Ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron mendaki hingga puncak Candi Borobudur dan berupaya menyentuh patung Buddha yang tersembunyi di balik stupa, publik melihatnya sebagai momen simbolik penuh kekaguman.
Namun bagi Indonesia, khususnya sektor pariwisata, momen tersebut menyimpan peluang jauh lebih besar, ia adalah sinyal bahwa dunia mulai kembali melirik kekuatan budaya Nusantara sebagai panggung peradaban global.
Macron tidak hanya sedang berwisata, ia sedang membangun narasi, mengukir kesan, dan memberi validasi dunia atas keagungan yang kita miliki.
Dalam konteks diplomasi modern, gestur kecil seperti ini adalah bagian dari soft power yang mampu memberi gema panjang secara ekonomi, budaya, bahkan politik. Sayangnya, potensi besar ini kerap berlalu tanpa jejak kebijakan.
A. Kekaguman yang Perlu Dikonversi
Dalam keterangannya, Macron menyebut Borobudur sebagai “kesaksian dari betapa besarnya peradaban ini.” Ucapan ini seharusnya menjadi headline narasi pariwisata Indonesia ke depan.
Sayangnya, kita masih kerap terjebak dalam rutinitas promosi destinasi secara teknokratis alih-alih membangun persepsi global berbasis nilai dan warisan.
Prancis bukan negara sembarangan dalam peta pariwisata dunia. Tahun 2023, Prancis mencatat 100 juta kunjungan wisatawan internasional dan menjadi negara dengan wisatawan outbound terbesar keempat di dunia (UNWTO, 2023).
Baca juga : Groundbreaking Bali Benoa Marina, Pelindo Perkuat Pariwisata Maritim Indonesia
Sementara itu, menurut data BPS dan Kemenparekraf, jumlah wisatawan Prancis yang datang ke Indonesia pada tahun 2023 mencapai 116.731 orang meningkat signifikan dari 63.325 orang pada 2022. Namun angka ini masih terbilang kecil dibanding potensi pasar Eropa lainnya.
Momentum kunjungan Macron seharusnya menjadi katalis lahirnya skema high-level tourism diplomacy dengan Prancis. Kerja sama bisa diwujudkan melalui program sister heritage, pertukaran budaya, pengembangan paket wisata tematik spiritual, hingga pembukaan rute langsung Prancis-Borobudur melalui Yogyakarta International Airport (YIA).
Saat ini, ketiadaan penerbangan langsung dari Eropa menuju YIA adalah hambatan nyata dalam mengakses kawasan Borobudur secara efisien.
B. Borobudur Bukan Sekadar Destinasi
Apa yang kerap luput dari perhatian banyak pihak adalah bahwa Borobudur bukan sekadar destinasi wisata, tetapi sebuah ekosistem budaya dan ekonomi lokal yang strategis. Di sekelilingnya hidup ribuan pelaku UMKM, pengrajin, pelukis, pematung, hingga pemandu wisata yang menggantungkan harapannya pada keberlanjutan narasi besar Borobudur.
Transformasi kawasan ini menjadi Creative Spiritual Economy Hub akan menciptakan nilai tambah berkelanjutan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga investor budaya. Borobudur dapat diposisikan sebagai pusat produk budaya berbasis spiritualitas Asia, dari batik kontemplatif, kaligrafi Buddhis-Jawa, hingga produk wellness seperti aromaterapi dan jamu modern.
Kehadiran Macron yang menyentuh patung Buddha di dalam stupa bisa dijadikan titik awal penciptaan paket wisata berkelas dunia bertema "In the Footsteps of Macron" yang menggabungkan Borobudur, Prambanan, Taman Sari, hingga destinasi reflektif lainnya seperti Ubud dan Tana Toraja. Cerita sudah ada, kini saatnya dikemas dan dijual dengan cerdas.
C. Lompatan Strategis Pariwisata Berbasis Diplomasi Budaya
Baca juga : HUT ke-77, IPSI Gelar Apel Nasional Dihadiri Presiden Prabowo & Ribuan Pendekar
Pariwisata dunia saat ini tidak lagi didominasi oleh kuantitas kunjungan semata. Pasca-pandemi, tren value-based tourism, slow travel, dan heritage experience menjadi primadona.
Indonesia memiliki semua bahan baku untuk unggul dalam segmen ini. Yang dibutuhkan adalah visi jangka panjang, kapasitas kelembagaan, dan kemampuan memanfaatkan momen global seperti kunjungan Macron sebagai batu loncatan.
Jika Tiongkok mampu mengangkat Xi’an sebagai destinasi sejarah global lewat branding Jalur Sutra, atau India menjual Yoga dan Taj Mahal sebagai lambang kejayaan spiritual dan arsitektur, maka Indonesia pun layak menjadikan Borobudur sebagai global spiritual heritage landmark.
Namun semua ini hanya mungkin bila ada intervensi kebijakan lintas sektor, diplomasi udara, kurasi budaya, promosi digital, hingga ekosistem UMKM kreatif.
D. Diplomasi Pariwisata yang Tak Boleh Hilang
Kunjungan Macron ke Borobudur mungkin hanya berlangsung singkat, tapi ia menyisakan gema panjang yang tak kasat mata. Di balik keheningan stupa dan relief batu, tersimpan pesan bahwa dunia tengah kembali mencari keseimbangan, spiritualitas, dan kebijaksanaan peradaban Timur.
Saat seorang Presiden Prancis berdiri dalam keheningan Borobudur dan berkata bahwa ini adalah "kesaksian peradaban besar", dunia mendengar. Pertanyaannya: apakah Indonesia cukup siap untuk menjawabnya bukan hanya dengan kebanggaan, tetapi dengan strategi besar?
Jika kita tak segera menjadikannya momentum lompatan, sejarah akan mencatatnya hanya sebagai kunjungan biasa. Padahal, di balik itu tersimpan kemungkinan luar biasa.
Baca juga : Penegakan Hukum Diharapkan jadi Prioritas Prabowo
E. Lompatan Besar Itu Dimulai dari Cerita Kecil
Apa yang terjadi saat Macron menyentuh patung Buddha dalam stupa bukan hanya anekdot perjalanan, tapi titik mula sebuah kemungkinan besar, bahwa dengan strategi yang cerdas, narasi yang kuat, dan eksekusi yang berani, Borobudur bisa menjadi episentrum diplomasi budaya global dan katalisator utama kebangkitan pariwisata Indonesia.
Presiden Prabowo dan jajaran Kabinet ke depan memiliki peluang emas, tidak hanya untuk membangun infrastruktur, tetapi juga membangkitkan kepercayaan diri nasional bahwa Indonesia mampu menjadi magnet budaya dunia. Dan itu semua, bisa dimulai dari batu-batu sunyi di Borobudur yang diam-diam memikat seorang Macron.
Catatan Pamungkas
Pariwisata tidak lagi cukup hanya dikelola sebagai industri. Ia harus dijalankan sebagai alat diplomasi, kendaraan budaya, dan sumber pertumbuhan ekonomi berbasis makna. Kunjungan Macron adalah pembuka pintu. Kini, saatnya kita menentukan, apakah ingin sekadar menjadi penjaga warisan, atau penggerak kebangkitan besar berikutnya.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.