BREAKING NEWS
 

600 M Stand By Untuk Tangani Bencana

Pemerintah Yakin Dengan Upaya Dan Kekuatan Sendiri

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : SISWANTO
Minggu, 7 Desember 2025 08:05 WIB
Menteri Luar Negeri Sugiono (kanan) menyambut kedatangan Menteri Luar Negeri Belarus Maxim Ryzhenkov saat menggelar pertemuan bilateral di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (5/8/2025). (Foto: Dwi Pambudi/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mengapresiasi niat baik sejumlah negara yang ingin memberikan bantuan penanganan bencana di Sumatera. Namun, saat ini, Pemerintah masih bisa atasi bencana secara mandiri. Dana Rp 600 miliar pun stand by untuk dipakai tangani bencana.

Keyakinan itu disampaikan Menteri Luar Negeri, Sugiono. Menlu menegaskan, Indonesia masih mampu mengatasinya sendiri. Bantuan internasional untuk menanggulangi bencana Sumatera belum dibutuhkan.

"Saya kira kita dengan semua kekuatan, ini adalah upaya bersama. Saya yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini," kata Menlu Sugi di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Ditambahkan Sugi, pemerintah baru akan meminta bantuan internasional jika dirasa perlu. Sekarang, tegasnya, belum perlu. Makanya, pemerintah belum buka pintu kepada negara asing membantu menyelesaikan bencana Sumatera.

"Sampai kita merasa kita membutuhkan bantuan (masih ditutup)," jelas Sekjen Partai Gerindra itu.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menyatakan, keuangan negara yang bersumber dari APBN masih cukup untuk memulihkan bencana di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Kocek yang dipersiapkan dari APBN untuk bencana Sumatera senilai Rp 600 miliar.

"Cukup. Jadi kan di dalam APBN itu ada yang namanya Dana Siap Pakai yang memang diperuntukkan untuk kesiapsiagaan kebencanaan," kata Prasetyo.

Bahkan, Dana Siap Pakai untuk bencana Sumatera masih bisa nambah. Presiden Prabowo Subianto, kata dia, sudah merestui penggunaan APBN untuk menangani bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

"Contoh misalnya TNI maupun Kepolisian yang kita semua melihat keduanya salah satu garda terdepan di dalam proses penanganan bencana, yang tentunya itu membutuhkan sumber daya keuangan yang itupun akan kita back-up," jelas Pras.

Pras yakin, Pemerintah dibantu semua pihak, masih sanggup mengatasi persoalan bencana yang menimpa Sumatera.

Baca juga : Bantuan Masuk, Layanan Kesehatan Mulai Pulih

"Meskipun kami juga mewakili Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan terima kasih karena banyak sekali atensi dari negara-negara sahabat. Baik yang mengucapkan keprihatinan maupun yang ingin memberikan bantuan, kami mengucapkan terima kasih," imbuh Pras.

Pengakuan Menlu dan Mensesneg diperkuat dengan pernyataan Presiden Prabowo. Kata Kepala Negara, bencana Sumatera adalah ujian untuk pemerintahannya. Prabowo optimis, Indonesia bisa mengatasinya sendiri tanpa bantuan luar negeri.

“Alhamdulillah kita kuat, kita mengatasi masalah mengatasi  dengan (kekuatan) kita sendiri,” syukur Prabowo di Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Partai Golkar di Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Menurut Prabowo, bencana Sumatera menyadari seluruh rakyat Indonesia tentang arti soliditas. Terlihat semua pihak bergerak memberikan dukungan moril dan materil.

"Sekarang dengan bencana di Sumatera saja, bagaimana repotnya kita mengantar BBM ke daerah-daerah bencana. Jembatan putus, BBM harus kita naikkan pesawat, sebagian lewat kapal,” sambung Prabowo.

Ketua Umum Partai Gerindra itu memastikan pemerintah gerak cepat menangani bencana banjir dan longsor Sumatera. Ia berjanji akan mengerahkan seluruh kekuatan negara untuk membantu korban bencana.

"Kita buktikan rakyat melihat reaksi pemerintah cepat, reaksi pemerintah mengatasi masalah. Kita sudah buktikan sekarang rakyat melihat ada musibah di bagian dari wilayah tanah air kita, tetapi alat-alat negara segera hadir," seru Prabowo.

Ia mempersilakan masyarakat menilai kinerja pemerintah dengan melihat penanganan bencana Sumatera. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk pengerahan armada udara dalam skala besar untuk beroperasi di daerah terdampak.

Adsense

"Mungkin beberapa bulan, beberapa tahun yang lalu tidak ada yang bisa memperkirakan negara kita mampu mengerahkan 50 helikopter. Sekarang 50 helikopter sedang bergerak di daerah musibah. Minggu ini helikopter baru lima buah dan terus berdatangan," beber Prabowo.

Diketahui, bencana dahsyat yang melanda Aceh-Sumut-Sumbar mendapat sorotan dari dunia internasional. Selain menyampaikan simpatik, sejumlah kepala negara juga menyatakan siap membantu Indonesia dalam proses penanganan bencana.

