BREAKING NEWS
 

Ahli Sepakat Kebun Pangan Perempuan Efektif Tekan Inflasi Daerah

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Jumat, 5 Desember 2025 21:51 WIB
Mendagri Tito Karnavian. (Dok. Kemendagri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan mendorong pengembangan program Kebun Pangan Perempuan. Hal ini sebagai upaya memperkuat peran perempuan dalam pemenuhan pangan keluarga, sekaligus mendukung program prioritas pemerintah di sektor ketahanan pangan.

Program ini juga diproyeksikan menjadi salah satu strategi pengendalian inflasi, khususnya komponen harga pangan yang kerap bergejolak. 

Mendagri Tito menekankan pentingnya kolaborasi lintas instansi dan pemerintah daerah guna memastikan ketersediaan produksi pangan lokal yang merata, mengingat fluktuasi harga bahan kebutuhan dapur seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih sering menjadi pemicu inflasi di daerah. Padahal, komoditas tersebut dapat dibudidayakan di banyak wilayah Indonesia.

Baca juga : Terima Kunjungan Kehormatan Timor Leste, Kemenkop Tekankan Penguatan Koperasi Desa

“Peran perempuan sangat strategis dalam menjaga ketahanan pangan rumah tangga melalui pengelolaan lahan pekarangan dan kebun komunitas. Saya melihat ini sebagai salah satu solusi,” ujar Tito di Jakarta, Kamis (5/12/2025).

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Donny Dhonanto menilai gagasan Kebun Pangan Perempuan merupakan langkah tepat dan strategis. Tujuannya untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, mendorong ekonomi lokal, dan memberi kontribusi pada stabilitas harga pangan.

Adsense

“Terlebih di tengah gejolak harga bahan pokok dan inflasi yang kadang dipicu rantai distribusi panjang atau fluktuasi pasokan,” sambung Donny. 

Baca juga : BRI Salurkan Bantuan Percepat Pemulihan Warga Terdampak Bencana Di Sumut -Sumbar

Meski demikian, Donny mengingatkan sejumlah tantangan implementasi di lapangan. Efektivitas program sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur, kebijakan pendukung, pendampingan teknis, dan komitmen komunitas. Tanpa pendekatan yang komprehensif, program ini berisiko hanya bersifat simbolis dan tidak berkembang menjadi gerakan berkelanjutan.

“Tidak semua keluarga memiliki lahan, air, atau waktu untuk bercocok tanam. Contohnya warga rumah susun atau permukiman padat. Belum lagi aspek pengetahuan budidaya, pemilihan benih, perawatan, hingga manajemen panen,” jelasnya.

Ia menambahkan, perubahan perilaku masyarakat untuk konsisten menanam memerlukan proses yang panjang. “Bagi keluarga yang sangat bergantung pada penghasilan harian, menunggu hasil panen bisa sulit karena bukan fast money,” ujarnya.

Baca juga : Rusli Habibie Dorong Percepatan Elektrifikasi Indonesia Timur

Donny mendorong agar implementasi Kebun Pangan Perempuan dilakukan secara bertahap. Dimulai dari skala kecil seperti RT/RW atau desa, sebelum diperluas menjadi program nasional.

“Yang paling penting adalah pendampingan berkelanjutan dan konsistensi. Dengan begitu, Kebun Pangan Perempuan dapat tumbuh menjadi gerakan nyata dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” pungkas ia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense