BREAKING NEWS
 

Terdampak Industri Ekstraktif

Masyarakat Pesisir Dan Pulau Kecil Hidup Dalam Kemiskinan Ekstrem

Reporter : OSPI DARMA
Editor : ABDUL SHOMAD
Selasa, 16 Juli 2024 07:25 WIB
Kepala Pusat Riset Politik BRIN Athiqah Nur Alami. (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
“Saat ini, kita banyak men­jumpai nelayan pra lansia di desa-desa pesisir, karena me­ningkatnya arus urbanisasi. Persoalan lainnya, laut dibuat ‘sakit’ oleh limbah industri yang langsung dibuang ke laut, dan kita harus menghadapi berbagai dampak turunan dari persoalan tersebut,” tuturnya.

Hendra berharap, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, fokus menyelesaikan seluruh persoalan di desa pesisir, yang berjumlah 15 persen dari total desa di Indonesia. Dengan be­gitu, para pemuda di pesisir tidak lagi meninggalkan desa dan laut, untuk menambah carut-marut kehidupan di perkotaan.

“Sederhananya, pemerin­tah harus bisa meningkatkan pendapatan nelayan, minimal setara dengan UMR, kalau bisa lebih tinggi ya lebih baik. Sebab, risiko menjadi nelayan semakin tinggi seiring adanya dampak perubahan iklim,” cetusnya.

Baca juga : Uji Emisi Kendaraan Kembali Digaspol Nih

Sementara itu, Manajer Kajian Hukum dan Kebijakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Satrio Manggala meng­ingatkan Pemerintah tak boleh salah dalam mengambil kebi­jakan terkait wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sebab, Rancangan Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (RUU KSDAHE) berpotensi mela­hirkan kriminalisasi terhadap masyarakat lokal maupun ma­syarakat hukum adat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Kata dia, jika cakupan pen­gaturan RUU KSDAHE diper­luas dengan tambahan kawasan konservasi di perairan, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, model kebijakan penunjukan atau penetapan kawasan konser­vasi yang sentralistik, berpotensi menimbulkan konflik yang luas. “Sebab, penetapan kawasan konservasi yang sentralistik, mengasingkan peran masyara­kat lokal maupun masyarakat hukum adat,” jelas dia.

Di media sosial X, netizen juga riuh membahas soal penderitaan nelayan dan masyarakat pesisir. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki laut luas dan kaya akan sumber daya, na­mun banyak nelayan yang hidup miskin dan terpinggirkan.

Baca juga : Raih Gelar Euro 2024, Tim Matador Dihiasi Rekor

Akun @gabygianova me­nyatakan, persoalan kemiskinan nelayan harus segera dientaskan, agar mereka ikut merasakan hasil pembangunan. “Pertanyaannya, apakah para nelayan kita bisa mengakses pendidikan, kesehatan, dan sejumlah kebutuhan dasar lain secara maksimal? Belum. Bahkan, anak-anak mereka banyak yang putus sekolah, dan terjebak dalam lingkaran kemiskinan,” tulisnya.

Akun @toncherieamour men­gatakan, kemiskinan struktural di masyarakat pesisir, petani, hingga perkotaan, membutuhkan rumus yang tepat dan keberpihakan pemerintah. “Masalah utama nelayan dan petani tradisional, sebenarnya mirip-mirip. Mereka terjebak dalam kemiskinan struk­tural, sedangkan para tengkulak, pengepul, penampung, hidup berkecukupan, karena mereka yang jual hasil panen/tangkapan,” cuitnya.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Selasa, 16 Juli 2024 dengan judul Terdampak Industri Ekstraktif, Masyarakat Pesisir Dan Pulau Kecil Hidup Dalam Kemiskinan Ekstrem

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense