RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Agama (Kemenag) RI mengekspos hasil Indeks Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025 di sekolah. Dalam penyusunannya, Kemenag menggandeng peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Pustrajak Penda) BMBPSDM, serta Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta.
Indeks ini disusun untuk menyediakan data dasar (baseline) yang objektif, terstandar, dan berkelanjutan guna mengukur keberhasilan pendidikan agama di sekolah. Data tersebut juga ditujukan untuk mendukung perumusan kebijakan lintas kementerian dan lembaga.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amin Suyitno, mengatakan pengukuran dilakukan dengan pendekatan pedagogis menggunakan Taksonomi Bloom. Capaian pembelajaran diukur melalui tiga domain utama, yakni kognitif, psikomotorik, dan afektif.
“Pendidikan agama di sekolah berada dalam ranah pedagogis. Karena itu, pengukuran harus mencerminkan hasil proses pembelajaran, bukan semata praktik keberagamaan sosial,” kata Amin dalam ekspose hasil asesmen di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Kelapa Gading Peringati Hari Anti Korupsi Dunia 2025
Amin menambahkan, indeks ini bersifat komplementer terhadap survei religiositas yang selama ini lebih menekankan aspek sosiologis. Fokus Indeks PAI adalah kompetensi peserta didik dan guru sebagai keluaran pembelajaran di sekolah.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag M Munir menjelaskan, asesmen Indeks PAI 2025 pada tahap awal difokuskan pada jenjang sekolah dasar (SD) karena dinilai sebagai fase fondasional pembentukan literasi dan sikap keagamaan.
Asesmen terhadap 160.143 guru PAI secara nasional menunjukkan pemahaman ajaran dasar agama sebesar 62,34, pengamalan ibadah pokok 85,96, ibadah sosial 88,68, sikap sosial 82,80, serta sikap terhadap lingkungan 88,78.
Kemampuan membaca Al-Qur’an guru diuji melalui perekaman langsung dan dinilai pakar PTIQ. Hasilnya, kategori mahir 11,35 persen, menengah 30,39 persen, dan dasar 58,26 persen, dengan rata-rata nasional 57,17 persen.
Baca juga : Menembak Sumbang 2 Emas, Indonesia Pecahkan Rekor SEA Games 2025
Untuk peserta didik, asesmen dilakukan pada siswa kelas V SD dengan tingkat kepercayaan 95 persen, melibatkan 13.582 siswa dari populasi nasional lebih dari 23 juta siswa SD.
Hasilnya, pada aspek kognitif, indikator terlemah adalah pemahaman rukun iman (57,43) dan terkuat ihsan (74,15). Pada aspek psikomotorik, indikator terlemah pengamalan ibadah ritual adalah mendaras Al-Qur’an (77,46), sedangkan terkuat berdoa (81,55).
Pada aspek afektif, sikap sosial terendah tercatat pada kesetaraan (64,03), sementara yang tertinggi kerja sama (82,60). Untuk sikap terhadap lingkungan, indikator terlemah adalah budaya (75,07) dan terkuat alam (79,58).
Triangulasi kemampuan membaca Al-Qur’an siswa menunjukkan kategori mahir 3,2 persen, madya 29,3 persen, dan pratama 67,5 persen.
Baca juga : Pertamina Hulu Rokan Raih Tiga Penghargaan Internasional di SIIF 2025
“Temuan ini menunjukkan religiositas masyarakat yang tinggi belum sepenuhnya ditopang literasi dasar keagamaan, khususnya kemampuan membaca Al-Qur’an dan pemahaman ajaran dasar,” kata Munir.
Berdasarkan hasil tersebut, Kemenag merekomendasikan penguatan kompetensi guru PAI SD/SDLB, intervensi khusus bagi guru dengan kemampuan baca Al-Qur’an kategori pratama, reorientasi sertifikasi guru, serta evaluasi berkala melalui asesmen nasional. Untuk siswa, Kemenag mendorong penetapan kemampuan baca Al-Qur’an dan PAI sebagai kompetensi wajib nasional di jenjang SD.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.