RM.id Rakyat Merdeka - The 9th International Conference on Zakat (ICONZ) resmi dibuka Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar, di Kampus FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Konferensi yang digelar BAZNAS RI bersama UIN Jakarta ini mengangkat tema “Zakat & Philanthropy: Beyond Technology – Designing a Global Transform for Humanity and Shared Prosperity.”
Dalam sambutan pembukaannya, Menag menegaskan bahwa zakat memiliki peran sentral dalam memperkuat solidaritas kemanusiaan dan mewujudkan keadilan sosial. Ia menekankan bahwa transformasi digital zakat harus tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan keberpihakan kepada fakir miskin.
"Zakat adalah instrumen keadilan sosial yang mampu menghadirkan kesejahteraan lintas bangsa. Saya mengapresiasi langkah BAZNAS yang terus memperluas kerja sama kemanusiaan," ujarnya.
Baca juga : Jasa Raharja Perkuat Ketahanan Risiko Lewat Transformasi Human Capital
Menag juga menyoroti pentingnya pendidikan inklusif tanpa diskriminasi. Indonesia, katanya, mendapat pengakuan internasional atas komitmen menyediakan layanan keagamaan inklusif, termasuk pengembangan mushaf Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas.
Ketua BAZNAS RI, Prof Noor Achmad, menambahkan bahwa ICONZ ke-9 memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pengembangan zakat global. BAZNAS berkomitmen menjadikan zakat sebagai kekuatan perubahan sosial, baik nasional maupun internasional, dengan fokus pada peningkatan kesejahteraan fakir miskin.
BAZNAS melaporkan telah menghimpun dana kemanusiaan sebesar Rp155 miliar untuk membantu korban bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Sebanyak 880 relawan dikerahkan di 117 posko. “Melalui ICONZ, kami memperkuat jejaring global agar zakat menjadi instrumen kemanusiaan yang mampu menjawab tantangan dunia,” ujar Prof Noor, seraya berharap konferensi ini menghasilkan rekomendasi strategis internasional.
Baca juga : BRIN dan Danantara Perkuat Sinergi Riset untuk Dorong Hilirisasi Nasional
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Asep Saepudin Jahar, menyambut baik kolaborasi dengan BAZNAS dan Kementerian Agama. Ia menegaskan peran perguruan tinggi dalam menyediakan landasan akademik serta riset yang mendorong inovasi filantropi Islam.
Prof Asep menyebut konferensi ini menjadi ruang bagi akademisi dari 14 negara untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari tata kelola zakat global, integrasi kebijakan sosial, hingga pemanfaatan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) dalam sistem filantropi.
“Kolaborasi ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi memastikan dana umat dikelola berbasis kajian ilmiah demi kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Baca juga : Di Seminar Internasional, UIN Jakarta Puji Prabowo Dalam Resolusi Konflik Global
Salah satu fokus pembahasan ICONZ ke-9 adalah perlunya memperluas cakupan zakat menuju filantropi Islam yang lebih luas (Sadaqah Global). Potensi filantropi di Indonesia yang mencapai ratusan triliun dinilai dapat dioptimalkan melalui instrumen yang lebih fleksibel di luar delapan asnaf zakat.
ICONZ ke-9 berlangsung hingga 11 Desember 2025 dengan menghadirkan pembicara dari Malaysia, Turkiye, Arab Saudi, Amerika Serikat, serta bekerja sama dengan lembaga filantropi lintas agama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.