BREAKING NEWS
 

BACenter Bahas Ketenagakerjaan-Investasi, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Rabu, 10 Desember 2025 17:42 WIB
Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor saat diskusi bersama BACenter. (Foto : ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - BACenter menggelar diskusi bertema “Ketenagakerjaan dan Investasi sebagai Penopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional”, Rabu (10/12/2025).

Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tantangan, peluang, dan strategi memperkuat tenaga kerja serta meningkatkan iklim investasi.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor menegaskan pentingnya keadilan dalam proses rekrutmen, terutama terkait tenaga kerja asing (TKA).

“Ketika rekrutmen tenaga kerja tidak adil dan banyak TKA diserap tidak sebanding dengan tenaga kerja lokal, tentu ini merugikan kita. Bahkan banyak PNBP yang hilang,” ujarnya.

Baca juga : Menteri Ara dan Menkum Bahas Finalisasi UU Perumahan dan Bantuan Rumah Bencana

Afriansyah menekankan bahwa hilirisasi harus memberi ruang bagi tenaga kerja lokal sekaligus menjamin adanya transfer of knowledge. Ia juga memaparkan sejumlah program strategis Kemenaker, mulai dari Magang Nasional, Tenaga Kerja Mandiri, Padat Karya, hingga penguatan balai pelatihan di 12 provinsi. Soal kebijakan UMP, ia mengingatkan agar keputusan pemerintah dilakukan secara hati-hati.

“Jangan sampai presiden salah memutuskan. Keputusan harus adil bagi pekerja maupun pengusaha,” tegasnya.

Adsense

Dari sisi investasi, Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi/Hilirisasi RI, Riyatno, menekankan bahwa investasi bukan hanya persoalan angka.

“Investasi tidak hanya bicara tentang angka, melainkan tentang manusia,” ujarnya.

Baca juga : Transmigrasi Modern Bisa Jadi Pusat Ekonomi Baru

Ia memaparkan realisasi investasi Januari–September 2025 yang mencapai Rp 1.434,3 triliun dari target Rp 1.905,6 triliun. Sektor mineral menjadi penyumbang terbesar. Pemerintah, kata dia, terus mendorong UMKM melalui perizinan digital, sistem SLA, dan penerapan fiktif positif. Menjawab kritik soal minimnya investasi padat karya, Riyatno menilai perubahan tren industri sebagai penyebabnya.

“Realisasi investasi memang naik, namun banyak investasi yang masuk bukan lagi padat karya akibat perkembangan digitalisasi,” jelasnya.

Pandangan tajam juga disampaikan tokoh ekonomi nasional Burhanuddin Abdullah. Menurutnya, digitalisasi bisa memperbaiki efisiensi industri.

“Dengan digitalisasi, kita bisa menurunkan ICOR dan menjadi lebih efisien. Namun perizinan yang berbelit masih menjadi hambatan besar bagi investasi,” katanya. Ia menegaskan perlunya reformasi perizinan agar pertumbuhan ekonomi bisa melaju.

Baca juga : PET Gelar Apel Siaga, TNI-Polri Turut Perkuat Pengamanan Energi Nasional

Sesi tanya jawab berlangsung kritis. Akademisi, pelaku usaha, dan peserta diskusi menyoroti rendahnya penyerapan tenaga kerja, minimnya investasi kelas dunia, hingga belum optimalnya investasi teknologi dan industri ramah lingkungan. Ada pula dorongan agar pemerintah lebih serius menarik investasi pariwisata dan sport industry, yang dinilai ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi.

Acara ditutup dengan komitmen BACenter untuk terus menghadirkan ruang diskusi objektif dan konstruktif. BACenter juga memperkenalkan buku Asta Cita sebagai kontribusi pemikiran bagi agenda pembangunan nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense