RM.id Rakyat Merdeka - Generasi muda Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung dan melaksanakan aksi pengendalian iklim di tanah air. Pernyataan itu disampaikan di Konferensi Iklim Dunia, COP29 di Azerbaijan. Melalui kegiatan yang dihelat di Pavilion Indonesia.
Ada dua anak muda yaitu Gamma Thohir dan Zagy Berian, yang mendapat kesempatan bicara pada sesi Today for Future: Youth Inclusive Action to Accelerate Just Energy Transition, Paviliun Indonesia, Minggu (17/11). Keduanya berbagi kisah tentang upaya melakukan transisi energi di daerah-daerah terpencil pelosok tanah air, satu panggung dengan UN Secretary General’s Youth Advisory Group on Climate Change, Joyce Mendez serta COP 29 Youth Champion, Leyla Hasanova.
Gamma Thohir adalah Founder Desa Bumi. Dan Zagy Berian adalah Founder Society of Renewable Energy (SRE). Kedua gerakan ini, sama-sama berbasis pada pemberdayaan masyarakat, sekaligus melaksanakan program mewujudkan energi bersih.
Desa Bumi didirikan pada tahun 2015, ketika Gamma berusia 15 tahun. Dia membangun sebuah mikrohidro dengan kapasitas sekitar 40 kW di sebuah desa di Sukabumi, Jawa Barat. Program itu berhasil menghasilkan listrik dan disalurkan ke 75 rumah tangga dan pusat kegiatan pemuda di wilayah itu. Sukses dengan desa pertama, programnya sempat tertunda karena Gamma harus melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Selepas meraih gelar Sarjana di Pepperdine University, USA, Gamma melanjutkan program Desa Bumi di dua lokasi lainnya yaitu Desa Liyu dan Desa Bangkiling, Pulau Kalimantan pada tahun 2022 dan 2023.
Sedangkan Zagy Berian dikenal sebagai pelopor komunitas energi bersih di Indonesia dengan ekosistem anak mudanya yang kuat. SRE didirikan oleh Zagy tahun 2019, disaat dia kuliah di tingkat 3 Teknik Mesin ITB, Bandung. Dalam lima tahun perjalanannya, SRE kini telah menjadi komunitas anak muda terbesar di Indonesia, yang menaruh perhatian pada energi transisi dan perubahan iklim. SRE sudah menjadi student chapter di 50 kampus di seluruh Indonesia dan member teregisternya lebih dari empat ribu orang.
Baca juga : Abdul Aziz: Baru Bertemu, Belum Ada Pernyataan Resmi
Dalam perjalanannya, Gamma dan Zagy kemudian melakukan kolaborasi kegiatan. Tahun lalu, pada COP28 di Dubai, keduanya menandatangani kesepakatan bersama di hadapan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI serta sejumlah pemangku kepentingan, untuk melakukan program membangun ekonomi desa melalui pemanfaatan energi bersih. Wujud dari kolaborasi itu adalah membangun desa bumi yang keempat di Sukobubuk, Pati, Jawa Tengah.
“Desa Bumi dan SRE memiliki kesamaan cara pandang dalam transisi energi. Kita memiliki dua hal yang bisa saling melengkapi. SRE fokus dalam operasional sistem sementara Desa Bumi fokus pada pengembangan bisnis. Kami setuju, melalui bukti nyata, kami dapat membangun gerakan yang lebih masif lagi,” ucap Gamma penuh semangat.
Zagy berpendapat, kepulauan Indonesia memiliki karakteristik yang beragam dan cukup menantang. Terutama dalam hal distribusi logistik untuk mencapai daerah-daerah terpencil dan terluar. Sehingga diperlukan komunitas yang terdesentralisasi agar upaya mewujudkan energi bersih bisa menjangkau wilayah yang dituju.
“Penyediaan energi bersih ke daerah terpencil memerlukan biaya yang tinggi. SRE memiliki solusi menurunkan biaya melalui jejaringnya. Cukup kami turunkan 1 orang dari pusat, selebihnya menggunakan jejaring lokal. Maka biaya pemasangan energi bersih bisa lebih murah separuhnya,” kata Zagy.
Saat ini, SRE memiliki model pengembangan bisnis bersama mitra pelaksana CSR dan pemerintah, sudah berhasil membangun desa energi bersih di lebih dari 100 lokasi seluruh Indonesia. SRE meyakini, dengan pengalaman yang dimiliki, maka kolaborasi dengan Desa Bumi akan makin banyak melahirkan program yang bermanfaat untuk masyarakat.
Baca juga : Laode Basir: Itu Tanda Dukungan Yang Sangat Tegas
Pembangunan energi bersih sebagai Desa Bumi Keempat di Sukobubuk Pati, targetnya akan selesai pada akhir tahun 2024 ini. Ada Kelompok Tani Hutan (KTH) yang dilibatkan di sana. Mereka menjadi mitra kolaborator. Akan dibangun Pembangunan sarana air bersih untuk wilayah produktif mereka, melalui pompa air tenaga surya, dengan sasaran seluas 20 hektar.
“Energi dan air, merupakan dua aspek fundamental ekonomi masyarakat. Desa Bumi melihat dua hal ini penting untuk transisi energi dan menyasar keadilan bagi masyarakat di daerah terpencil,” sebut Gamma.
Proyek Desa Bumi di Pati diharapkan bisa membantu meningkatkan produksi buah-buahan dari petani di sana, sekaligus membantu proses penyimpannya sebelum buah-buah itu diolah. Pemilihan lokasi di Pati, adalah hasil diskusi bersama dengan Direktorat Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan RI. Kelompok Tani Hutan Sukobubuk saat ini telah menjadi binaan Kementerian Kehutanan dengan Kategori platinum, yang artinya sudah memiliki kegiatan ekonomi yang memberdayakan masyarakatnya.
“Kami memilih desa yang telah memiliki kegiatan ekonomi, karena ada pesan khusus yang ingin kami sampaikan. Yaitu, memberikan sebuah kegiatan aplikatif dari pemanfaatan energi bersih untuk ekonomi masyarakat,” tambah Gamma.
Saat ini, Desa Bumi dan SRE, telah menyiapkan peningkatan kapasitas bagi para kelompok tani yang nantinya akan mengelola proyek di Pati itu. Petani nantinya akan mendapatkan akses air bersih dan fasilitas penyimpanan dengan cara berlangganan melalui aplikasi yang disiapkan. Sistem ini akan meningkatkan siklus budidaya dan panen para petani di sana. Desa Bumi dan SRE membuka peluang sebesar-besarnya bagi generasi muda yang ingin kontribusi langsung dan ingin join dalam kegiatan ini.
Baca juga : Pemerintah Makin Gencar
“SRE menghitung, sekitar 8-13 juta sektor pekerjaan green jobs yang harus dikejar oleh Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Program partisipasi nyata secara kolaboratif ini kunci keberhasilan Indonesia” kata Zagy.
Menurut Gamma, generasi muda sudah saatnya memimpin percepatan proses transisi energi, melalui pendekatan evidence-based policy. “Ini adalah kunci untuk menarik minat banyak pihak dalam melakukan kolaborasi. Kami hadir tidak hanya sekedar komitmen diatas kertas, melainkan bukti nyata membangun kemandirian desa melalui kolaborasi Desa Bumi dan SRE,” ujar Gamma.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Senin, 18 November 2024 dengan judul Dari Konferensi Iklim Dunia COP29 Azerbaijan, 2 Anak Muda Indonesia Berbagi Kisah Transisi Energi Di Daerah Terpencil
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.