Sebelumnya
Di Bali, warga rela antre panjang untuk membeli gas 3 kg pada operasi pasar yang dilakukan di sejumlah titik di wilayah Badung, Bali. Operasi pasar digelar untuk mengurangi kepadatan penjualan di tingkat pangkalan atau agen resmi.
Di Surabaya, lonjakan permintaan terhadap gas melon melonjak tinggi. Di Pangkalan gas LPG yang terletak di Jalan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo, Surabaya, waktu hanya tiga jam, ratusan tabung gas yang dijual pangkalan tersebut ludes terjual.
Pemandangan yang sama juga terjadi di Tangerang, Banten. Sejumlah pangkalan penjualan gas LPG dikerubuti warga sejak pagi. Warga yang ingin membeli gas 3 kg, harus antre panjang.
Fenomena ini mencuri perhatian Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. Mereka bahkan telah mengecek penyebab antrean tersebut, khususnya di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Banten.
Baca juga : Yang Ndablek, Saya Tindak!
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Polisi Helfi Assegaf mengungkapkan, terjadi perubahan pendistribusian yang sebelumnya bisa melalui pengecer, saat ini langsung melalui agen.
Kemudian, ada pengurangan pasokan gas 3 kg dari supplier ke agen atau ke pangkalan. Helfi menyebut pasokannya menurun dari sekitar 280 tabung per hari menjadi 130 tabung per hari.
Kabar baiknya, tidak ada indikasi penimbunan. “Itu sementara dan saat ini kita komunikasikan dengan Dirjen Migas. Tim kami sedang komunikasi di sana, kita tunggu hasilnya gimana,” kata Helfi.
Anggota Komisi XII DPR RI Syafruddin menegaskan, tidak boleh ada penimbunan, meski Presiden Prabowo Subianto telah kembali mengizinkan pengecer menjual gas 3 kg. Syafruddin meminta Pemerintah memantau langsung ke daerah-daerah. “Jangan sampai ada penimbunan gas elpiji 3 kg oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” katanya di Jakarta, Rabu (5/2/2025).
Baca juga : Dasco: Bukan Nyari Masalah
Selain itu, dia juga meminta adanya kemudahan bagi pengecer dalam mendapat izin berusaha. Menurutnya, keputusan Pemerintah untuk membolehkan pengecer kembali menjual gas 3 kg, jangan sampai menyulitkan rakyat.
“Banyak masyarakat menjadi pengecer atau pangkalan gas elpiji 3 kg sebagai sumber mata pencaharian mereka, khususnya masyarakat menengah ke bawah,” tegasnya
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto sudah turun tangan terkait polemik penjualan gas LPG 3 kg yang membuat antrean panjang di sejumlah daerah. Presiden meminta Bahlil untuk membolehkan kembali pengecer menjual gas 3 kg.
“Presiden menginstruksikan ESDM untuk mengaktifkan kembali pengecer-pengecer ang ada mulai hari ini (kemarin) agar mereka dapat berjualan seperti biasa. Sementara itu mereka juga akan diatur sebagai sub pangkalan,” ujar Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Selasa (4/2/2025).
Baca juga : Cabut Sertipikat Pagar Laut, Nusron Tutup Pintu Kompromi
Ditegaskan Dasco, larangan pengecer menjual elpiji 3 kg bukan kebijakan Presiden. Sebab itu, ketika terjadi keresahan di masyarakat, Prabowo turun tangan untuk menganulir aturan yang dibuat Bahlil.
Meski dibuka kembali, Dasco berpesan agar para pengecer harus terdaftar sebagai subpangkalan elpiji 3 kg. “Administrasi segala macamnya bisa sambil berjalan saja,” pinta Ketua Harian Gerindra ini.
Ia juga memastikan bahwa tidak ada kelangkaan, mengingat stok elpiji 3 kg berlimpah. Sembari Pemerintah menggodok regulasinya agar harga yang sampai di masyarakat tidak mahal. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.