Pada Februari 2019, Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung Sumatra Barat dihebohkan dengan masukya inyiak balang –sebutan orang Minang untuk jenis Harimau Sumatra. Tidak tanggung-tanggung, di kampungnya Buya Syafii Maarif itu, pada 10 sampai 12 Februari 2019 telah memangsa empat ekor kambing milik warga Nagari Unggan.
Mengganasnya Harimau di Masa Kolonial Belanda
Kata inyiak sendiri mempuanyai makna yang sakral. Pasalnya inyiak dalam bahasa Minang berararti panggilan kehormatan untuk tetua yang setara dengan kakek. Sementara kata balang mengarah pada warna bulu belang harimau. Sehingga julukan tersebut dimaksudkan sebagai sosok pelindung.
Kisah turun dan mengamuknya si raja hutan, rupanya kerap terjadi sejak masa Kolonial Belanda. Pada 3 Oktober 1918 sekawanan harimau turun dan menyerang permukiman warga. Bila pada 2019 yang dimangsa sekitar 4 ekor, pada Oktober 1918 belasan kambing yang dimangsa si haraja hutan tersebut, termasuk anjing dan kucing (Sumatra Bode, 10 Oktober 1918).
Sejak kasus penyerangan oleh kawanan inyiak balang tersebut, para petani yang biasanya mendatangi areal sawahnya, jadi was-was. Mereka tidak berani lalu lalang sendirian. Namun harus secara berkelompok dan membawa parang, mereka menyusuri areal persawahan yang terletak di cekungan.
Baca juga : Inter Milan Teratas, Genoa Dan Parma Naik
Bila tidak waspada, salah-salah mereka pun menjadi mangsa si raja hutan. Hal ini terbukti ketika seorang warga Calau dimangsa oleh si inyiak balang pada 4 Oktober 1918. Surat kabar de Sumatra Post melansir berita, sekitar pukul 6 sore, seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun, bersenjatakan parang, pergi dari rumahnya menuju surau. Namun, pada jarak 10 meter dari rumah, si pemuda disambar harimau dan jatuh tersungkur (de Sumatra post, 22 Oktober 1918).
Orang-orang yang berada dalam rumah, segera keluar setelah mendengar teriakan si pemuda yang kemudian menghilang. Mereka hanya menemukan kopiah beludru dan parang milik pemuda itu telah tergeletak. Si inyiak balang menghilang. Tubuh si anak muda diseret ke dalam semak-semak (De Indier, 29 Oktober 1918).
Pihak keluarga si pemuda pun mencari “orang pintar” – untuk membantu menemukan di mana tubuh si pemuda malang. Setelah mengetahu lokasi, lima orang berangkat mengikuti jejak harimau. Nyali mereka pun menciut, tatkala di tepi hutan rimba sudah mendengar auman dari si inyiak balang.
“...tetapi di tepi hutan yang gelap, keberanian sebagian besar orang tenggelam lebih rendah dari telapak kaki mereka. Terlebih lagi ketika mereka mendengar lolongan sang maharaja” – demikian De Preager Bode memberitakannya pada 1 November 1918.
Keesokan harinya, 5 Oktober 1918, lebatnya hutan berhasil ditembus oleh mereka. Kondisi tubuh si pemuda telah terkoyak-koyak dan tidak utuh lagi. Untuk mencegah kembalinya si inyiak balang ke permukiman warga, pada 7 Oktober 1918 sebuah perangkap disiapkan, tepat di dekat kediaman si pemuda. Mereka pun berhasil menjebak harimau itu dan masuk ke dalam perangkap. Namun, mereka tidak mampu mendekat. Karena seekor harimau lainnya sedang berjaga di luar perangkap (De Preager Bode, 1 November 1918).
Sekitar 12 tahun kemudian, di Nagari Koto Mangilang, district Pangkalan afdeling Limapuluh Koto, inyiak balang kembali meminta korban. Pada 1 Juli 1930 sekitar pukul 2 siang, seorang laki-laki diserang seekor harimau, ketika ia membersihkan ladangnya. Pemangsa itu merobek bagian bawah wajahnya dengan cakarnya. Istrinya yang berada di sekitar lokasi kejadian langsung lari, mencari bantuan ke kampung yang berjarak 3 km jauhnya. Ketika kembali ke lokasi, ia menemukan suaminya telah tidak bernyawa (Sumatra Bode, 3 Juli 1930).
Empat tahun kemudian, 19 September 1934 inyiak balang kembali membuat heboh. Kali ini, ia masuk ke Nagari Lintau. Ketika pengajian tengah dihelat di sebuah rumah gadang milik warga Lintau, seekor harimau menyerang anjing milik si pemilik rumah. Anjing melolong panjang dan berusaha melarikan diri. Dengan sebuah lompatan, harimau tersebut berhasil menangkap anjing tersebut dan menghilang ke kegelapan. Jamaah pengajian yang berada di atas rumah gadang pun khawatir untuk kembali ke rumahnya (Sumatra Bode, 21 September 1934).
Rupanya serangan harimau, tidak melulu menakuti masyarakat. Pada 18 Maret 1914, harimau juga menyerang seorang perempuan muda yang baru menikah di Batang Kapeh, Afdeling Painan Bandar X Kerinci. Si perempuan yang membantu ayahnya menyiangi rumput di sekitar sawah, tiba-tiba diserang oleh inyiak balang.
Laki-laki tua itu dengan berani datang untuk membantu anaknya dan segera menyerang pemangsa dengan parangnya. Harimau itu beberapa kali mendapat tebasan dan terhuyung-huyung karena serangan yang tak terduga itu. Si inyiak balang pun lantas melarikan diri dengan beberapa luka serius ke hutan terdekat. Sang ayah segera menggendong putrinya yang telah berdarah-darah dan membawanya pulang.
Sebelas tahun kemudian, 5 Februari 1935, Asisten Contoelur Painan bernama E.G.A. Lapré berkodak di depan seekor hariamau yang telah ditembak mati. Kenapa tiba-tiba harimau itu menjadi korban?
Baca juga : Kenaikan Tarif Air Di Jakarta Sangat Lambat Dibanding Komoditas Lain
Harimau itu diyakini oleh masyarakat setempat sebagai jelmaan dari seorang bilal masjid yang baru saja meninggal (Westenenk, 1962: 23). Masyarakat mengklaim harimau jadi-jadian itu ingin membalas dendam kepada kerabatnya, yang diduga berselisih paham karena masalah uang. Hewan itu menyerang seorang perempuan di tengah malam dan merobek punggung dan perutnya. Tidak hanya itu, si inyiak balang pernah melintasi desa pada pukul 5 sore. Ia memangsa anjing, kambing, ayam, dan bahkan seekor kucing (Val, 1940: 8).
Mitos Seputar Inyiak Balang
Meskipun keberadaan dari inyiak balang mencemaskan, namun dalam memori kolektif orang Minang, binatang buas ini juga dihormati. Sehingga harimau juga diberikan julukan si-Ampang Limo.
Menurut kepercayaan masyarakat Minang, inyiak balang merupakan siluman harimau yang dapat berubah menjadi manusia, harimau, atau manusia harimau. Inyiak balang juga dipercaya mampu berkomunikasi dengan kelompok manusia. Beberapa orang juga percaya bahwa inyiak balang merupakan sosok penjaga, ketika sedang berada di kampung halaman, atau pun saat merantau. Mereka yakin setiap orang Minang memiliki Inyiak yang menjaganya, meskipun tidak semua mampu melihat dan mengenalinya.
Selain dikenal karena merupakan siluman dan penjaga, mitos inyiak balang dari tradisi lisan Minang percaya pada adanya komunikasi antara harimau dan manusia. Misalnya, ketika ada muncul jejak harimau di perkampungan, ini seperti koreksi bagi mereka apakah ada dosa atau kesalahan yang telah mereka perbuat.
Terkadang, ketika seseorang tersesat di dalam hutan rimba, bila berpapasan dengan inyiak balang –akan minta bantuannya untuk menunjuki jalan ke perkampungan terdekat. Biasanya, si raja hutan akan menyisiri aliran sungai dan mengantarkannya hingga batas perkampungan.
Tidak hanya sekadar sakral, gerak si inyiak balang pun menjadi bagian utama dari silek tuo. Silek Harimau namanya. Ilmu silat yang terinspirasi dari gerak-gerik harimau itu, dimulai dari kuda-kuda, sikap waspada, dan gerakan menyerang persis menyerupai inyiak balang.
Silat harimau memiliki gerakan-gerakan yang indah nan gesit, namun di balik gerakannya yang indah terdapat serangan-serangan mematikan yang digunakan untuk melumpuhkan lawan dengan sangat cepat. Bahkan, silat ini juga memiliki jurus dengan memakai kurambik–sejenis pisau kecil yang merepresentasikan cakar harimau. Terdapat pula keyakinan, jika ada pesilat telah mamutuih silek dengan harimau, dirinya kelak akan berubah wujud menjadi harimau.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.