BREAKING NEWS
 

World Tourism Day, Taufan Rahmadi: Apa Jadinya Dunia Tanpa Pariwisata?

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Jumat, 27 September 2024 15:34 WIB
Pakar strategi pariwisata nasional, Taufan Rahmadi. (Foto : ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari ini, 27 September diperingati sebagai hari pariwisata dunia. World Tourism Day 2024 bertema, "Tourism and Peace".  Ini bukan sekadar slogan. Ini panggilan akan pentingnya pariwisata dalam menciptakan dunia yang damai.

Tanpa pariwisata, manusia kehilangan sarana penting untuk membangun pemahaman lintas budaya.

"Pariwisata bukan hanya soal kunjungan fisik ke suatu tempat, tetapi juga sebuah jembatan yang menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang sosial, agama, dan budaya. Apa jadinya dunia tanpa  pariwisata?" kata pakar strategi pariwisata nasional, Taufan Rahmadi dalam pernyataannya, Jumat (27/9).

Menurut tokoh terkemuka pariwisata Indonesia asal NTB ini, pariwisata meruntuhkan tembok prasangka dan membangun jembatan dialog yang dapat meredam konflik.

Pariwisata memberikan ruang untuk saling belajar, memperkaya wawasan, dan menghormati perbedaan yang ada.

Baca juga : Garap Bisnis Properti, Sarana Jaya Luncurkan Warna Jaya Paint

"Pariwisata menciptakan peluang bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat diplomasi mereka, membangun citra positif di mata dunia, serta mendukung stabilitas dan perdamaian. Di beberapa negara yang pernah terjebak dalam konflik, pariwisata menjadi sarana bagi rekonsiliasi sosial dan pemulihan ekonomi," jelas anggota Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran ini.

Taufan mencontohkan, Rwanda pernah dilanda genosida pada tahun 1994 kini menjadikan pariwisata sebagai salah satu motor utama perdamaian dan pembangunan ekonomi.

Dengan fokus pada ekowisata dan pelestarian alam, Rwanda berhasil mengubah citra mereka di dunia internasional dan menarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

"Data dari Rwanda Development Board menunjukkan bahwa sektor pariwisata negara ini tumbuh hingga 17% per tahun sejak 2010, membawa manfaat besar bagi pembangunan sosial dan lingkungan setempat," jelas pria yang membawa Lombok meraih penghargaan internasional sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia di World Halal Travel Award 2015 di Abu Dhabi, UAE.

Adsense

Demikian pula di Kolombia yang mengalami konflik berkepanjangan selama beberapa dekade. Kolombia memanfaatkan pariwisata sebagai alat diplomasi dan pembangunan perdamaian.

Baca juga : Rayakan HUT Ke-56, Kadin Indonesia Serukan Persatuan

Setelah perjanjian damai dengan kelompok pemberontak FARC pada 2016, sektor pariwisata Kolombia tumbuh signifikan.

Kementerian Perdagangan, Industri, dan Pariwisata Kolombia melaporkan peningkatan jumlah wisatawan internasional sebesar 300% antara 2006 dan 2019, dengan kontribusi signifikan terhadap ekonomi dan upaya menciptakan stabilitas di wilayah yang sebelumnya terdampak konflik.

Tokoh pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi

Dalam lingkup Indonesia, selain isu domestik, bisa juga memanfaatkan potensi pariwisata sebagai alat diplomasi di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan wisata halal yang memperkuat diplomasi dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Selain itu, pariwisata Indonesia, seperti di Bali, juga telah lama dikenal sebagai destinasi internasional yang mampu menjadi "zona damai" di tengah ketegangan politik global.

Baca juga : Taufan Rahmadi: Indonesia Akan Jadi Destinasi Utama Wisata Halal Dunia 

"Pulau Bali sebagai destinasi wisata dunia sering menjadi contoh bagaimana pariwisata menciptakan ruang aman bagi pertukaran budaya dan perdamaian," urai Taufan..

Ketika terjadi krisis politik di Asia Tenggara atau ketegangan internasional, Bali tetap menjadi tempat di mana wisatawan dari berbagai negara datang untuk menemukan kedamaian.

Peran Bali sebagai simbol pariwisata damai sangatlah penting, terutama dalam mendukung citra Indonesia di mata dunia internasional.

Dalam konteks ini, pariwisata berperan sebagai agen diplomasi damai, di mana para pelancong menjadi "duta budaya" yang memperkenalkan dan mempromosikan nilai-nilai toleransi serta harmoni.

"Setiap interaksi yang terjadi antara wisatawan dan komunitas lokal tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga menciptakan hubungan antarbangsa yang lebih erat dan saling menghargai," jelasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense