RM.id Rakyat Merdeka - Banyak kajian menyebut, negara maju umumnya memiliki rasio pengusaha di atas 4 persen dari total populasi. Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) bertekad mewakafkan dirinya sebagai jembatan untuk mewujudkan target tersebut.
Sebagai anak yang lahir dari keterbatasan, Jona memahami ada sekitar 70 juta anak muda Indonesia yang ingin mengubah nasibnya. "Mimpi mereka hari ini, adalah mimpi saya 15 tahun yang lalu," ungkapnya saat ditemui wartawan, Sabtu (9/5/2026).
Menurut Jona, instrumen strategis untuk mengubah nasib adalah menjadi pengusaha. Sebab itu, ia ingin menjadi jembatan dan harapan bagi seluruh anak muda Indonesia untuk menjadi pengusaha.
"Tapi saya tidak bisa bergerak sendirian. Saya butuh dukungan dari teman-teman BPD, BPC, Hipmi Perguruan Tinggi, dan seluruh kader Hipmi untuk bersama-sama mewujudkan mimpi 70 juta anak muda Indonesia," pesan Jona.
Baca juga : Bali United Siap Lanjutkan Tren Positif di Kandang Madura United
Presiden Prabowo Subianto telah mematok target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Menurut Jona, target itu bisa diraih jika seluruh pengusaha muda berkolaborasi. Sehingga, ia mengusung visi: menjadikan Hipmi sebagai rumah kolaborasi pengusaha muda yang inklusif dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.
Pertama, swasembada pangan. Jona akan memperkuat UMKM agrikultur, memodernisasi pertanian, dan menjadikan ketahanan pangan sebagai fondasi keamanan nasional. Kedua, swasembada energi. Ia ingin mengoptimalkan energi terbarukan, mengurangi impor, mendorong B40 biosolar, hilirisasi energi dan pengembangan energi terbarukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Ketiga, hilirisasi industri. Caranya dengan menaikkan kelas pengusaha, dari yang semula trader menjadi produsen melalui Value-added sumber daya alam, investasi asing, transfer teknologi, dan akselerasi transformasi industri.
Keempat, menaikkan limit Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp 500 juta menjadi Rp 2 miliar. "Perlu diperjuangkan agar UMKM punya ruang pembiayaan lebih besar untuk tumbuh dan naik kelas," tegas Jona.
Baca juga : Ubah Sampah dan Limbah Jadi Cuan, Wilda Yanti Inspirasi Perempuan Indonesia
Kelima, permudah akses dan syarat pencairan. Jona mengungkapkan, banyak UMKM berpotensi gagal mengakses kredit karena penilaian bank terlalu ketat.
"Solusinya menaikkan limit, sekaligus menyederhanakan persyaratan," katanya.
Keenam, mendorong pembiayaan daerah untuk UMKM. Jona berupaya mengonsolidasikan BUMD dan Pemda agar menjadi motor kredit UKM daerah, dengan Hipmi sebagai lead sector dalam pembangunan industri daerah.
Menurutnya, sebagai pahlawan ekonomi, UMKM harus mendapat afirmasi tersebut. Ia pun secara gamblang akan membuat UMKM naik kelas, memperoleh akses pembiayaan, menguasai teknologi digital, dan menembus pasar yang lebih luas.
Baca juga : Stoknya Mencapai 5 Juta Ton, Amran Yakin Tidak Ada Manipulasi Data Beras
"Mendorong UMKM go public. Caranya melalui digitalisasi dan AI agar UMKM lebih efisien, mengakses pasar global, dan menganalisis data pasar dengan lebih baik," urai Jona.
Ia juga akan memperkuat kolaborasi pusat dengan daerah. Instrumennya, bisa dengan membangun jenjang karir perkaderan yang jelas. Kader Hipmi harus berproses dari BPC ke BPD minimal satu periode, kemudian menuju BPP bagi yang sudah berpengalaman.
Jona juga akan memperkuat sistem diklat internal Hipmi. Membentuk badan diklat Hipmi berstandar BPP agar pelatihan lebih terpusat, konsisten, dan tidak bergantung pada Lemhanas.
"Pastikan kaderisasi berkelanjutan. Program seperti Hipmi Go perlu dilanjutkan agar alumni dan kader tetap aktif, berkembang secara global, dan tidak berhenti setelah masa bakti berakhir," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.