Baca juga : Pergi Umroh Di Tengah Bencana, Bupati Aceh Selatan Dirujak Netizen

Para pemimpin negara dunia yang sudah menyatakan kepedulian dan menawarkan bantuan itu, antara lain Raja Inggris Charles III, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, hingga Sekjen PBB Antonio Guterres.

Raja Charles III dan Permaisuri Camilla menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban banjir Sumatera melalui unggahan resmi akun Instagram The Royal Family, Senin (1/12/2025). Ia prihatinm dengan penderitaan masyarakat yang kehilangan rumah, pekerjaan, dan anggota keluarga.

Presiden Rusia Vladimir Putin menulis surat secara khusus kepada Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa. Momen Putin menulis surat itu diunggah di akun Instagram Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia.

Ia menyatakan, Rusia turut berduka cita bersama mereka yang kehilangan keluarga dan kerabat dalam musibah alam ini. Rusia berharap, daerah-daerah yang terdampak secepatnya pulih kembali, hidup normal, aman, dan sejahtera.

Putra Mahkota yang juga Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) ikut berbelasungkawa. Ia "Kerajaan Arab Saudi menyampaikan belasungkawa yang mendalam dan simpati yang tulus kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan seluruh keluarga korban,” ucap MBS.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menunjukkan kepeduliannya. Melalui pesan singkat yang dikirimkan langsung kepada Prabowo, Pezeshkian mengatakan turut berduka atas bencana yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Pezeshkian menyatakan kesiapannya menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi para korban. Ia berharap, bantuan Iran nantinya dapat mengurangi penderitaan masyarkaat yang terdampak.

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem Obaid Salem Al Dhaheri menegaskan pemerintah UEA siap membantu Indonesia dalam penanganan bencana Sumatera. UEA terbuka atas kerja sama dalam kegiatan kemanusiaan.

"UEA akan selalu berdiri bersama Indonesia dan akan selalu memberikan dukungan penuh serta kerja sama terkait kegiatan kemanusiaan sekaligus penanganan krisis," ujar Abdulla Salem di Jakarta Selatan, Jumat (5/12/2025).

UEA menghormati Indonesia yang belum menetapkan status darurat nasional atas bencana di Sumatera sehingga belum bisa menerima bantuan dari pihak luar negeri. Namun, jika pemerintah Indonesia terbuka dengan bantuan luar negeri, maka UEA akan menjadi yang terdepan untuk Indonesia.

Baca juga : Soal Kepala Daerah Dipilih DPRD, Prabowo Pertimbangkan Usul Ketua Umum Golkar

"Kita Indonesia dan UEA dianggap sebagai negara-negara bersahabat. Kami akan selalu memenuhi permintaan Indonesia selama mereka menyatakan bahwa upaya internasional terbuka," ujarnya.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ikut menyampaikan ucapan duka cita lewat medsos. “Semoga para korban luka dapat segera pulih dan daerah-daerah terdampak bencana dapat pulih,” tulisnya di akun X @takaichi_sanae.

Dukungan moril dan materil dari lembaga internasional datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB menyampaikan belasungkawa atas jatuhnya korban jiwa akibat banjir dan longsor yang melanda Indonesia.

“Sekretaris Jenderal Antonio Guterres amat berduka cita atas jatuhnya korban jiwa akibat banjir dan longsor yang parah di Sri Lanka, Indonesia, Thailand, dan Malaysia,” kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric.

PBB, tekan Dujarric, siap membantu operasi penyelamatan maupun respons tanggap bencana. "PBB berkomunikasi secara dekat dengan otoritas di negara-negara terdampak dan, tentu saja, selalu siap mendukung operasi penyelamatan dan tanggap bencana,” akunya.

Pakar Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Shofwan Al Banna, menilai terdapat dua alasan umum yang membuat pemerintah menolak intervensi internasional. Pertama, kekhawatiran keterlibatan asing dalam situasi bencana dapat menghadirkan ancaman keamanan, seperti infiltrasi atau potensi instabilitas. Kedua, menerima bantuan asing sering ditafsirkan sebagai bentuk kegagalan negara memenuhi tanggung jawabnya terhadap keselamatan warga.

“Meskipun sikap semacam itu dapat dipahami, tapi sikap tersebut dapat membahayakan bagi rakyatnya sendiri jika tidak dibarengi dengan komitmen serius dan kapasitas memadai untuk mengatasi bencana tersebut,” tegasnya.

Menurutnya, jika Indonesia belum mau menerima bantuan asing, tunjukkan pemerintah serius dan mampu, kerahkan semua sumber daya. "Naikkan statusnya jadi Bencana Nasional, lalu tinjau dan lakukan perubahan serius pada semua kebijakan yang berdampak pada terjadinya bencana ini, seperti izin perkebunan industri atau pembalakan legal maupun ilegal,” tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense