RM.id Rakyat Merdeka - Bencana banjir bandang yang melanda Jabodetabek awal Maret lalu mengingatkan kembali pentingnya mitigasi yang berkelanjutan.
Menyikapi itu, Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) Universitas Bakrie menggelar Mindshare Meetup ke-3 bertema “Mitigasi Bencana Banjir: Upaya Pengurangan Risiko dan Tata Kelola Perkotaan” di Auditorium Kampus Bakrie Tower Lantai 42 pada Jumat (21/3)
"Ini untuk membangun pemahaman yang lebih luas terkait penanganan banjir dari perspektif tata kelola perkotaan, kebijakan publik, hingga peran masyarakat," kata Ketua LPkM Universitas Bakrie, Prof. Ardiansyah dalam keterangannya, Senin (24/3).
Budianto Ontowirjo, Ph.D, dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Bakrie, menjelaskan bahwa banjir besar awal Maret lalu merupakan dampak cuaca ekstrem akibat dinamika atmosfer yang kompleks.
Baca juga : Gubernur Kaltim: Terminal Peti Kemas Kariangau Strategis Hasilkan PAD
Curah hujan tinggi yang berlangsung lama mengakibatkan genangan di berbagai titik, terutama di DAS Kali Bekasi. Kondisi ini diperparah oleh kurang optimalnya saluran drainase dan alih fungsi lahan di perkotaan yang terus meningkat.
“Salah satu solusi yang kami rekomendasikan adalah optimalisasi ruang limpah sungai untuk menampung debit air berlebih, disertai penguatan sistem drainase perkotaan. Selain itu, sumur resapan dan edukasi mitigasi bencana untuk warga juga harus jadi prioritas” ujar Budianto.
Dosen Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie, Bani Pamungkas menambahkan, permasalahan banjir di Jabodetabek tidak lepas dari dinamika tata kelola wilayah yang kurang terintegrasi.
“Sejak zaman kolonial hingga milenial, kebijakan mitigasi banjir di Jakarta dan sekitarnya cenderung didominasi solusi berbasis infrastruktur, seperti pembangunan kanal dan tanggul,” jelas Bani Pamungkas.
Baca juga : Gubernur Dedi, Bupati Bogor & Tri Bahas Strategi Jangka Panjang Atasi Banjir
Ia menambahkan “Kini, kita harus lebih serius mempertimbangkan pendekatan ekologis seperti restorasi lahan basah, kawasan hijau kota, dan adaptasi tata ruang yang berkelanjutan” jelasnya.
Lebih lanjut, dia menyoroti pentingnya integrasi kebijakan antarwilayah Jabodetabek dalam menghadapi tantangan urbanisasi.
Menurutnya, tantangan besar Jabodetabek adalah menyeimbangkan pembangunan dengan konservasi lingkungan.
Kegiatan ini dihadiri dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan Universitas Bakrie ini berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi tentang berbagai aspek mitigasi banjir.
Baca juga : AMPI Gercep Beri Bantuan untuk Korban Banjir di Jabodetabek
Di akhir acara, Prof. Ardiansyah menegaskan, mitigasi banjir bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, sinergi lintas sektor serta kontribusi masyarakat sangat diperlukan agar upaya mitigasi bisa efektif dan berkelanjutan.
“LPkM Universitas Bakrie berkomitmen untuk terus menyelenggarakan forum diskusi ilmiah seperti ini untuk menghasilkan rekomendasi nyata dalam memitigasi berbagai persoalan perkotaan, khususnya banjir” pungkasnya.
Acara ini merupakan bagian dari kontribusi LPkM Universitas Bakrie terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin ke-11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.