RM.id Rakyat Merdeka - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantui sejumlah wilayah di Tanah Air. Semua pihak harus bekerja sama, termasuk masyarakat, untuk mencegah berulangnya kejadian karhutla.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Thomas Nifinluri menegaskan, strategi pencegahan karhutla sulit berjalan efektif, tanpa keterlibatan atau peran aktif masyarakat. Sebab itu, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
“Partisipasi masyarakat dalam program peningkatan kebakaran hutan kita masih rendah. Ini terus kami upayakan, agar kepedulian dan kesadaran masyarakat semakin meningkat,” ujar Thomas di Jakarta, Jumat (31/1/2025).
Baca juga : Ikut Pilkada Lagi, Minta Logistik Ke Dirut BUMD
Dia menerangkan, karhutla di Indonesia berbeda dengan wildfire di negara-negara, seperti Amerika Serikat (AS), yang lebih banyak terjadi secara alami. Di Indonesia, sebagian besar kasus karhutla justru disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak terkendali.
Selain itu, lanjut Thomas, model pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat masih belum merata di seluruh Indonesia. “Kapasitas kelompok masyarakat mencakup akses pengelolaan, know how, dan pendanaan masih terbatas, sehingga model pengelolaan karhutla berbasis masyarakat belum terbangun secara maksimal,” imbuhnya.
Keterbatasan itu, sambung Thomas, membuat upaya pencegahan lebih sulit diterapkan di tingkat akar rumput. Padahal, dari sisi teknologi dan strategi penanganan, inovasi manajemen kebakaran Indonesia telah diakui dunia.
Baca juga : Deposito Emas Pegadaian Menarik Dan Menjanjikan
“Kita punya solusi permanen, dengan analisis cuaca dan iklim, manajemen posko taktis, serta pengelolaan landscape, khususnya gambut. Namun, tanpa dukungan masyarakat, strategi ini belum cukup untuk menekan jumlah kebakaran yang terjadi setiap tahun,” cetusnya.
Sebelumnya, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengungkapkan, sepanjang tahun 2024, terdapat 629 kasus karhutla di Indonesia. Menurut dia, dari sembilan jenis bencana yang melanda Indonesia, karhutla mengalami peningkatan yang cukup mendominasi, pada periode Juli hingga Oktober 2024.
“Peningkatannya hingga ratusan kejadian per bulan pada periode Juli-Oktober. Sebab, pada bulan tersebut merupakan musim kering,” ujarnya.
Baca juga : Bahlil Akan Tiru Teknik Amerika Sedot Minyak
Lebih lanjut, Abdul mengatakan, sebaran kasus karhutla diperiode tersebut juga terjadi secara merata terjadi. Di antaranya, Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.