RM.id Rakyat Merdeka - Revitalisasi Terminal bus Blok M meningkatkan daya tarik masyarakat menggunakan fasilitas tersebut menjadi titik untuk berpindah jalur bus transportasi umum. Hanya saja, pembenahan itu belum diikuti pembaharuan plang informasi sehingga banyak penumpang kebingungan.
Siapa yang tidak kenal Blok M? Pada 1990-an, wilayah yang berada di Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini, menjadi salah satu tempat nongkrong favorit remaja Jakarta dan sekitarnya.
Blok M dikenal sebagai pusat aktivitas komersial, kuliner dan hiburan, dengan harga yang terjangkau. Bahkan, pada 1990-an hingga awal 2000-an, model atau jenis yang dijual di Blok M, menjadi trendsetter remaja ketika itu.
Baca juga : Chelsea Olivia: Jantung Berdetak Saat Dekat Suami
Akses menuju Blok M mudah dijangkau, karena keberadaan Terminal Blok M. Terminal ini menjadi pusat pertemuan transportasi utama yang menghubungkan berbagai wilayah di Jakarta, dengan hadirnya bus Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD), Kopaja dan Metromini, yang menjadi moda transportasi andalan kala itu.
Untuk memfasilitasi aktivitas dan beragam moda transportasi, pada Desember 1990, Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta Wiyogo Atmodarminto merevitalisasi Terminal Blok M. Konsepnya menggabungkan bangunan terminal dengan pusat perbelanjaan, yang dikenal sebagai Blok M Mall. Letaknya di lantai basement terminal ini. Revitalisasi selesai pada 3 Oktober 1992.
Terminal Blok M memiliki enam lajur yang dapat diakses melalui Blok M Mall. Lajur-lajur ini untuk memisahkan bus sesuai trayeknya. Namun, seiring berkembangnya moda transportasi Bus Transjakarta yang mulai beroperasi di koridor 1 Blok M-Kota pada 15 Januari 2004, kehadiran PPD, Kopaja dan Metromini mulai tersingkir. Beberapa tahun kemudian, punah.
Baca juga : Indonesia Ungguli Malaysia, Singapura Dan Thailand
Lajur-lajur di Terminal Blok M pun “dikuasai” moda transportasi PT Transportasi Jakarta (Transjakarta). Transjakarta menggunakan empat lajur. Lajur pertama merupakan Halte Transjakarta untuk layanan bus rapid transit (BRT). Lajur kedua dan ketiga untuk layanan bus kota Transjakarta non-BRT. Lajur keempat untuk layanan Mikrotrans dan Royaltrans.
Sedangkan layanan selain Transjakarta, dikenal sebagai Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB), seperti Transjabodetabek dan DAMRI, diakses melalui lajur kelima dan keenam. Tapi, lajur keenam khusus untuk layanan DAMRI menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.
Namun, perubahan lajur dan moda transportasi itu, belum dibarengi penggantian informasi di plang penunjuk yang dipasang di setiap lajur. Kondisi ini membuat banyak penumpang bingung. Mereka tidak tahu bus yang ingin dinaikinya berada di lajur berapa.
Baca juga : Negosiasi Jalan Terus
Hal ini dikeluhkan pembaca koran Rakyat Merdeka melalui WhatsApp (WA). “Kepada PT Transjakarta, mohon perhatikan papan penunjuk arah di ruang bawah Terminal Blok M, Jakarta Selatan. Informasi tentang rute dan koridor belum diperbarui dan masih membingungkan. Misalnya, koridor 1 dan koridor lainnya, tidak jelas arah dan tujuannya. Harap segera diperbaiki,” demikian pesan dari 089934762XXX itu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.