BREAKING NEWS
 

Catatan Irjen Pol (Purn) Srijono, Ketua Dewan Pembina Senkom Mitra Polri

Solusi Masalah Bangsa, Ingatlah Gusti Allah

Reporter & Editor :
ANGGOWO ADI SEPTANINGRAT
Rabu, 14 Agustus 2024 07:05 WIB
Irjen Pol (Purn) Srijono, Ketua Dewan Pembina Senkom Mitra Polri. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kita akan sependapat bahwa karakter bangsa terbentuk dalam waktu yang lama melalui kebudayaan dan pendidikan. Mari renungkan sejenak. Karakter bangsa kita saat ini sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila sebagai way of life. Sangat jauh dari semangat Bhineka Tunggal Ika yang mengantarkan bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. 

Berbagai diskusi telah dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat, baik formal atau non formal. Demikian pula langkah parsial serta sporadis dari para motivator, dosen, guru, tokoh spiritual dan tokoh masyarakat di berbagai institusi. Semuanya positif, bahkan kreatif untuk menyibak ironi di negeri ini. Butuh kesadaran kolektif untuk diakomodir, dibina, dan dikembangkan guna mendorong gerakan nasional perubahan mindset bangsa menuju NKRI yang kuat dan bermartabat. Lebih jauh bisa dirumuskan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), agar kebijakan Kementerian/Lembaga dan elemen pentahelix senantiasa senapas dengan Pancasila. 

Ironi Negeri Ini

Rasa cinta Tanah Air akan membangkitkan rasa melu handarbeni (ikut memiliki), melu hangrungkepi (ikut menjaga), dan mulat sariro hangrosowani (berani mengakui kekurangan dan siap dikritik). Semua rasa tersebut harus tertanam dalam diri kita, terutama generasi muda. Ingatlah pidato Presiden RI pertama Soekarno, "Berikan aku 1000 anak muda, maka aku akan memindahkan gunung. Tapi berikan aku 10 pemuda yang cinta akan Tanah Air, maka aku akan mengguncang dunia."

Baca juga : Waspadai Hipomineralisasi Molar Insisif dan Dampaknya pada Kesehatan Gigi Anak

Ironi negeri ini seabreg. Krisis kepemimpinan, moralitas, korupsi, pornografi, kenakalan remaja, ketidakjujuran, kemunafikan, tawuran, HIV/AIDS, narkoba, kerusuhan sosial, kemiskinan, ancaman bom sampai utang luar negeri yang bertumpuk. 

Wajah kita makin suram dengan fakta Indonesia adalah negara agraris tapi harus mengimpor beras, kedelai, bawang merah dan bawang putih. Diperparah pula oleh pengaturan dan mekanisme impor barang yang sarat kecurangan. Belum lagi, ironi dunia pendidikan. Marak pelecehan seks guru-murid, tawuran pelajar, dan mahalnya komponen pengajaran. 

Masihkah lagu Indonesia Raya bisa kita nyanyikan dan dengarkan dengan merdu, 10-20 tahun nanti? Apakah akan lahir penyesalan, hujatan, bahkan kutukan dari generasi masa depan ke kita nanti? Haruskah sejarah mencatat generasi kita yang tamak, rakus, dan merusak?

Adsense

Kak Joko Mursito dari Pusdiklat Pramuka telah membagikan banyak catatan dan pengalamannya. Kesimpulannya sama dengan hasil diskusi saya di Seminar 'Date With Destiny bersama Anthony Robbins' yang diikuti 900 orang dari 42 negara, di The Western Hotel, Nusa Dua Bali. 

Baca juga : KPU Tak Jalankan, PTUN Keluarkan Perintah Eksekusi Putusan Tentang Irman Gusman

Perbedaan antara negara maju/kaya dengan negara miskin/berkembang tidak tergantung pada umur negara itu. Contohnya Mesir dan India, umur mereka lebih dari 2000 tahun, tapi sampai sekarang masih tetap terbelakang. Sementara Kanada (1867), Selandia Baru (1940), Singapura (1965), dan Australia (1901) sudah maju dan penduduknya tidak lagi miskin.

Melimpahnya sumber daya alam juga tak menjamin negara kaya. Tengoklah Indonesia, nyaris 79 tahun merdeka, masih miskin. Bandingan dengan Jepang. Area terbatas, tidak strategis, sering gempa bumi, tapi menjadi raksasa ekonomi nomor empat di dunia. Swiss tidak punya perkebunan cokelat, tapi produsen cokelat terbaik. Reputasi mereka dalam hal keamanan, integritas, dan ketertiban biasa saja. Tapi kok punya Bank Swiss yang kondang. 

Pahami Dan Laksanakan Pancasila

Negara maju berkat sikap dan perilaku masyarakatnya yang dibentuk oleh kebudayaan dan pendidikan. Mereka mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan. Yakni etika, kejujuran, tanggung jawab, hormat aturan dan hukum, bekerja keras, tepat waktu dan mau menabung atau investasi. 

Baca juga : Keselamatan KA dan Rencana Elektrifikasi Lintasan Commuter Line Bandung Raya

Ironisnya, semua prinsip dasar kehidupan itu sudah terkandung dalam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Artinya, pengajaran dan implementasi konsensus dasar bangsa itu belum optimal dipahami rakyat Indonesia. Kita belum maju, karena belum mau mematuhi segala norma dan aturan. 

"Innallaha la yugayyiru ma biqaumin ḥatta yugayyiru ma bianfusihim." Tuhan tidak mengubah nasib suatu bangsa, sehingga mereka mengubah diri sendiri. So, apapun masalah bangsa, solusinya itu ingatlah Gusti Allah. Lalu kita segera melangkah, mencari solusi, dan tidak saling menyalahkan. Mari kita pahami, percaya, dan bertindak sesuai Pancasila. Guna menuju NKRI yang kuat dan bermartabat. Bangunlah dari tidur, jangan bermimpi.

*Penulis adalah Ketua Dewan Pembina Senkom Mitra Polri, Eks Kapolda NTB, Eks Wagub Akpol.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense