RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah terus memperkuat komitmen dalam mempercepat program hilirisasi pertanian dan energi sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian pangan dan energi nasional. Hilirisasi dinilai tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga menjadi kunci dalam membangun ekosistem industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Dalam konteks tersebut, pemerintah memberikan dukungan penuh kepada PTPN III (Persero) sebagai bagian dari PTPN Group yang berada di bawah naungan Danantara Indonesia. PTPN Group diharapkan berperan aktif dalam penyediaan bahan baku bioetanol, seperti jagung, tebu, dan ubi kayu, guna mempercepat hilirisasi terintegrasi demi ketahanan energi dan pangan nasional.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa pengembangan bioetanol kini telah memasuki fase implementasi konkret. Hal tersebut disampaikan dalam penandatanganan nota kesepahaman antara PTPN Group, Pertamina Group, dan Medco Group di Jakarta, 27 April 2026.
Menurutnya, bioetanol telah bergerak dari tahap wacana menuju implementasi dengan dukungan regulasi mandatori, penetapan formula harga, serta kepastian pasar.
Baca juga : Groundbreaking 13 Proyek, Prabowo: Hilirisasi Jalan Kebangkitan Ekonomi
“Peningkatan pemanfaatan bioetanol menjadi komitmen nyata menuju kemandirian energi, sekaligus membuka peluang besar bagi industri dalam negeri. Dengan kewajiban blending dan penyederhanaan perizinan, ini menjadi momentum percepatan pengembangan bioetanol dalam mewujudkan ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Tin Latifah, melalui Direktur Aneka Kacang dan Umbi (AKABI), Dyah Susilokarti, menyatakan bahwa hilirisasi pertanian merupakan salah satu pilar utama pembangunan sektor pertanian periode 2025–2029.
Program hilirisasi terintegrasi dalam empat program utama Kementerian Pertanian, yaitu swasembada pangan, makan bergizi, ketahanan pangan berbasis biofuel, serta hilirisasi pertanian. Dalam konteks bioetanol, percepatan produksi menjadi langkah strategis untuk menjaga ketersediaan energi domestik sekaligus menekan impor bahan bakar.
Pemerintah menargetkan implementasi mandatori campuran bioetanol secara bertahap, mulai dari E5 hingga E10 pada 2026–2027, dengan target jangka panjang mencapai E20. Target produksi bioetanol E20 sebesar 4 juta kiloliter akan didukung melalui penguatan bahan baku dari komoditas jagung dan singkong, baik melalui optimalisasi pabrik eksisting maupun pembangunan pabrik baru.
Baca juga : PTPN Gandeng Pertamina Dan Medco Kembangkan Bioetanol Dukung Target E20 2028
Pengembangan tersebut akan dilakukan melalui perluasan lahan dan peningkatan kapasitas produksi. Untuk komoditas jagung, direncanakan pengembangan hingga 1 juta hektare dengan dukungan puluhan pabrik baru. Sementara untuk ubi kayu, pengembangan diarahkan pada lebih dari 500 ribu hektare lahan dengan pembangunan industri pengolahan terintegrasi.
Pada tahap awal tahun 2026, pengembangan akan dimulai di lahan PTPN Group, masing-masing seluas 10 ribu hektare untuk ubi kayu di Lampung dan jagung di Sulawesi Selatan. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem bioetanol dari hulu ke hilir yang didukung kesiapan lahan, benih, pupuk, serta alat dan mesin pertanian.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan mandat strategis nasional yang harus dijalankan secara terarah dan berkelanjutan.
“Kegiatan ini memiliki peran strategis sebagai tindak lanjut arahan Asta Cita Presiden. Kementerian Pertanian diminta memastikan pelaksanaan program hilirisasi berjalan efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca juga : HIPMI Dorong Hilirisasi Sawit Perkuat Pangan Nasional
Dalam pengembangan bioetanol, sinergi lintas sektor, termasuk dengan BUMN perkebunan, menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. PTPN Group diharapkan berkontribusi dengan target minimal 10.000 hektare untuk masing-masing komoditas utama, yakni jagung, tebu, dan ubi kayu.
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pencapaian target produksi etanol sebesar 8 juta ton sesuai roadmap Kementerian ESDM.
Melalui penguatan kebijakan, dukungan lintas sektor, serta pembangunan ekosistem industri berbasis komoditas, pemerintah optimistis program hilirisasi akan menjadi pengungkit utama, tidak hanya dalam meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, tetapi juga dalam memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.