Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pelemahan Ekonomi Sasar Kelas Menengah-Bawah
Daya Beli Mulai Turun, Pilih Harga Terjangkau
Sabtu, 10 Agustus 2024 07:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pelemahan ekonomi diduga menyasar kalangan kelas menengah bawah. Sejumlah mall dan pusat perbelanjaan di Jakarta dan sekitarnya juga mulai sepi pengunjung. Peritel pun banyak yang menutup gerainya. Di media sosial, netizen ikutan membahas hal itu.
Ketua Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Wijaja mengatakan, daya beli kelas menengah bawah sedang mengalami penurunan. Hal itu terlihat dari pola belanja yang memilih barang dengan harga terjangkau.
“Penurunan daya beli (kelas menengah bawah) terlihat jelas dari tren belanjanya. Sekarang, uang yang dipegang kelas menengah semakin kecil. Makanya, toko seperti Miniso, KKV, DIY, penjualannya luar biasa. Harga jual mereka lebih kecil,” ujar Alphonzus di Jakarta, Kamis (8/8/2024).
Menurutnya, kelas menengah bawah memang tetap belanja tapi melirik produk yang harganya lebih murah. Produk yang mahal mulai ditinggalkan, karena jumlah uang menipis.
Baca juga : Rena Da Frina Makin Melejit
Kondisi tersebut, kata Alphonzus, mendorong peritel mengatur strategi untuk menghadapi pelemahan daya beli. Salah satunya, tidak menjual produk yang harganya terlalu mahal agar tetap dapat dijangkau kelas menengah bawah.
Di saat bersamaan, lanjut Alphonzus, impor ilegal masih membanjiri pasar dalam negeri. Serbuan impor ilegal membuat ritel di bidang fashion sangat terdampak, terlebih di tengah menurunnya daya beli masyarakat.
Senada, Ketua Umum Himpunan dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan, penopang utama bisnis ritel saat ini adalah Food and Beverage (FnB).
Menurut dia, pertumbuhan restoran atau bisnis FnB di pusat perbelanjaan masih cukup bagus.
Baca juga : Industri Manufaktur Membutuhkan Stimulus
“Yang dilanda kesulitan, departement store yang jual baju dan supermarket. Di tengah menurunnya daya beli, mereka dihadapkan dengan masalah sewa tempat yang mahal. Sebab itu, dibutuhkan inovasi atau sejumlah konsep baru untuk membenahi masalah tersebut,” ucapnya.
Dirjen Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Isy Karim juga menyoroti penurunan daya beli masyarakat kelas menengah bawah. Sebab, banyak pedagang di pusat perbelanjaan mengeluh tentang angka penjualan yang merosot.
“Setiap kami lakukan survei ke pasar, seperti Tanah Abang, Mangga Dua, keluhan yang disampaikan para pedagang adalah menurunnya penjualan. Saat ini, kami tengah menghitung seberapa besar penurunan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Isy menyatakan, pihaknya juga terus berkerja keras meningkatkan daya beli masyarakat. Salah satu upaya yang telah dilakukan, mendukung pusat perbelanjaan dan peritel memberi potongan harga kepada konsumen.
Baca juga : Kurikulum Sekolah Mesti Klop Dengan Dunia Kerja
“Melalui acara Indonesia Shopping Day Festival 2024 pada 8 hingga 19 Agustus, kami menghadirkan diskon hingga 79 persen. Diskon itu akan meningkatkan daya beli konsumen, khususnya menengah ke bawah. Mudah-mudahan acara ini bisa kembali menggairahkan sektor ritel,” tandasnya.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menjelaskan, penurunan daya beli di kelas menengah bawah, ditandai dengan pelemahan konsumsi rumah tangga.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya