Awalnya banyak yang kaget. Bahkan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri mengaku baru tahu tiga setengah jam sebelum dilantik menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Publik pun terbelah: ada yang meragukan, ada yang menaruh harapan.
Apalagi, di hari-hari pertama menjabat, ucapannya soal tuntutan “17+8” sempat menuai polemik. Pernyataannya dinilai tidak peka. Ia buru-buru meminta maaf. Kritik lain muncul: gaya komunikasinya dianggap belum sehalus Sri Mulyani yang terbiasa tampil diplomatis di depan publik internasional.
Namun, jika kita menyelami perjalanan karier dan rekam jejaknya, sosok Purbaya Yudhi Sadewa bukan orang baru dalam urusan ekonomi dan pasar keuangan. Justru di situlah letak menariknya, ia lebih dikenal di kalangan teknokrat dan pelaku pasar modal daripada di ruang publik.
A. Kapitalisasi Harapan Baru
Purbaya punya reputasi kuat di dunia pasar modal. Ia lama dikenal sebagai analis dan ekonom yang mampu membaca arah investasi. Dari Danareksa hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), ia terbiasa bekerja dengan kalkulasi risiko, bukan sekadar mengatur kas negara.
Istilah yang tepat untuk menggambarkan dirinya adalah fiscal strategist with market instinct, seorang menteri keuangan yang tidak sekadar menjaga buku kas, melainkan jeli mencari peluang baru. Di masa lalu, banyak yang melihat Menkeu lebih sebagai bendahara negara. Purbaya datang dengan mentalitas berbeda: investasi sebagai kunci pertumbuhan.
Selain itu, ia dikenal sebagai risk taker yang terukur. Saat memimpin LPS di tengah pandemi Covid-19, ia tidak ragu mengambil langkah-langkah berani untuk menjaga stabilitas perbankan. Dan itu berhasil.
Baca juga : Kadin Harap Menkeu Purbaya Jaga Stabilitas Fiskal
B. Pariwisata: Devisa dan Harapan Menjadi Sektor Prioritas
Mengapa pariwisata penting dalam konteks Menkeu baru ini? Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat, sektor pariwisata menyumbang devisa sebesar USD 10,46 miliar pada 2023, dan ditargetkan meningkat hingga USD 15 miliar pada 2025. Pariwisata adalah salah satu dari tiga penghasil devisa terbesar, berdampingan dengan CPO dan batubara.
Dengan karakter seperti Purbaya, ada alasan untuk optimistis. Sosok yang terbiasa membaca pasar tentu melihat bahwa pariwisata bukan sekadar sektor jasa. Ia adalah sunrise industry dengan potensi investasi besar, dari infrastruktur, marketing transportasi udara, hingga ekosistem digital.
Jika Menkeu sebelumnya identik dengan disiplin fiskal, Purbaya mungkin lebih dikenal sebagai penjelajah ruang fiskal baru. Ia bisa saja mendorong skema pembiayaan kreatif untuk pariwisata, mulai dari tourism bond hingga public-private partnership yang lebih agresif.
C. Prediksi Anggaran Pariwisata
Dengan gaya Menkeu seperti ini, pariwisata berpeluang mendapat porsi perhatian lebih besar. Bukan semata lewat APBN konvensional, melainkan lewat instrumen keuangan yang lebih inovatif. Kita bisa membayangkan pariwisata tidak lagi hanya menunggu kucuran belanja pemerintah, melainkan ditopang ekosistem investasi.
Jika dikelola dengan tepat, bukan mustahil anggaran pariwisata bisa tumbuh di atas tren 10–15% per tahun, apalagi bila dikaitkan dengan target kunjungan wisatawan mancanegara yang sudah disepakati pemerintah: 14 juta pada 2025 dan lebih dari 20 juta pada 2029.
Baca juga : Harapan Terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
D. Rekomendasi Strategis
Untuk itu, ada beberapa langkah strategis yang bisa ditempuh Purbaya:
1. Mendorong instrumen keuangan pariwisata seperti obligasi pariwisata (tourism bond) atau dana investasi infrastruktur pariwisata.
2. Memberikan insentif fiskal bagi investasi hotel restaurant, transportasi, desa wisata dan atraksi wisata berkelanjutan.
3. Membuka akses pembiayaan UMKM pariwisata melalui BPR, fintech, dan lembaga penjamin.
4. Mengintegrasikan pariwisata dengan agenda ekonomi hijau, karena investor global kini mencari proyek berbasis keberlanjutan.
E. Catatan Pamungkas
Baca juga : Pakar Ingatkan Demo Anarkis Ancam Citra Pariwisata Indonesia
Purbaya mungkin belum sefasih pendahulunya dalam memilih kata-kata. Tapi ia punya kelebihan lain: insting pasar, keberanian mengambil risiko, dan pengalaman panjang di persimpangan antara keuangan, energi, dan geopolitik.
Pariwisata Indonesia sedang menunggu momentum baru. Dengan sosok Menkeu seperti Purbaya, harapan itu layak tumbuh: bahwa sektor ini tidak lagi hanya dilihat sebagai sektor jasa, tetapi sebagai mesin devisa, investasi, dan masa depan ekonomi bangsa.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.