Sebelumnya
Bahkan, dokter forensik RSUPN Cipto Mangunkusumo dr Yoga Tohjiwa menyatakan, tidak ditemukan zat beracun di tubuh korban ataupun penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pertukaran oksigen pada organ ataupun jaringan tubuh korban.
“Maka sebab mati almarhum karena gagal bernapas akibat gangguan pertukaran oksigen di saluran nafas atas,” tegasnya.
Ketua Umum Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Nathanael E.J. Sumampouw menyebut ADP mengalami burnout berat. Sebagai diplomat pelindung WNI, ia memikul tanggung jawab besar yang menguras mental. Menurutnya, tekanan itu mengubah cara korban memandang diri sendiri dan masa depannya.
Baca juga : Menko Polkam: Antisipasi Puncak Kemarau Di Sumsel, Pemerintah Siaga Penuh
“ADP menyimpan tekanan secara diam-diam. Ia pribadi yang peduli, namun tidak membagikan beban. Ini berbahaya,” kata Nathanael.
Meski polisi menyatakan kematian ADP murni bunuh diri, pihak keluarga belum sepenuhnya menerima. Mereka menilai ada kejanggalan.
“Kami yakin almarhum bukan orang seperti itu,” tegas kakak ipar korban, Meta Bagus, saat ditemui di Yogyakarta.
Baca juga : Politisi Golkar Tolak PT 0 Persen
Menurut Bagus, ADP tak pernah menunjukkan gejala depresi atau tekanan ekstrem. Ia juga tidak punya musuh atau masalah keluarga.
“Kami hanya bisa menunggu. Kebenaran pasti akan muncul dan membawa keadilan,” ujarnya.
Pengamat Kepolisian dari ISESS, Bambang Rukminto, mengapresiasi korps baju coklat yang sudah menyelesaikan tugasnya. Namun, Bambang menilai motif di balik bunuh diri tetap perlu dijelaskan ke publik.
Baca juga : NasDem Maluku Rombak Struktur Kepengurusan
Bambang mencontohkan, motif bunuh diri bisa saja muncul akibat kekerasan verbal, intimidasi dari pihak ketiga, atau alasan personal lainnya. Oleh karena itu dia meminta polisi menjelaskannya agar tidak ada ruang spekulasi.
“Kalau motif tidak dijelaskan, masyarakat bisa berpikir macam-macam. Bisa saja muncul tudingan ada tekanan dari pihak tertentu atau alasan lain yang justru kontraproduktif terhadap citra Polri,” ulasnya, semalam. [BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.