BREAKING NEWS
 

Jaga Ketahanan Keluarga, Literasi Digital Penting Bagi Perempuan

Reporter : KINTAN PANDU JATI
Editor : SRI NURGANINGSIH
Jumat, 15 Mei 2026 20:58 WIB
seminar yang digelar Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind) dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional. (Foto: Dok.Dok.Alppind)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perempuan dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan keluarga di tengah derasnya arus digitalisasi. Selain sebagai pendidik pertama bagi anak, perempuan juga dianggap menjadi garda terdepan dalam melindungi keluarga dari ancaman konten negatif dan risiko kejahatan digital.

Hal itu mengemuka dalam seminar yang digelar Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind) dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional di Jakarta.

Direktur Ekosistem Media Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital Farida Dewi Maharani mengatakan, perempuan masa kini memiliki peran yang semakin luas, tidak hanya sebagai penjaga keluarga, tetapi juga pelaku ekonomi dan agen komunitas.

Menurutnya, arah transformasi digital Indonesia 2025-2029 akan menjadi fondasi bagi pendidikan, kesehatan, layanan publik, ekonomi, hingga respons kebencanaan dan pemberdayaan UMKM.

Baca juga : Pertahanan Rakyat Sebagai Benteng Kedaulatan Negara

Untuk itu, masyarakat perlu dilindungi dari ancaman penipuan, eksploitasi anak, dan berbagai konten negatif di ruang digital.

"Karenanya perempuan harus bukan hanya sebagai pengguna, tapi juga sebagai penggerak teknologi," kata Farida dalam keterangannya, Sabtu (15/5/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase penggunaan internet pada laki-laki mencapai 80,18 persen, lebih tinggi dibanding perempuan sebesar 75,08 persen. Namun dari 65,5 juta UMKM di Indonesia, sebanyak 64,6 persen dikelola perempuan.

Adsense

Sementara itu, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Infratelnas) dan Dewan Pengurus Harian Masyarakat Telematika Indonesia Sigit Puspito Wigati Jarot menilai, tantangan pengasuhan di era digital tidak lagi sekadar soal kepatuhan anak.

Baca juga : PNM Kembangkan Klaster Pala untuk Perkuat Ekonomi Perempuan NTT

"Tapi apakah keluarga mampu membentuk anak yang aman, cerdas, beretika, dan tangguh di tengah arus digital," kata Sigit.

Ia menyebut terdapat lima titik kerentanan keluarga dalam menghadapi era digital, yakni krisis pengasuhan digital seperti adiksi gadget, tekanan psikososial akibat algoritma dan fenomena  (FOMO), kesenjangan akses dan kapasitas digital, beban peran ganda perempuan, serta ancaman keamanan siber.

Menurut Sigit, konsep parenting perlu berubah dari sekadar pengawas menjadi navigator bagi anak di dunia digital.

Direktur Kebijakan Tata Kelola Keamanan Siber dan Sandi BSSN Nunil Pantjawati juga mengingatkan ancaman siber kini telah masuk ke ruang keluarga.

Baca juga : Jaga Persatuan Dan Kesatuan Bangsa Waspadai Proxy Adu Domba

Menurutnya, cyber builying, kecanduan game, penipuan daring, hingga paparan konten negatif harus diantisipasi melalui penerapan cyber hygiene dan pengawasan orang tua.

"Orang tua diharapkan mampu membangun kebiasaan digital yang sehat, memberikan edukasi kepada anak, serta membatasi penggunaan teknologi secara bijak guna menciptakan ruang digital yang aman dan produktif bagi keluarga," kata Nunil.

Ia menyebut sekitar 60 persen remaja pernah mengalami berbagai risiko negatif dari aktivitas siber. BSSN juga menemukan berbagai ancaman seperti narkoba digital, cyber bullying, kecanduan game, hingga pelecehan daring.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense