RM.id Rakyat Merdeka - Di pagi yang dingin, Kamis (27/11/2025), setelah diguyur hujan semalaman, Fitri (26 tahun) yang sudah siap dengan gaun pengantin putih, ditemani sejumlah warga bergegas menuju Musala Al-Muhajirin, di Desa Kuta Buloh II, Meukek, Aceh Selatan. Fitri akan menikah dengan belahan hatinya, Wahyu (26 tahun), pria asal Nagan Raya. Penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat menjadwalkan akad nikah keduanya paling awal, yakni pukul 08.00 WIB.
Namun, mempelai pria yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Raut wajah Fitri, yang semula ceria, berubah menjadi gelisah. Sebab, Wahyu serta keluarga dekatnya juga tak bisa dihubungi. Listrik mati, jaringan komunikasi pun terputus. Karena Wahyu tak ada kabar, penghulu pun memutuskan geser dari lokasi untuk gantian menikahkan mempelai pengantin lain yang sudah menunggu.
Menjelang siang, warga maupun saudara yang sudah menunggu berjam-jam, satu persatu juga mulai meninggalkan Musala Al-Muhajirin. Fitri, awalnya tetap bersikukuh menunggu. Ia yakin, Wahyu—yang ia kenal sejak menimba ilmu di salah satu pesantren di Aceh Barat Daya (Abdya), bakal memenuhi janji.
Sayangnya, hingga adzan Dzuhur berkumandang, Wahyu tak kunjung datang. Fitri pun pasrah. Dia ikut pulang bersama keluarga, dengan sejuta pertanyaan memenuhi isi kepala. "Nggak ada satu pun yang bisa dihubungi waktu itu untuk tahu apa sebenarnya yang terjadi," cerita Fitri, kepada Rakyat Merdeka, Rabu (3/12/2025).
Baca juga : Kayu Gelondongan Di Banjir Sumatera, KLH Akan Panggil 8 Perusahaan
Semua sanak saudara masih datang silih berganti hingga malam hari, menghadiri resepsi, walaupun akad nikahnya belum terlaksana. Begitu juga dengan teman-teman Fitri. Mereka semua datang meramaikan, sekaligus menghibur Fitri yang mulai terkulai lemah di ruang tengah rumah yang gelap, karena pemadaman listrik. Hanya ada cahaya-cahaya temaram dari lampu senter dan ponsel mereka.
Sajian makanan yang sudah dipersiapkan khusus untuk besan dan rombongan linto—sebutan untuk pengantin pria di Aceh—akhirnya dibagi-bagikan ke tetangga sekampung.
Setelah itu, muncul kabar bahwa jalan di Lamie, Nagan Raya, terputus total akibat banjir besar. Semua kendaraan yang melintas dari arah Banda Aceh ke Medan maupun sebaliknya tertahan. Jalan di wilayah Lamie ini merupakan akses utama Wahyu dan rombongan untuk bisa keluar dari kawasan Kuala Tripa menuju Meukek, Aceh Selatan. Fitri pun semakin khawatir dengan nasib Wahyu dan keluarganya.
Wahyu sebenarnya terus berusaha memenuhi janji dan menikahi Fitri hari itu. Puluhan mobil yang mengantarnya sempat berusaha menerobos banjir besar itu. Akan tetapi, usaha mereka gagal. Banjir terlalu dalam, hingga air menyentuh kaca jendela. Semua mobil akhirnya mogok. Termasuk mobil double cabin 4x4 offroad yang biasa dipakai menembus medan berat hutan sawit.
Baca juga : Saatnya Petani Maju, Makmur Dan Sejahtera
Dalam kondisi yang semakin sulit, sebagian rombongan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, sekaligus mengamankan mobil yang mogok. Tapi, tidak dengan Wahyu dan keluarga. Mereka tidak menyerah.
"Kami keluar dari mobil, lalu berenang," kenang Wahyu. Beruntung, Wahyu, termasuk ibu dan ayahnya berhasil melewati banjir, tanpa terseret arus.
Mereka juga sempat menumpangi truk besar yang nekat menerobos banjir, hingga akhirnya juga ikut mogok. Rombongan yang tersisa sekitar 50 orang, termasuk keuchik—sebutan kepala desa di Aceh—tetap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Jarak ke rumah Fitri masih sangat jauh, mencapai 116 km. Perjalanan semakin berat karena Wahyu dan keluarga tidak mendapatkan makanan. Mereka berjalan kaki sekitar hampir dua hari, hingga akhirnya mendapatkan mobil tumpangan bus asal Bireun yang juga sempat terjebak banjir.
Baca juga : Bicara Strategi Kampanye 2029, Bahlil Minta Kader Golkar Melek Digital
Wahyu dan keluarga tiba di rumah Fitri Jumat (28/11/2025) sekitar pukul 2 siang. Saat mereka tiba, semua warga kaget. Tak sedikit yang menangis haru. Karena kondisi Wahyu dan rombongan sangat memprihatinkan. Sekujur badan dan baju penuh lumpur. Badan juga lemas. "Kami juga belum makan seharian," ujar Wahyu.
Saat itu pula, pihak keluarga bergegas menjamu Wahyu dan keluarga dengan sisa-sisa makanan resepsi. Sejumlah warga dan sanak saudara juga terus berjibaku membantu masak. Sementara, Wahyu bersama rombongannya bergegas mandi dan berganti pakaian. Di waktu yang sama, penghulu pun gerak cepat mendatangi kediaman pengantin.
Akhirnya, akad nikah bisa terlaksana pada pukul 4 sore dengan lancar. Semua yang hadir terharu dan menangis. Wahyu tampak tersenyum lega. Perjuangan berat yang baru saja dilaluinya lenyap seketika, terutama setelah melihat senyuman Fitri. Selamat berbahagia, Wahyu dan Fitri. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.