RM.id Rakyat Merdeka - Tanti Suhermayani (55 tahun) tahu ia hanya pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Paseban, Jakarta Pusat, yang kesehariannya mencuci ompreng (wadah makan) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, ia tak tega melihat ada sejumlah siswa, yang juga merupakan teman sekolah anaknya, Amel, tidak ikut menikmati makan siang gratis karena kekhawatiran orang tua mereka.
Tanti, yang akrab disapa Mama Amel, pun membujuk orang tua siswa tersebut agar mengizinkan mereka menyantap MBG. Selain tidak, anak itu pun meminta tolong secara langsung kepadanya agar berbicara ke orang tuanya.
“Waktu saya ke sekolah, anak-anak saya semua makan (MBG). Terus ada tiga orang anak di luar. Saya tanya, ‘kenapa nggak masuk, nggak ikut makan?’ Anaknya geleng kepala. Katanya, ‘saya nggak boleh sama mama’,” ucap Tanti, dalam wawancara “Sinergi Indonesia” Badan Komunikasi Pemerintah, dikutip Senin (19/1/2026).
Peristiwa ini membuat hati Tanti terenyuh. Salah satu anak bahkan menangis dan memeluknya erat, meminta agar Tanti menyampaikan kepada orang tuanya supaya ia diperbolehkan ikut menyantap MBG bersama teman-temannya.
Baca juga : Pegawai SPPG Paseban Jelaskan Proses Masak: Bahan Baku MBG Dicek Ketat!
“Dia bilang, ‘tolong Mama Amel, saya pengin banget makan MBG’. Terus dia nangis di pelukan saya,” ujar Tanti.
Keesokan harinya, Tanti berusaha menemui orang tua siswa tersebut. Upaya itu tidak langsung berhasil. Ia bahkan sempat menyampaikan kegundahannya kepada guru di sekolah. Dari sana, Tanti mengetahui bahwa larangan tersebut berasal dari kekhawatiran orang tua terhadap keamanan makanan MBG.
Tak menyerah, Tanti akhirnya bertemu langsung dengan salah satu orang tua. Ia berbicara dengan tenang dan menjelaskan proses masak hingga distribusi MBG, termasuk soal kebersihan, kandungan gizi, serta berbagai faktor yang kerap disalahpahami sebagai penyebab keracunan makanan.
“Saya coba jelasin kalau kejadian keracunan itu banyak faktornya,” kata Tanti.
Baca juga : Perkuat Literasi Nasional, DPR Dukung Tambahan Anggaran untuk Perpusnas
“Ya, memang bisa dari makanan. Tapi kan bisa juga dari wadah omprengnya, mungkin dicucinya nggak bersih atau nggak kering. Kalau basah, makanan bisa terkontaminasi bakteri,” jelasnya.
Sebagai pegawai SPPG yang tidak hanya terlibat dalam pencucian ompreng, Tanti juga ikut andil dalam proses memasak dan pengantaran makanan. Karena itu, ia yakin proses penyajian MBG selalu dilakukan dengan standar kesehatan dan kebersihan yang terukur sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).
Pendekatan personal tersebut akhirnya membuahkan hasil. Keesokan harinya, anak tersebut diizinkan makan paket MBG di sekolah. Anak itu bahkan menghampiri Tanti dan mengucapkan terima kasih.
“Dia bilang, ‘Mama Amel, makasih’. Saya terharu banget,” katanya.
Baca juga : KPK: Barbuk OTT Pegawai Pajak Rp 6 M, dari Uang Hingga Logam Mulia
Bagi Tanti, kejadian tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Meski bekerja di balik layar program MBG, ia merasa terpanggil untuk memastikan tidak ada anak yang merasa tersisih hanya karena kekhawatiran yang belum terjawab.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.