. Apalagi komoditi air minum dari PAM Jaya tidak pernah melakukan penyesuaian sejak 2007 lalu, sedangkan komoditi lain sudah sering terjadi perubahan.
"Yang lain inflasi umum sampai 100 persen, air kemasan itu sampai 300 persen, minyak goreng sampai 200 persen, Kemudian BBM sampai sekitar 100 sekian persen," kata Rio saat Balkoters Talk bertajuk 'Upaya Tingkatkan Layanan Air Jakarta' di Pressroom Balai Kota DKI, Rabu (12/2/2025).
Baca juga : AMPI Dukung Penuh Kebijakan Partai Golkar dan Pemerintahan Prabowo-Gibran
"Persoalannya adalah janji manisnya itu nggak kesampaian, hingga ada satu proses transformasi, ada suplai oleh PT Moya Indonesia," sambung dia.
Bisnis pengelolaan air di Jakarta oleh PT Moya hanya dilakukan di enam Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik PAM Jaya. Sedangkan tujuh IPA lainnya tetap dikelola PAM Jaya.
Rio juga mengapresiasi target realistis yang dipatok perseroan daerah itu. PAM Jaya menargetkan, 2030 cakupan pelayanan air minum mencapai 100 persen atau 2 juta sambungan pipa.
"Atau dari 68-69 persen menjadi 100 persen layanan," ucap Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta ini.
Baca juga : Jumbo, Anggaran Kesejahteraan Anggota DPRD DKI Jakarta Rp 168 Miliar Setahun
Direktur Pelayanan Perumda PAM Jaya Syahrul Hasan mengatakan, air yang diolah perseroan memang memiliki standar yang layak minum. Hal ini mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.
"Dalam konteks output nya untuk menyediakan air, dari sisi kualitas, kontinuitas dan keterjangkauan ini memang standarnya harus air minum," ujarnya.
Syahrul tak menampik begitu banyak tantangan yang dihadapi perseroan daerah untuk mengubah kebiasaan masyarakat dari menggunakan air tanah ke air perpipaan.
Salah satu wilayah yang paling dominan menggunakan air tanah adalah Jakarta Selatan, sehingga PAM Jaya membangun IPA Ciliwung dan IPA Pesanggrahan untuk menambah jumlah pelanggan dari wilayah tersebut.
Baca juga : Geledah Rumah Anggota DPR di Cirebon, KPK Endus Dugaan Penyimpangan Dana CSR BI
"Nah yang menjadi challenge (tantangan) buat kami, paling utama adalah bagaimana men-shifting warga Jakarta yang sudah belasan maupun puluhan tahun tinggal di wilayah tersebut (Jakarta Selatan), kemudian akan menjadi pelanggan PAM Jaya," katanya.
Menurut dia, penggunaan air perpipaan memang harus diedukasi kepada seluruh masyarakat. Secara kasat mata mereka memang tidak dikenakan tarif air, padahal mereka harus membayar tagihan listrik untuk menyedot air dari bawah tanah.
"Kalau sudah mulai cetekin (menyalakan) listrik untuk (pompa) jet pump langsung naik kan, itu berapa rupiah yang harus dibayarkan menggunakan token-token yang ada di rumah masing-masing," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.