BREAKING NEWS
 

Alasan Ekonomi Hingga Faktor Pendidikan

Fenomena Childfree Makin Tumbuh Subur

Reporter : SUSILO YEKTI
Editor : ABDUL SHOMAD
Kamis, 14 November 2024 07:25 WIB
Fenomena childfree alias keputusan tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun adopsi, mengalami tren kenaikan. (Foto: Ilustrasi/iStockphoto/Motortion)

 Sebelumnya 
Namun, dalam jangka pan­jang, perempuan childfree akan menua tanpa keluarga, sehingga berpotensi menjadi tanggung jawab negara.

“Pertanyaannya, apakah Peme­rintah cukup siap memberikan jaminan sosial untuk mereka,” cetusnya.

Terpisah, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka menyatakan, selain mengatasi masalah stunting, pihaknya akan beru­saha menjaga angka kelahiran atau TFR agar tidak mengalami penu­runan maupun peningkatan drastis.

Baca juga : Emil Tebarkan Simpati, Pramono Terus Sosialisasi

“Kita harus tetap berada pada angka ideal 2,1. Kalau TFR ter­lalu drop, bisa jadi aging society, seperti di Jepang, Korea Selatan dan negara-negara maju lainnya. Tentunya kami akan berkolab­orasi, melihat bagaimana cara yang paling tepat,” ucapnya.

Di media sosial X, fenomena childfree juga banyak diperbin­cangkan, bahkan kerap melahir­kan perdebatan.

Akun @iimfahima menyesal­kan, titik fokus BPS pada fenome­na childfree ada pada perempuan. Menurutnya, keputusan childfree disebabkan berbagai faktor lain.

Baca juga : Ayo, Bentuk Matra Siber

“Childfree tinggi disebabkan oleh: Rumah mahal, sekolah ma­hal, makanan sehat mahal, lapang­an kerja sempit, kebijakan nggak berpihak pada perempuan bekerja, dan lain sebagainya. Ini semua isu struktural, tanggung jawab Peme­rintah. Ini belum membahas isu budaya, dimana laki-laki patriarkis nggak mau berbagi peran dalam rumah tangga, masih banyak...! Tapi yang disalahkan atas isu besar ini: PEREMPUAN,” protesnya.

“Inilah alasanku nggak pernah nge-judge orang yang nggak mau nikah atau nggak mau pu­nya anak. Soalnya, masalahnya sangat kompleks kak,” timpal akun @sailorusagiii.

Akun @emye82 berpendapat, keputusan seseorang atau pasang­an untuk childfree, pasti dilakukan dengan pertimbangan matang. Hal itu bersifat pribadi sehingga tidak etis menggunjing orang-orang memutuskan childfree.

Baca juga : Pemukiman Tanah Tinggi Akan Dibikin Lebih Keren

“Daripada judge childfree/ti­dak, lebih baik kita paham: 1) Ada yang punya kondisi medis. 2) Ada yang belum siap mental/finansial. 3) Ada yang mau fokus goals lain dulu. Yang penting: hormati pilihan orang lain dan jangn lupa anak itu amanah, bukan ‘achieve­ment’ sosial. Let’s be kind to each other,” tuturnya.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Kamis, 14 November 2024 dengan judul Alasan Ekonomi Hingga Faktor Pendidikan, Fenomena Childfree Makin Tumbuh Subur

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense