Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kawasan Aceh Tamiang Berlumpur Tebal
Bantuan Masuk, Layanan Kesehatan Mulai Pulih
Minggu, 7 Desember 2025 08:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka, Ade Alkautsar, sejak Jumat (5/12/2025) akhirnya berhasil menembus Aceh Tamiang setelah menempuh perjalanan darat selama 30 jam dari Aceh Barat Daya (Abdya), kemudian menuju Aceh Selatan dan berputar ke Medan demi mencari akses masuk ke Aceh Tamiang. Berikut laporannya:
Suara azan Subuh sayup-sayup terdengar dari salah satu masjid di Aceh Tamiang, sekitar pukul 05.00 WIB, Sabtu (6/12/2025). Mata saya langsung terbuka, menatap langit dengan bulan purnama yang masih bersinar terang.
Sementara itu, Aceh Tamiang masih gelap gulita karena listrik belum pulih. Untuk menghidupkan genset, BBM sangat langka. Kalaupun ada, harganya mencapai Rp 85 ribu per liter. Sebelumnya bahkan sempat tembus Rp 125 ribu per liter.
Tadi malam kami menginap di rumah seorang warga karena belum memiliki posko atau tenda. Rumah megah berwarna putih dengan pekarangan luas, tetapi seluruh sisinya masih penuh lumpur tebal— baik bagian dalam maupun halamannya. Di halaman itu terparkir 10 mobil, satu becak motor (bentor), empat sepeda motor, dan satu truk intercooler. Semua kendaraan itu rusak dan dipenuhi lumpur.
“Semua sudah terendam lumpur, Bang,” kata sang pemilik rumah membuka percakapan.
Rumah tersebut milik seorang dokter, kenalan salah satu tenaga kesehatan (nakes) dari tim relawan yang saya ikuti dari Abdya. Lokasinya hanya sekitar 200 meter dari pendopo bupati di Kuala Simpang. Istri bupati sempat menawarkan agar relawan mendirikan posko di pendopo, namun kondisinya juga mengkhawatirkan.
Baca juga : Pergi Umroh Di Tengah Bencana, Bupati Aceh Selatan Dirujak Netizen
Relawan pria memilih tidur di teras rumah, di atas terpal, karena bagian itu memiliki lapisan lumpur yang relatif lebih tipis. Namun di kiri-kanan dan bawah kaki masih terdapat lumpur setebal hampir selutut. Relawan perempuan tidur di lantai dua yang lebih aman.
Saat memejamkan mata, pikiran saya masih teringat cerita salah satu polisi yang kami temui ketika baru tiba di posnya yang gelap gulita. Ia tetap siaga bersama anggotanya hingga tengah malam. Mereka tidak mengenakan seragam, karena semua pakaian mereka hilang, entah terbawa banjir atau tertimbun lumpur.
“Hari ini ada dua jenazah yang kami kebumikan. Keduanya bukan karena tenggelam atau terbawa arus banjir, tapi karena sudah beberapa hari kehausan dan kelaparan. Air minum dan air bersih sangat sulit didapatkan, apalagi makanan,” kata polisi itu, enggan menyebutkan namanya.
“Tapi mulai kemarin, Alhamdulillah akses sudah terbuka. Bantuan dari jalur darat sudah mulai masuk,” sambungnya.
Tiba-tiba tangis seorang bayi membuyarkan pikiran saya. Tangis itu berlangsung lama, sampai beberapa kali saya terbangun. Ternyata bayi itu adalah anak Kevin, pria 24 tahun, warga Desa Perdamaian, Kuala Simpang, yang saya kenal saat sama-sama duduk di bak truk logistik ketika mengantar bantuan ke kampung-kampung pedalaman terdampak banjir di Kecamatan Bandar Mulia.
Kevin bercerita bahwa bayinya yang berusia tiga bulan mengalami demam tinggi, batuk, dan sesak napas hampir seminggu. Ia sudah mencari obat di berbagai apotek, namun gagal. Puskesmas dan rumah sakit lumpuh total.
Baca juga : Soal Kepala Daerah Dipilih DPRD, Prabowo Pertimbangkan Usul Ketua Umum Golkar
Saya tercekat melihat ratusan mobil mogok yang tertutup lumpur dan rumah-rumah yang hancur di sepanjang perjalanan dengan truk bak terbuka yang tinggi.
Istri Bupati Aceh Tamiang, Yuyun Armia Fahmi, yang saya temui di salah satu posko di Bandar Mulia, membenarkan bahwa layanan kesehatan lumpuh total. Sebagian besar puskesmas dan RSUD turut terdampak banjir bandang.
“Kita berharap pos kesehatan terus ditambah. Karena itu kami sangat berterima kasih Abdya mengirim tim medis ke sini,” kata Yuyun, yang juga mengaku belum mengetahui kapan layanan kesehatan dapat kembali normal.
Namun ia memastikan bahwa Bupati Aceh Tamiang bersama prajurit TNI/Polri terus berupaya membersihkan dan menormalkan layanan RSUD. “Semoga bisa normal secepatnya,” ujarnya.
Genset Raksasa
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan RSUD Aceh Tamiang sudah dapat kembali memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat setelah terdampak banjir bandang, beberapa hari lalu.
Hal tersebut dikatakan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Banda Aceh, Sabtu (6/12/2025).
Baca juga : Abidin Fikri: Aturan Baru Ini Tak Memberatkan
RSUD Aceh Tamiang kembali beroperasi setelah memperoleh pasokan listrik dari genset 100 ribu watt yang didistribusikan PLN kemarin. Sehingga layanan kesehatan mulai kembali berjalan. Selain itu, kata dia, helikopter dari Lanud Sultan Iskandar Muda juga telah berhasil membawa genset sebesar 250 ribu watt milik PLN dengan berat 2,8 ton, yang kini sudah berada di Kota Takengon.
Genset tersebut disiapkan khusus oleh PLN untuk dimanfaatkan RSUD Aceh Tengah. Dengan bantuan ini, rumah sakit setempat diharapkan menerima pasokan listrik yang cukup dan bisa beroperasi kembali melayani masyarakat.
“Jadi, ini dua perkembangan yang sangat penting, khususnya untuk sektor kesehatan di Provinsi Aceh (Aceh Tamiang dan Aceh Tengah),” tukas Abdul Muhari. [SAR/MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya