BREAKING NEWS
 

Menghidupkan Kembali Gambut Pulang Pisau: Ekspedisi 3R Sobat Muda bersama BRGM

Writer : Chastine Ignasia Admantin
Editor : UJANG SUNDA
Sabtu, 6 Juli 2024 22:46 WIB
Penyerahan sertifikat dari panitia BRGM kepada volunteer kegiatan Expedisi Sobat Muda Menelusuri Gambut, di Camppeat KHDTK Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, 22 Juni 2024. (Foto: Istimewa)

Indonesia kaya akan sumber daya alam, salah satunya adalah ekosistem gambut. Ekosistem ini memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan iklim global. Baru-baru ini, saya berkesempatan mengikuti ekspedisi "Sobat Muda Menelusuri Gambut" yang diadakan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Program ini berlangsung dari tanggal 19 hingga 21 di Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Selatan. Melalui perjalanan ini, saya belajar banyak tentang pentingnya menjaga dan merestorasi lahan gambut.

Program "Sobat Muda Menelusuri Gambut" bertujuan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya ekosistem gambut dan mengajak mereka terlibat langsung dalam kegiatan konservasi. Selama program, para peserta diajak untuk memahami secara mendalam tentang proses rewetting, revegetasi, dan revitalisasi mata pencaharian masyarakat di lingkungan gambut. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung dalam upaya pelestarian lingkungan, serta pemahaman tentang kompleksitas dan urgensi pengelolaan ekosistem gambut.

Kabupaten Pulang Pisau memiliki hamparan lahan gambut yang luas dan vital. Gambut di daerah ini kaya akan karbon dan berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem. Namun, kekayaan ini juga membawa tantangan tersendiri, terutama terkait dengan kerawanan bencana. Lahan gambut rentan terhadap kebakaran, terutama saat musim kemarau. Oleh karena itu, BRGM telah mengimplementasikan berbagai upaya mitigasi bencana, seperti pembentukan sumur bor dan alat pantau tinggi muka air.

Kondisi Alam Ekosistem Gambut

Ekosistem gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik selama ribuan tahun, memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap dan menyimpan air. Saat menginjak tanah gambut, terasa jelas teksturnya yang lembut, elastis, dan seolah-olah kita berjalan di atas spons raksasa. Kemampuan penyerapan air ini menjadikan ekosistem gambut sebagai penyimpan karbon alami yang sangat efektif, berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim global. Flora di ekosistem gambut menunjukkan adaptasi khusus terhadap lingkungan yang kaya air namun miskin nutrisi. Pohon-pohon seperti Jelutung (Dyera costulata), Kelakai (Stenochlaena Palustris) Karamunting (Rhodomyrtus Tomentosa) tumbuh subur, dengan sistem perakaran yang unik untuk bertahan di tanah yang tergenang. 

Kondisi lahan gambut di Desa Tumbang Nusa serta kanal yang berfungsi menjaga kelembaban tanah (Dok. Pribadi)

Baca juga : Petugas KCIC Kembalikan Amplop Penumpang Berisi Rp 50 Juta Yang Tertinggal

BP2LHK Banjarbaru telah mengelola Hutan Penelitian di kawasan lahan rawa gambut Tumbang Nusa sejak tahun 1998. Hutan Penelitian ini berstatus sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 76/Menhut-II/2005 tertanggal 31 Maret 2005. KHDTK Tumbang Nusa mencakup area seluas 5.000 hektar dan terletak dalam kawasan hutan produksi tetap di provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Kunjungan Bapak Wakil Menteri Lingkungan Hidup Drs. Alue Dohong, M.Sc., Ph.D. di Camppeat KHDTK Tumbang Nusa
(Dok. Pribadi)

Sebelum menjadi KHDTK, Tumbang Nusa merupakan bagian dari wilayah konsesi HPH PT Arjuna Wiwaha yang ditetapkan melalui SK Nomor 08/Kpts/Um/6/1978 tanggal 4 Januari 1978 dengan luas 92.000 hektar, yang masa izinnya berakhir pada 4 Januari 1998. KHDTK Tumbang Nusa merupakan satu-satunya hutan penelitian rawa gambut yang dimiliki oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (Badan Litbang Kehutanan) di antara 33 KHDTK yang ada di seluruh Indonesia.

Kerawanan Bencana

Meskipun memiliki peran ekologis yang vital, ekosistem gambut juga menghadapi berbagai ancaman bencana. Risiko kebakaran lahan meningkat drastis saat musim kemarau, ketika lapisan gambut mengering dan menjadi sangat mudah terbakar. Kebakaran gambut sangat sulit dipadamkan karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah, menghasilkan asap tebal yang berbahaya bagi kesehatan dan berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon global. Ketika gambut mengering dan terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun dilepaskan ke atmosfer, semakin memperparah pemanasan global. Hal ini menunjukkan betapa kritisnya peran ekosistem gambut dalam konteks perubahan iklim global dan pentingnya upaya konservasi yang komprehensif.

Isu dan Hambatan

Masyarakat di kawasan gambut menghadapi berbagai isu dan hambatan dalam upaya pelestarian ekosistem sekaligus peningkatan taraf hidup. Salah satu tantangan utama adalah konflik kepentingan antara upaya konservasi dan keinginan untuk pembangunan ekonomi. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk melestarikan ekosistem gambut demi keberlanjutan lingkungan global namun, masyarakat lokal memiliki aspirasi legitimate untuk meningkatkan kesejahteraan mereka melalui pemanfaatan sumber daya alam. Tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat sekitar gambut juga tidak bisa diabaikan. Keterbatasan akses terhadap pasar, infrastruktur yang minim, dan kurangnya alternatif mata pencaharian yang berkelanjutan seringkali mendorong praktik-praktik yang tidak ramah lingkungan, seperti pembukaan lahan gambut untuk pertanian skala besar.

Implementasi Program 3R

Program 3R yang saya pelajari selama kegiatan lapangan merupakan contoh nyata upaya komprehensif dalam pengelolaan dan restorasi ekosistem gambut. Rewetting atau pembasahan kembali merupakan langkah krusial dalam mengembalikan fungsi hidrologi gambut. Teknik ini melibatkan penutupan kanal-kanal drainase dan pembangunan sekat-sekat air untuk mengembalikan tingkat kebasahan gambut ke kondisi alaminya. Selama kunjungan, saya menyaksikan bagaimana pembasahan kembali tidak hanya mencegah kebakaran, tetapi juga membantu memulihkan habitat bagi flora dan fauna khas gambut.

Pelibatan masyarakat lokal dalam penyemaian bibit flora ungggulan di KHDTK Tumbang Nusa
(Dok. Pribadi)
Pembangunan sekat kanal semipermanen di Desa Tumbang Nusa
(Dok. Pribadi)

Revegetasi fokus pada penanaman kembali jenis-jenis tanaman asli gambut. Proses ini tidak sesederhana hanya menanam pohon, tetapi memerlukan pemahaman mendalam tentang ekologi gambut. Spesies yang dipilih harus mampu bertahan dalam kondisi tanah gambut yang unik dan berperan dalam memulihkan fungsi ekosistem. Revitalisasi mata pencaharian penduduk lokal bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal dalam rangka mengelola sumber daya gambut secara berkelanjutan. 

Peran Serta Masyarakat

Baca juga : Jepang Kembali Sumbang Dana Rp 557 Miliar Untuk Rakyat Palestina

UMKM Huma Gawin Itah yang memproduksi olahan flora fauna khas lahan gambut yaitu ikan gabus dan kelakai
(Dok. Pribadi)
Bapak Silvanus sebagai Ketua Masyarakat Peduli Api Kelurahan Tanjung Taruna
(Dok. Pribadi)
Bapak Sunardi sebagai ketua Masyarakat Peduli Api Kelurahan Kelawa 
(Dok. Pribadi)

Hal yang membuat saya optimis adalah tingginya partisipasi aktif masyarakat lokal dalam upaya konservasi ini. Banyak anggota komunitas yang dulunya mungkin skeptis terhadap program konservasi, kini menjadi garda terdepan dalam pelestarian gambut. Mereka tidak hanya terlibat dalam kegiatan fisik seperti penanaman pohon dan pemantauan kebakaran, tetapi juga aktif dalam edukasi dan sosialisasi pentingnya ekosistem gambut kepada generasi muda.  Selain itu masyarakat juga aktif dalam mengolah sumber daya di lahan gambut menjadi produk dengan nilai jual tinggi.

Keberhasilan program 3R bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal. Pemerintah menyediakan regulasi dan dana, organisasi non-pemerintah berkontribusi teknis, akademisi memberikan landasan ilmiah, dan masyarakat lokal menjalankan serta menjaga keberlanjutan program. Pendekatan partisipatif ini meningkatkan efektivitas dan membangun komitmen jangka panjang. Pengelolaan ekosistem gambut harus holistik, melibatkan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya untuk kesejahteraan manusia dan lingkungan.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense