RM.id Rakyat Merdeka - Trend penurunan kelas menengah menuju kelas bawah atau mendekati miskin, harus segera diantisipasi.
Pemerintah diminta segera melakukan terobosan, untuk mencegah makin bertambahnya jumlah penduduk miskin baru akibat kelas menengah yang turun kasta.
Tim Asistensi Menko Perekonomian Dimas Oky Nugroho mengatakan, kontraksi dan perlambatan ekonomi sebenarnya telah terantisipasi sejak awal, yakni sejak Covid-19 melanda dunia, juga Indonesia.
Sejak 2021, Bank Dunia telah menurunkan predikat Indonesia dari kelompok negara pendapatan menengah atas (upper middle income) ke kelompok negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income).
Riset dari sejumlah negara lain menunjukkan bahwa kuncinya adalah reindustrialisasi atau industrialisasi kembali.
"Ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak hanya kembali menjadi negara pendapatan menengah atas, tapi juga naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi," kata Dimas dalam keterangan tertulisnya kepada Rakyat Merdeka.
Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Kelapa Gading Warning PLKK Tak Turunkan Kualitas Pelayanan
Pemerintah harus bisa mendorong terbukanya lapangan pekerjaan secara inovatif dan kemudahan berinvestasi.
Selain itu, harus dipastikan juga penguatan daya beli masyarakat dan menghadirkan stabilitas harga bahan pokok.
"Inilah yang bisa menghindari Indonesia dari bonus demografi menjadi bencana demografi," kata Dimas.
Ketua Pokja Strategi Sosialisasi Satgas Undang-Undang Cipta Kerja ini menilai, terdapat 3 hal yang secara konsisten yang harus dilakukan.
Pertama, optimalisasi sumber daya alam melalui hilirisasi atau pengolahan bahan mentah. Kedua, meningkatkan partisipasi dalam rantai pasok global.
Di sini, kata dia, perlu pengembangan secara bertahap. Bergeser dari produksi barang dengan nilai tambah rendah, ke produksi barang dengan nilai tambah tinggi.
Baca juga : Banyak Pemain Muda, Hansi Flick Pede Barca Juara
"Memang tidak bisa dilakukan instan, tapi perlu secara fokus di sektor unggulan, lalu membangun keahlian di sektor lain yang memiliki nilai tambah lebih tinggi," ujarnya.
Ketiga, lanjut dia, penguatan ekosistem riset dan inovasi dalam strategi reindustrialisasi.
Yakni penguatan SDM, penguatan keterampilan tenaga kerja khususnya anak-anak muda, pendanaan riset, secara kolaboratif melibatkan universitas dan korporasi.
"Dan untuk ini, semua perlu penguatan kelembagaan dan kegenahan secara politik agar ekonomi Indonesia bergerak dan naik kelas menjadi negara maju," tegas Direktur Eksekutif Akar Rumput Strategic Consulting (ASRC) itu.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ebanyak 9,48 juta warga kelas menengah rentan 'turun kasta' ke kelas menengah rentan hingga kelompok rentan miskin.
Padahal, pada 2019, Indonesia memiliki 53,33 juta penduduk kelas menengah atau sebanyak 21,45 persen.
Baca juga : Sambangi Markas Banteng Jakarta, Anies Bakal Jadi Cagub?
Jumlah itu menurun menjadi 47,85 juta pada 2024 atau tersisa 17,13 persen. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar mengatakan penyebab utama turunnya kelas menengah tahun ini adalah pandemi Covid-19.
Tercermin dari data yang dimiliki, penurunan jumlah penduduk kelas menengah berkurang sejak 2019.
Menurutnya, efek pandemi pada 2020 lalu masih terasa sampai saat ini, terutama kepada perekonomian. Masyarakat kelas menengah pun turut merasakan dampaknya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.