BREAKING NEWS
 

Longsor Maut Banjarnegara Akibat Rekahan Tanah Tidur, Pakar Geologi: Bukan Sesar

Reporter & Editor :
M ADE AL KAUTSAR
Rabu, 26 November 2025 12:58 WIB
Longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah. Foto: BNPB

RM.id  Rakyat Merdeka - Bencana tanah longsor yang menewaskan 11 orang di Banjarnegara, Jawa Tengah, dipastikan bukan disebabkan oleh aktivitas sesar aktif. Pemicu utama petaka pada Minggu (16/11) ini adalah rekahan tanah yang sudah lama terbentuk namun luput dari perhatian hingga akhirnya jenuh air saat musim hujan. Rekahan 'tidur' ini menjadi sangat rapuh dan memicu pergerakan tanah masif yang turut merusak 182 rumah warga.

Guru Besar Teknik Geologi Fakultas Teknik, Prof. Wahyu Wilopo, menyebut rekahan baru yang berkembang lama ini menjadi biang kerok kerapuhan lereng di wilayah Banjarnegara hingga Pemalang. Kondisi tanah gembur dan batuan retak semakin rentan bergerak saat terisi air hujan intensitas tinggi.

"Daerah yang rawan terjadinya longsor adalah daerah yang mempunyai lereng curam yang tersusun oleh material gembur atau batuan retak-retak," ujar Wahyu, dilansir laman resmi UGM, Rabu (26/11).

Baca juga : Masa Jabatan Berakhir, Golkar Sulsel Tunggu Keputusan Dari DPP

Menurut Wahyu, longsor mematikan ini berawal dari luncuran atau rotasional yang berubah cepat menjadi aliran akibat tingginya kejenuhan tanah. Ia mengingatkan warga untuk mewaspadai tanda alam seperti pohon miring, air keruh di kaki lereng, atau suara gemuruh sebelum tanah ambrol.

Adsense

Selain faktor alam, kegagalan sistem peringatan dini (EWS) longsor kerap terjadi karena minimnya perawatan dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di lapangan. Padahal sesuai standar SNI, keberadaan sensor penakar curah hujan dan sensor deformasi lereng sangat vital untuk keselamatan warga.

Proses penyelamatan kian pelik karena warga jarang mengikuti gladi evakuasi dan tidak memahami prosedur darurat saat bencana terjadi. Situasi di lokasi makin semrawut akibat fenomena 'wisata bencana' yang memicu kemacetan dan menghambat laju kendaraan petugas ke titik nol.

Baca juga : Danantara Perkuat Arah Restrukturisasi Dan Transformasi Garuda Indonesia

Data terakhir mencatat 17 orang masih dinyatakan hilang akibat peristiwa ini. Wahyu menekankan pentingnya pemerintah menyusun peta kerentanan detail dan menggenjot informasi peringatan dini agar warga bisa evakuasi mandiri ke lokasi aman yang berjarak minimal dua kali tinggi lereng.

 

 

Baca juga : Gubernur Malut Bangga Sultan Tidore Raih Gelar Pahlawan Nasional

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense