Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo mengkritisi pengerahan empat gajah Sumatera (Elephamus maximus sumatranus) bernama Midok, Abu, Azis, dan Nonik oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, untuk membantu membersihkan puing-puing pasca banjir bandang di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh pada 7-11 Desember 2025.
Menurutnya, hal tersebut beresiko besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan satwa tersebut. Kondisi lapangan yang dipenuhi oleh kayu, puing-puing bangunan, material tajam berkarat, hingga hewan yang mati membusuk dapat membawa penyakit-penyakit menular pada gajah.
“Jadi, sebetulnya pengerahan gajah untuk membersihkan puing pasca bencana itu sebenarnya menyalahi hak kesejahteraan hewan. Karena gajah itu seperti dipekerjakan,” jelas Wisnu dalam keterangan di situs resmi UGM, Sabtu (13/12/2025).
Wisnu menambahkan, pengerahan keempat gajah pada lokasi bencana tersebut juga melanggar lima prinsip kebebasan (Five Freedoms) dalam animal welfare yang seharusnya dipenuhi. Lima prinsip itu mencakup ketentuan satwa harus bebas dari lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit, bebas mengekspresikan perilaku normal, serta bebas dari rasa takut dan tertekan.
"Pengerahan gajah hanya bisa diterima, jika memang tidak ada ekskavator, atau wilayahnya tidak bisa dijangkau. Tapi ini, gajahnya justru diturunkan dari truk," papar Wisnu.
"Kenapa truknya tidak membawa ekskavator saja? Kok malah menyuruh gajahnya? Jadi, kesannya memang tidak urgent,” tuturnya.
Wisnu menjelaskan, gajah yang dipekerjakan untuk menyingkirkan puing dan material berat di lokasi bencana, tak hanya menghadapi risiko cedera fisik, tetapi juga rentan mengalami stres.
Gajah yang lelah cenderung menolak perintah pawang, dan dapat berontak karena ingin kembali ke situasi yang lebih aman. Seperti berada di kubangan, dekat sumber air, maupun dekat dengan sumber pakan.
"Aktivitas mereka umumnya terbatas pada makan, istirahat, atau patroli sesekali. Karena itu, menempatkan mereka pada kondisi ekstrem pasca bencana berisiko tinggi baik bagi kesehatan maupun keselamatan mereka,” terang Wisnu.
Dia bilang, stres pada gajah yang tidak tertangani dengan baik, dapat berkembang menjadi gangguan perilaku dan sifat agresif yang sewaktu-waktu dapat membahayakan pawang maupun gajah itu sendiri. Situasi ini menunjukkan adanya batasan jelas mengenai kemampuan dan keamanan gajah untuk bekerja di medan berat.
“Kalau terus dipaksa, gajah bisa stres, sakit, dan memunculkan sifat liarnya. Dia bisa melukai orang lain atau dirinya sendiri. Dalam kondisi ekstrem, stres berulang bisa berakibat kematian,” urainya.
Wisnu merekomendasikan agar instansi terkait dapat mendorong pemanfaatan gajah dalam peran yang lebih aman dan edukatif. Seperti dalam kegiatan psikososial di area pengungsian yang ditujukan pada anak-anak penyintas bencana alam.
Hal itu bisa menjadi media sosialisasi penting untuk meningkatkan kepedulian serta pemahaman masyarakat, khususnya anak-anak dalam melestarikan hutan dan satwa liar melalui pendidikan lingkungan hidup.
Wisnu berpendapat, hal tersebut merupakan harmoni yang dapat dijalankan antara manusia, satwa liar, dan alam dapat menjadi pondasi dalam keberlanjutan ekosistem.
"Alam hutan itu bukan punya manusia. Alam hutan milik sesama. Antara manusia, satwa liar, dan alam harus bisa berdampingan supaya gajahnya lestari, masyarakatnya sejahtera, dan habitatnya tetap baik,” tutup Wisnu.
Perencanaan Matang
Terkait hal ini, BKSDA Aceh mengatakan, pengerahan gajah konservasi dalam operasi kemanusiaan ini dilakukan melalui perencanaan matang, koordinasi lintas pihak, serta penegakan prinsip kesejahteraan satwa (animal welfare).
RM.id Rakyat Merdeka - Gajah diturunkan hanya pada titik-titik yang membutuhkan tenaga manual, namun tetap aman bagi satwa. Mengingat penggunaan alat berat berpotensi menyebabkan kerusakan tambahan pada rumah warga yang terdampak lumpur.
BKSDA Aceh menuturkan, setelah dimobilisasi dari PLG Saree menuju lokasi tambatan di Pidie Jaya pada Minggu (7/12/2025), keempat gajah tersebut langsung diistirahatkan serta mendapat pakan, suplemen, dan pemeriksaan awal.
Baca juga : Artha Graha Peduli Turun Tangan Bantu Korban Banjir Tapteng–Tapsel
Tim kemudian melapor ke Posko Induk, menemui Bupati Pidie Jaya, serta menyerahkan bantuan logistik bagi warga terdampak banjir.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, BKSDA Aceh melakukan survei menyeluruh mencakup kondisi medan, aksesibilitas, tingkat keamanan, kebutuhan operasional, serta kesiapan lokasi untuk penugasan gajah.
"Hasil survei tersebut menjadi dasar penentuan rute, area kerja, titik istirahat, dan pengaturan durasi kerja yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi satwa,” papar BKSDA Aceh.
Baca juga : INDODAX Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Bandang Di Sumatera
Senin (8/12/2025), gajah mulai diturunkan ke lokasi terdampak untuk membantu membersihkan material banjir dan membuka akses. Aktivitas dimulai pukul 09.00 WIB dan dilakukan dalam dua sesi kerja hingga pukul 14.30 WIB, dengan total durasi 3,5 jam, sesuai batasan yang ditetapkan untuk menjaga kondisi satwa.
Pasca penugasan, keempat gajah tersebut menjalani evaluasi medis oleh dokter hewan BKSDA Aceh dan tim Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, pada Selasa (9/12/2025).
"Berdasarkan pemeriksaan, seluruh gajah dinyatakan sehat dan tidak ditemukan luka, lecet, atau cedera pada telapak kaki akibat benda tajam maupun gesekan selama bekerja," jelas BKSDA Aceh.
Baca juga : Peruri Gercep Serahkan Bantuan Untuk Korban Bencana Sumatera
Pada Kamis (11/12/2025), keempat gajah tersebut resmi selesai bertugas dan kembali ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree. Akses menuju lokasi terdampak telah terbuka dan siap untuk dilakukan tahap pemulihan lanjutan oleh pihak terkait.
BKSDA Aceh menegaskan, upaya kolaboratif ini menjadi bukti nyata bahwa pemanfaatan satwa terlatih dapat menjadi solusi efektif dalam kondisi darurat, dengan tetap menjunjung tinggi aspek konservasi dan kesejahteraan satwa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.