BREAKING NEWS
 

BMKG Minta Masyarakat Waspada

3 Siklon Tropis Kembali Dekati RI

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : UJANG SUNDA
Minggu, 18 Januari 2026 08:53 WIB
Ilustrasi tiga siklon tropis mendekati utara dan selatan Indonesia. (Gambar dibuat dengan ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tiga siklon tropis kembali mendekati utara dan selatan Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat waspada. Pola cuaca ini berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi dalam beberapa hari ke depan.

Awal pekan ini, langit Indonesia kembali mendung. Dari Laut Filipina, utara Maluku Utara, Siklon Tropis Nokaen terus bergerak di wilayah timur Indonesia. Di saat yang sama, Bibit Siklon 96S di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan 97S di selatan Teluk Carpentaria, menunjukkan aktivitas yang ikut mengganggu pola cuaca di banyak wilayah di Tanah Air.

BMKG mencatat, perkembangan tiga sistem ini sebagai pemicu meningkatnya potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Dari pos pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta, pergerakan ketiga siklon itu dipantau 24 jam nonstop.

"Siklon Tropis Nokaen berkembang dari bibit Siklon Tropis 91W yang tumbuh sejak 12 Januari 2026 pukul 01.00 WIB di Laut Filipina sebelah utara Maluku Utara dan mencapai intensitas siklon tropis pada 15 Januari 2026 pukul 13.00 WIB," terang BMKG, Sabtu (17/1/2026).

Tekanan minimum Nokaen berada di sekitar 996 Hektopascal (hPa) dan berpusat di utara Indonesia. Meski bergerak menjauh ke barat laut, efeknya tetap terasa dalam bentuk angin lebih kencang dan gelombang tinggi di wilayah timur.

BMKG menyebut, wilayah yang berpotensi terdampak Nokaen meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Laut Sulawesi bagian timur, jalur pelayaran Bitung–Likupang, perairan Sangihe–Talaud, Laut Maluku, hingga Samudera Pasifik utara Papua Barat, termasuk Halmahera, Biak, dan Manokwari. Hujan intensitas sedang hingga lebat disertai hembusan angin lebih kuat bisa memicu gelombang tinggi di Laut Sulawesi, Samudera Pasifik utara Halmahera, dan perairan utara Papua Barat.

Baca juga : Kemenkop Optimalkan Pemberdayaan Masyarakat, Pulihkan Ekonomi Di Sumatera

"Dampak tidak langsungnya hujan sedang-lebat di Kalimantan Utara bagian utara, lalu gelombang 1,25-2,5 meter di Perairan Sangihe-Talaud dan Samudra Pasifik utara Maluku," tulis BMKG, di Instagram @BMKG.

Di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB), Bibit Siklon 96S yang muncul sejak 14 Januari 2026 mulai mengganggu pola angin. Meski peluang berkembang menjadi siklon tropis masih rendah, sistem ini tetap memicu peningkatan curah hujan di Bali, Nusa Tenggara, hingga selatan Jawa.

Sejumlah perairan di selatan Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, serta Selat Bali dan Selat Lombok juga diminta BMKG agar waspada. Sebab, aktivitas pelayaran menjadi salah satu yang paling terdampak.

"Dampak tidak langsung gelombang 1,25-2,5 meter di Selat Bali, Lombok, Sumba, dan Samudera Hindia Selatan Jawa hingga NTB," terang BMKG.

Adsense

Dari arah selatan lainnya, Bibit Siklon 97S yang terbentuk 16 Januari ikut memengaruhi cuaca di Nusa Tenggara Timur (NTT), Laut Arafuru, dan Maluku selatan. Meski bergerak menuju barat laut dengan peluang rendah menjadi siklon penuh, sistem ini cukup untuk memicu pembentukan awan konvektif dan angin lebih kuat.

Gelombang laut juga diprediksi meninggi, mulai dari 1,25 hingga 2,5 meter di Laut Sawu, Laut Banda selatan, perairan Kepulauan Kei dan Aru, hingga Laut Arafura bagian tengah dan timur. BMKG juga memperingatkan potensi gelombang lebih tinggi, hingga 4 meter, di perairan Babar, Tanimbar, Kupang, Samudera Hindia selatan NTT, serta Laut Arafura bagian barat.

Baca juga : Waspada, Kasus Penipuan Transaksi Digital Melonjak

"Masyarakat pesisir dan pelayaran di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi," imbau BMKG.

Tak hanya di timur dan selatan, BMKG juga mengeluarkan peringatan cuaca dini untuk Jabodetabek periode 18–19 Januari 2026. Hujan sedang hingga lebat diperkirakan mengguyur Jakarta dan daerah penyangga, lengkap dengan potensi petir dan angin kencang.

Hujan intensitas sedang diprediksi turun di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan kawasan penyangga seperti Depok, Bogor, dan Tangerang. Kondisi ini bisa mengganggu mobilitas warga, terutama pada jam sibuk.

"Kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem," tulis BMKG.

Menghadapi prediksi cuaca ekstrem tersebut, Pemprov DKI Jakarta mulai menyiapkan langkah antisipasi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Kami sudah menganggarkan dalam waktu 30 hari ini, katakanlah kalau harus tiap hari modifikasi cuaca akan kami lakukan,” ujar Pramono.

Baca juga : Muhammadiyah Minta Masyarakat, Hentikan Debat Status Kebencanaan Sumatera!

Kepala BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menegaskan, OMC dilakukan bukan hanya untuk menekan curah hujan ekstrem, tapi juga sebagai bagian dari mitigasi risiko bencana hidrometeorologi. Pelaksanaan OMC tetap mengikuti imbauan BMKG dan surat antisipasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Anggaran OMC tahun ini sampai dengan sekitar Rp 31 miliar, sepanjang tahun 2026," ujar Isnawa, Sabtu (17/1/2026).

Di wilayah lain, BNPB juga melakukan OMC di Kudus, Jawa Tengah, selama lima hari ke depan untuk menekan potensi hujan pemicu banjir. “Sampai sekarang, ada 1 pesawat yang terus melaksanakan operasi modifikasi cuaca,” ucap Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, dikutip Sabtu (17/1/2026).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense