RM.id Rakyat Merdeka - Dunia sedang terluka. Dunia yang demikian adalah dunia yang di dalamnya berlangsung perang antarnegara, ketimpangan pendapatan ekonomi sehingga menimbulkan jurang lebar antara orang berpendapatan tinggi dan berpendapatan rendah, perubahan iklim dan pemanasan global yang berdampak pada krisis air bersih, krisis pangan, krisis kesehatan. Perempuan, anak-anak, orang lanjut usia adalah kelompok yang paling rentan dan menderita dalam dunia yang demikian.
Dunia dengan keadaannya yang demikian adalah medan praksis kehidupan iman semua orang beragama, tak terkecuali Gereja Katolik. Dalam dunia yang demikian, Gereja Katolik mengemban panggilan profetiknya, yakni mendengarkan dan berjalan bersama dunia yang terluka, seraya menyembuhkan luka-luka kemanusiaan dan ekologis dalam terang belas-kasih Allah. Panggilan profetik ini mengemuka dalam refleksi mendalam Yustinus Prastowo atas Konsili Vatikan II pada Gereja Katolik.
Refleksi Prastowo itu tertuang dalam karyanya berjudul Gereja yang Mendengarkan, yang diterbitkan Penerbit Lamalera pada penghujung 2024 ini. Buku setebal 245 halaman ini merupakan sebuah gambaran padat dan jelas mengenai gerak dan arah pastoral Gereja Katolik dalam dunia modern sejak Konsili Vatikan II tahun 1962-1965. Sejak dari masa kepemimpinan Paus Yohanes XXIII, Paus Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI sampai Paus Fransiskus saat ini, Gereja Katolik masuk dalam dunia modern, mendengarkan dunia, dan berjalan bersama dunia menuju pengalaman ultimat, yakni pengalaman akan belas kasih Allah.
Alasan dasar gerak dan arah pastoral Gereja Katolik yang demikian berpijak pada aneka pengalaman historis manusia, sejak zaman modern sampai pascamodern sekarang ini. Dari tragedi dan krisis kemanusiaan selama Perang Dunia I-II sampai gelombang pengungsian dari Timur Tengah ke Eropa dan krisis lingkungan. Situasi-situasi buruk itu dialami oleh manusia zaman ini dan menimbulkan pula krisis lingkungan hidup. Perang dengan teknologi modern menyisakan residu-residu bahan kimia yang merusak tanah, air, dan udara. Tentunya, lingkungan yang demikian tidaklah sehat bagi manusia.
Baca juga : Di Senayan, Hakim Bersorak, Nangis, Pelukan
Panggilan profetik Gereja Katolik dalam dunia yang luka adalah mewujudkan perdamaian dan keutuhan ciptaan. Inilah makna sesungguhnya dari Injil, yakni kabar gembira dan baik bahwa Allah berbelas kasih untuk semua orang, berbelas kasih untuk dunia, terutama kepada orang-orang yang letih, lesu, berbeban berat dan kepada bumi yang merintih oleh pemanasan global dan perubahan iklim. Dengan demikian, Injil dalam horizon reflektif Konsili Vatikan II adalah teologi solidaritas dan tindakan berbela rasa kepada dunia yang sedang terluka.
Konsistensi Paus Fransiskus
Panggilan profetik Gereja Katolik semakin jelas dalam teologi solidaritas dan tindakan berbela rasa yang secara konsisten dilakukan oleh Paus Fransiskus sejak mengemban mandat sebagai gembala utama Gereja Katolik. Di masa kepemimpinannya, paus asal Argentina ini bertindak secara konkrit dalam mewujudkan teologi dan tindakan tersebut. Ia menolak tinggal di istana kepausan, mencium kaki narapidana perempuan asal Serbia di Penjara Casal del Marmo, menjumpa Imam Besa Al-Azhar, memperlakukan dengan penuh hormat para transgender sebagai manusia konkret, dan membuka tangan lebar-lebar bagi para pencari suaka kemanusiaan akibat konflik politik di Timur Tengah. Semua ini merupakan wujud konkret dari Gereja Katolik – yang tersimbolkan dalam kepemimpinan Paus Fransiskus.
Baca juga : Banggalah Berbatik
Kepemimpinan yang bersolidaritas dan berbela rasa juga diarahkan kepada bumi yang bergolak. Revolusi Industri yang membentuk mental dan sikap manusia sebagai pemakai teknologi dan bahan bakar fosil, telah melukai bumi rumah bersama. Melalui ensiklik Laudato Si’ dan tetap dalam amanat dan semangat Konsili Vatikan II, Paus Fransiskus membawa Gereja Katolik (umat dan para pemimpin) mengubah pikiran, membentuk mental, dan mendorong aksi berbela rasa terhadap bumi yang sedang rusak. Perubahan iklim merupakan masalah seluruh dunia dan berhubungan erat dengan harkat dan martabat hidup manusia. Anak-anak dan manusia lanjut usia adalah dua dari sekian banyak kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Oleh sebab itu, pikiran, mental, dan aksi Gereja Katolik diarahkan pada upaya konkret untuk menyelamatkan bumi dari dosa ekologis yang dilakukan oleh manusia.
Gereja Katolik seperti direfleksikan ulang dalam Konsili Vatikan II merupakan Gereja yang terbuka pada tanda-tanda zaman (aggiornamento), terbuka pada perkembangan-perkembangan baru dalam berbagai bidang. Cara refleksi ulang adalah dengan belajar kembali pada sumber-sumber utama (ressourcement), yakni Kitab Suci dan tradisi. Dengan demikian, Gereja Katolik – sebagaimana yang digagas dalam buku ini – menurut Guru Besar Teologi STF Driyarkara dan Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM pada tulisan pengantarnya adalah berguru pada masa lalu dan teguh menatap masa depan.
Menengok kembali dan berguru pada masa lalu seraya berjalan bersama dunia terluka ke masa depan bukanlah sebuah praksis revolusioner, melainkan sebuah praksis iman yang menyejarah. Dalam praksis iman diperlukan keutamaan-keutamaan moral seperti ketekunan dan kesabaran. Hanya dengan hati dan pikiran yang tekun dan sabar dalam mendengarkan dunia yang terluka, Gereja Katolik dapat berjalan bersama dunia yang terluka ke hadapan Allah yang berbelas-kasih. Dengan demikian, seperti yang dikatakan oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Dr. Paul Budi Kleden, SVD dalam ulasannya atas karya Prastowo ini, bahwa Gereja Katolik tidak sekedar menyesuaikan diri dengan dunia dan tergoda untuk berlari cepat bersamanya. Sebaliknya menjadi Gereja yang merenung dalam terang kasih Allah supaya setiap keputusan dan tindakan pastoral adalah perwujudan keadilan dan belas kasih Allah sebagai penyembuhan bagi orang-orang yang terluka dan pemulihan bagi bumi yang rusak. Itulah warta gembira dan tindakan profetik sesungguhnya.
Baca juga : Puan Ketua DPR, Muzani Ketua MPR: Banteng-Garuda Berjaya di Senayan
*Alexander Aur, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Banten, dan mahasiswa Program Doktoral Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.