BREAKING NEWS
 

Swasembada Pangan Sukses, Presiden Optimistis Ekonomi Tumbuh 7 Persen

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : SISWANTO
Minggu, 22 Juni 2025 08:00 WIB
Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang (kiri) saat menjadi pembicara utama di forum St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025, Rusia, Jumat (20/6/2025). (Foto: Biro Pers)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini naik menjadi 7 persen. Keyakinan itu didasari program swasembada pangan dan energi yang berjalan sukses.

Hal itu disampaikan Prabowo saat menjadi pembicara utama di forum St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025, Rusia, Jumat (20/6/2025). Prabowo membagikan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di hadapan pimpinan negara sahabat, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

“Para ahli saya menyampaikan bahwa di semester pertama ini, pertumbuhan ekonomi kami lebih dari 5 persen. Bahkan, bisa mendekati 7 persen pada akhir tahun ini atau bahkan lebih,” kata Prabowo.

Prabowo mengatakan, pemerintahannya telah mengambil langkah yang benar dalam membuat kebijakan. Sehingga, target-target yang telah ditentukan bisa dicapai dalam waktu dekat. “Ini menunjukkan bahwa kami telah memilih jalan yang benar dan kami sedang mencapai tujuan kami,” tambah Prabowo.

Prabowo kemudian mencontohkan sejumlah kebijakannya yang memicu kenaikan angka pertumbuhan ekonomi menjadi 7 persen. Yakni capaian konkret sektor pangan nasional sebagai hasil reformasi regulasi dan pemberantasan korupsi yang telah dilakukan Prabowo.

Baca juga : Polri Gandeng FBI, 2 Kali Pesawat Haji Diancam Bom

Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan, sebentar lagi Indonesia masuk kategori negara yang mampu menjaga ketahanan pangannya. Indonesia juga akan menjadi pemain pangan di kancah internasional.

“Dalam tujuh bulan pemerintahan saya, produksi beras dan jagung meningkat sekitar 50 persen. Ini angka peningkatan terbesar dalam sejarah Indonesia,” ungkap Prabowo, optimis.

Capaian tersebut, tegas Prabowo, bukan kebetulan. Akan tetapi hasil dari strategi deregulasi dan reformasi birokrasi yang memangkas hambatan, sekaligus menindak tegas praktik korupsi di sektor pangan dan pertanian.

“Upaya ini dilakukan dengan deregulasi, memangkas regulasi yang menghambat, dan pemberantasan korupsi tegas. Hasilnya sudah terlihat,” ujarnya.

Adsense

Tak hanya lonjakan produksi, Prabowo juga mencatat cadangan beras nasional nasional mencapai rekor tertinggi sepanjang masa 4,4 juta ton. Ia menyebut capaian ini sebagai pijakan awal menuju target besar Pemerintah dalam empat tahun ke depan.

Baca juga : Akhirnya, Kaesang Maju Di Kompetisi Ketum PSI

“Target kami dalam empat tahun, swasembada pangan dan menjadi pengekspor beras dan jagung,” tegas Prabowo.

Menteri Pertahanan periode 2019-2024 ini menjelaskan, ada empat agenda utama pemerintahannya. Yakni swasembada pangan, swasembada energi, peningkatan kualitas pendidikan, dan percepatan industrialisasi.

“Capaian sektor pangan ini diharapkan menjadi fondasi bagi Indonesia untuk berperan lebih besar di panggung global, termasuk melalui keanggotaan BRICS dan kemitraan strategis dalam New Development Bank,” pintanya.

Seperti diketahui. Hingga Mei 2025, cadangan beras pemerintah (CBP) tembus 3,4 juta ton. Angka ini jauh melampaui batas aman yang sebesar 2 juta ton.

Pemerintah yakin dengan panen raya yang masih berlangsung di berbagai daerah, CBP bisa mencapai 4 juta ton. Hasil ini membuat Indonesia dipastikan tidak akan melakukan impor beras lagi hingga 2026.

Baca juga : Kemen PANRB: Rekrutmen Bakal Bersih Dan Transparan

Berdasarkan laporan USDA Rice Outlook April 2025, produksi beras Indonesia musim tanam 2024/2025 diperkirakan mencapai 34,6 juta ton. Angka ini meningkat 600 ribu ton dari proyeksi sebelumnya dan naik 4,8 persen dibanding produksi tahun lalu. Vietnam menempati urutan kedua dengan produksi beras sebesar 26,5 juta ton. Disusul Thailand dengan produksi 20,1 juta ton beras, Filipina 12 juta ton, Kamboja 7,337 juta ton, Laos 1,8 juta ton, dan Malaysia 1,750 juta ton.

Terpisah, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikurahman sepakat bahwa swasembada pangan berkorelasi pada pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, keberhasilan memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan kemampuan mengekspor surplus produksi akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan.

Keberhasilan swasembada pangan jelas menjadi modal penting bagi stabilitas domestik. Terlebih produksi beras melonjak 51,25 persen dan jagung 39,4 persen pada Kuartal-1 2025.

“Sektor pertanian pun tumbuh impresif 10,52 persen, menopang pertumbuhan ekonomi sebesar 1,11 persen poin,” imbuh Rizal kepada Rakyat Merdeka. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense