Dark/Light Mode

Penanganan Kesehatan Bencana Di Sumatera

Senin, 1 Desember 2025 07:48 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Rakyat Merdeka/RM.id, 28 November 2025, menurunkan berita berjudul “Sumut–Sumbar–Aceh Dilanda Banjir ­Dahsyat: Puluhan Kabupaten Terdampak, 69 Orang Me­ninggal Dunia”.

Kita tentu amat berduka atas bencana yang melanda saudara-saudara kita di sebagian Pulau Sumatera. Berbagai penyakit dan masalah kesehatan dapat timbul dan harus segera diantisipasi sejak hari-hari awal.

Dalam hal kewaspadaan penyakit, setidaknya ada empat kelompok penyakit menular yang perlu diwaspadai. Pertama, penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne di­sease).

Kedua, penyakit yang ditularkan lewat makanan (food-borne disease).

Ketiga, penya­kit paru dan ­gangguan pernapasan.

Ke­empat, penya­kit yang menular melalui ­kontak langsung ­antarmanusia.

Baca juga : Lima Anak Meninggal Di Riau Karena Influenza

Selain penyakit menular, perlu diperhatikan pula kemungkinan perburukan penya­kit tidak menular (PTM) yang sudah lama diidap. Pola makan yang tidak teratur akibat ­situasi bencana, misalnya, dapat mengganggu metabolisme tubuh dan memperburuk diabetes mellitus, dan sebagainya. Penyakit paru kronik juga dapat memburuk, misalnya eksaserbasi akut dari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Patut dicatat bahwa yang biasanya kita sebut kelompok rentan adalah lansia, anak-anak, serta mereka yang memiliki komorbid atau gangguan imunitas. Namun dalam keadaan bencana, masyarakat umum yang rumah atau desa­nya terkena dampak juga dapat menjadi rentan terhadap ber­bagai penyakit.

Secara umum, ada enam langkah kesehatan yang harus dilakukan saat terjadi bencana seperti yang kini menimpa saudara-saudara kita di sebagian Pulau Sumatera.

Pertama, melakukan penilaian cepat mengenai kebutuhan mendesak (rapid needs assessment).

Kedua, melakukan pen­ce­gahan dampak kesehatan lanjutan melalui kegiatan promotif–­preventif langsung di la­pangan.

Ketiga, mengevaluasi sumber daya yang tersedia dan membandingkannya dengan kebutuhan. Dalam hal ini, penga­turan pelayanan kese­hatan primer, sekunder, dan tersier di sekitar daerah bencana sebaiknya menjadi prio­ritas utama.

Baca juga : 5 Tantangan Penyakit Menular Haji/Umrah 2026

Keempat, segera menerap­kan strategi pengendalian ­penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit kronik tidak menular.

Kelima, me­la­kukan evaluasi berkala terhadap efektivitas strategi yang dijalankan.

Keenam, untuk jangka ­panjang, memperbaiki contingency planning sebagai antisipasi kemungkinan bencana di masa mendatang.

Terkait bantuan mendesak, ada empat hal utama: ketersediaan air bersih, keter­sediaan makanan sehat, bantuan alat kesehatan rutin harian, serta ketersediaan petugas kese­hatan, obat-obatan, dan peralatan kesehatan yang me­madai.

Pelayanan kesehatan dalam situasi bencana dapat di­bagi menjadi dua tahap besar. ­Pertama, respons segera yang mencakup tiga kegiatan: pencarian, penemuan, dan penye­lamatan korban (search and rescue); pelayanan ke­sehatan segera dan gawat darurat; serta pencegahan menyeluruh ­terhadap terjadinya dan meluas­nya penyakit menular.

Kedua, saat bencana mulai mereda, dilakukan tahap pemulihan yang antara lain meliputi pemulihan fasilitas kesehatan yang rusak, jaminan ketersediaan ma­kanan, minuman, dan air bersih, serta penanganan dampak mental bagi para korban.

Baca juga : 10 Tantangan Tuberkulosis Di 2025

Tidak kalah penting, diperlukan kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat yang terprogram secara rapi. Setidaknya ada tiga pesan yang perlu disampaikan kepada masyarakat.

Pertama, cara tetap selamat ketika bencana datang, termasuk bila terjadi bencana susulan.

Kedua, cara menjaga kese­hatan diri dan keluarga selama bencana. Ketiga, ke mana harus meminta pertolongan kesehatan bila diperlukan.

Semoga bencana yang melanda segera mereda, dan kondisi kesehatan masyarakat dapat dijaga secara maksimal oleh pemerintah bersama masyarakat.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit
- Mantan Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024;
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.