BREAKING NEWS
 

Obat Flu Bisa Hasilkan Positif Palsu Pada Tes Narkoba? Ini Kata Pakar UGM

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Kamis, 2 Mei 2024 20:19 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Guru Besar sekaligus Pakar Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Zullies Ikawati menyampaikan pandangannya, soal obat flu yang disebut bisa memberikan hasil positif palsu pada tes narkoba. Seperti yang dialami istri komika Bintang Emon.

Prof. Zullies menjelaskan, dalam tes urin untuk mendeteksi narkoba, ada beberapa senyawa yang bisa diperiksa. Antara lain THC (ganja), MET (methaphetamine), AMP (amphetamine), MOP (morphine), BZO (benzodiazephine), COC (cocain), dan DOMA (carisoprodol).

Menurutnya, pengukuran senyawa-senyawa dalam sampel urin tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode analisis.

"Yang paling sering digunakan adalah dengan teknik immunoassay dan kromatografi, atau jika bisa digabung menjadi imunokromatografi. Uji tes dengan teknik ini relatif cepat dan mudah," papar Prof. Zullies, seperti dikutip laman resmi UGM, Kamis (2/5/2024).

Kit Imunokromatografi merupakan strip uji yang berbasis pada imunokromatografi, dari hasil ikatan antigen-antibodi yang sudah diberi label dengan pewarna tertentu. Sehingga, dapat dilihat tanpa memerlukan alat khusus dan personel dengan keahlian khusus.

“Sekali lagi, uji kit imunokromatografi ini cepat, murah, mudah, dan relatif akurat. Dengan metode ini, dapat dilakukan deteksi zat narkoba atau metabolitnya," beber Prof. Zullies.

"Tes Immunoassay sebenarnya cukup sensitif dan spesifik untuk zat tertentu, namun bisa juga rentan terhadap hasil positif palsu karena dapat terjadi reaksi silang dengan zat lain yang mirip struktur kimianya,” imbuhnya.

Zullies menerangkan, beberapa obat legal dan umum yang menyebabkan hasil positif palsu pada tes urin narkoba, menggunakan metode immunoassay. Dengan struktur kimia mirip zat terlarang.

Pada beberapa pemberitaan kasus istri Bintang Emon, disebutkan obat yang dikonsumsi adalah obat flu yaitu Nalgestan dan Actifed.

Obat-obat flu ini mengandung obat pelega hidung tersumbat yaitu fenilpropanolamin dan pseudoefedrin, dan obat antialergi klorfeniramin maleat dan triprolidin, serta obat batuk dekstrometorfan.

Obat-obat ini sebagian tergolong senyawa amin yang memiliki kemiripan struktur dengan beberapa obat golongan narkoba.

Baca juga : Cuaca Bogor Besok Hujan Atau Panas? Ini Info BMKG Sabtu 30 Maret 2024

“Jadi tidak mengherankan, jika menghasilkan positif palsu pada pemeriksaan narkoba,” katanya.

Berikut jenis obat yang bisa menunjukkan hasil positif palsu pada tes tertentu:

1. Dalam situasi tertentu, obat penghilang rasa sakit dan anti inflamasi, Ibuprofen bisa menunjukkan hasil positif palsu untuk mariyuana/ganja (THC).

2. Naproxen (Aleve) juga bisa menunjukkan hasil positif palsu untuk THC.

3. Obat batuk dan pilek yang mengandung dextromethorphan, bisa menunjukkan hasil positif palsu untuk opiat atau phencyclidine (PCP).

4. Pseudoephedrine (ditemukan dalam dekongestan), dapat menunjukkan hasil positif palsu untuk amfetamin.

5. Obat antidepresan seperti Sertraline (Zoloft) bisa menunjukkan hasil positif palsu untuk benzodiazepin atau LSD.

6. Bupropion (Wellbutrin) bisa menunjukkan hasil positif palsu untuk amfetamin.

7. Obat Antipsikotik seperti Quetiapine (Seroquel) dapat menunjukkan hasil positif palsu untuk methadone atau trisiklik antidepresan.

Adsense

8. Ranitidine (Zantac), obat pengurang asam lambung, bisa menunjukkan hasil positif palsu untuk methamfetamin atau amfetamin.

9. Trazodone, yang biasa digunakan sebagai obat tidur atau antidepresan, dapat menghasilkan positif palsu untuk amfetamin atau methamfetamin.

Baca juga : Cuaca Jakarta Besok Hujan Atau Panas? Ini Info BMKG Sabtu 30 Maret 2024

10. Antihistamin seperti Diphenhydramine (Benadryl) kadang-kadang menunjukkan hasil positif palsu untuk methadone, opioid, atau PCP.

11. Antikonvulsan seperti Phenytoin (Dilantin) dan carbamazepine juga dapat menunjukkan hasil positif palsu untuk barbiturat atau opioid.

Hasil positif palsu ini dapat terjadi karena reaksi silang kimia antara obat-obatan tersebut, dengan antibodi yang digunakan dalam tes immunoassay untuk mendeteksi narkoba.

Karenanya, sangat penting untuk mengetahui bahwa kemungkinan hasil positif palsu ini tergantung pada spesifisitas dan sensitivitas kit immunoassay yang digunakan, serta kondisi tertentu lainnya selama pengujian.

"Jika hasil tes urin positif dalam skrining awal, biasanya disarankan untuk melakukan tes konfirmasi menggunakan metode seperti GC-MS (Gas chromatography-Mass Spectrometry) atau LC-MS (Liquid Chromatography-Mass Spectrometry) untuk memverifikasi hasil tersebut,” terang Prof. Zullies.

Tes konfirmasi ini dapat membedakan  obat yang sebenarnya dan substansi lain yang mungkin memiliki struktur kimia serupa.

Kromatografi, khususnya ketika digabungkan dengan spektrometri massa, adalah metode konfirmasi yang sangat akurat dan digunakan untuk mengonfirmasi hasil positif dari tes skrining awal seperti immunoassay.

GC-MS adalah standar emas dalam pengujian narkoba karena keakuratan dan keandalannya yang tinggi.

Metode ini dapat secara spesifik mengidentifikasi dan mengkuantifikasi zat narkoba dalam sampel, dengan memisahkan komponen kimia dan mengidentifikasi masing-masing berdasarkan massa dan struktur molekulnya.

Hanya saja, metode ini lebih mahal dan membutuhkan waktu serta peralatan khusus. Biasanya dilakukan di laboratorium, setelah tes awal mengindikasikan hasil positif.

Proses ini penting untuk memastikan bahwa hasil positif awal memang benar. Bukan karena interferensi dari substansi lain atau kondisi tertentu yang dapat menimbulkan hasil positif palsu.

Baca juga : Cuaca Jakarta Besok Hujan Atau Panas? Ini Info BMKG Jumat 29 Maret 2024

“Kombinasi kedua metode ini membantu dalam meningkatkan keakuratan dan reliabilitas hasil tes urin narkoba,” tutur Prof. Zullies.

Mencegah Positif Palsu

Lalu, bagaimana kita dapat mencegah hasil positif palsu, seperti yang dialami istri Bintang Emon?

Soal ini, Prof. Zullies mengatakan, semua bisa terjadi karena kekurangtahuan atau ketidaksiapan dalam pemeriksaan.

Prof. Zullies menyarankan, jika test narkoba memang dilakukan dengan rencana, misalnya untuk syarat melamar sekolah atau pekerjaan, maka sebaiknya hindari penggunaan obat-obatan lain sebelum test narkoba.

Tetapi, jika test dilakukan secara mendadak, informasikan obat-obat apa saja yang sedang dikonsumsi untuk mengantisipasi hasıl positif palsu.

“Jika perlu, test narkoba dapat diulang setelah diberi jeda beberapa hari, agar obat-obat lain tersebut tereliminasi dari tubuh,” ucapnya.

Tak Serta Merta Berbahaya

Zullies menegaskan, obat-obat yang memberikan hasil positif palsu tidak serta merta bisa dikatakan mengandung narkoba dan berbahaya. Obat-obat itu tidak bisa disimpulkan mengandung narkoba.

Bahayanya juga tidak bisa digeneralisir, sangat tergantung dari macam obatnya.

"Yang pasti, obat-obat tersebut jika memang digunakan sesuai tujuannya, bukanlah obat berbahaya. Komponen pada obat flu misalnya, adalah obat yang dapat dibeli bebas dan tidak bersifat adiktif. Jadi tidak perlu khawatir. Gunakan obat secara legal dan tepat sesuai petunjuk dokter, atau informasi dalam kemasan obat,” saran Prof. Zullies.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense