Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Aktivis muda Arvindo Noviar menegaskan, keruntuhan sebuah bangsa kerap bermula ketika rakyat perlahan dijauhkan dari tanggung jawab menjaga kehidupan bersama.
Kondisi itu membuat negara tampak kuat di permukaan, namun rapuh saat menghadapi tekanan sejarah dan perubahan global.
Menurut Arvindo, rakyat yang memahami arti pertahanan akan menjadi kekuatan strategis bangsa dalam menjaga kedaulatan, melindungi sumber daya nasional, serta memastikan negara tetap berdiri di atas kekuatan sosial rakyatnya sendiri.
“Ketahanan nasional tidak bisa berdiri sendiri. Dia harus ditopang kesiapan rakyat, penguasaan ilmu pengetahuan, disiplin organisasi, dan kesadaran kolektif menjaga masa depan bangsa,” ujar Arvindo kepada RM.id, Jumat (15/5/2026).
Dia menjelaskan, kesadaran tersebut menjadi dasar lahirnya organisasi Pertahanan Rakyat (HANRA), yang menempatkan rakyat sebagai sumber legitimasi negara sekaligus fondasi utama keberlangsungan bangsa di tengah dunia yang semakin kompetitif dan penuh ketidakpastian.
Baca juga : Peringati Hari Bumi, Gubernur Jateng Nyatakan Perang Ke Mafia Tambang
Arvindo menilai, sejarah Indonesia menunjukkan kekuatan nasional selalu tumbuh dari kemampuan rakyat mengorganisasi diri saat menghadapi penindasan, perampasan sumber daya, hingga dominasi asing.
Menurutnya, perjuangan rakyat dalam Perang Diponegoro, perlawanan Aceh, hingga revolusi kemerdekaan menjadi bukti bahwa ketahanan bangsa lahir dari keberanian rakyat mempertahankan hak menentukan nasibnya sendiri.
“Dalam sejarah Indonesia, kedaulatan selalu berkaitan langsung dengan penghidupan rakyat, tanah, distribusi sumber daya, dan arah masa depan bangsa,” katanya.
Dia mengingatkan, tantangan dunia saat ini telah berubah. Persaingan antarnegara tidak lagi hanya terjadi melalui kekuatan militer, tetapi juga lewat penguasaan teknologi, energi, pangan, data, dan informasi.
Menurut Arvindo, ketergantungan terhadap teknologi dan produksi asing dapat mempersempit kemampuan suatu bangsa menentukan kepentingannya sendiri.
Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Bagikan 580 Paket Sembako Di Jakarta Barat
Di sisi lain, ruang informasi yang tidak terkendali berpotensi melahirkan masyarakat yang mudah terpecah dan kehilangan kesadaran sejarahnya.
“Ancaman terhadap negara hari ini tidak selalu datang dalam bentuk perang terbuka. Pelemahan daya tahan sosial, kerusakan kemampuan produksi nasional, dan keterpecahan kesadaran publik juga menjadi ancaman serius bagi kedaulatan bangsa,” tegasnya.
Karena itu, lanjut Arvindo, HANRA hadir untuk mempersiapkan rakyat agar memiliki disiplin berpikir, kesiapan organisasi, kemampuan membaca perubahan zaman, serta keberanian menjaga kepentingan nasional di tengah tekanan global.
Dia menegaskan, pertahanan tidak semata-mata berkaitan dengan kekuatan militer, tetapi juga menyangkut kemampuan bangsa menjaga solidaritas sosial, memperkuat produksi nasional, dan mempertahankan kesadaran sejarahnya.
“Bangsa yang kehilangan hubungan dengan sejarah dan kehidupan sosialnya akan lebih mudah diarahkan oleh kepentingan asing yang tidak berpijak pada masa depan Indonesia,” ujarnya.
Baca juga : Perpusnas Tegaskan Peran Penting Pustaka dalam Memartabatkan Bangsa
Arvindo juga menilai pembangunan pertahanan harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia Indonesia. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang membangun daya pikir dan tanggung jawab sosial, sementara keluarga menjadi fondasi pembentukan etika dan solidaritas masyarakat.
“Masa depan Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan bangsa ini menjaga kedaulatannya di tengah persaingan global yang semakin keras. Penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, energi, pangan, dan data akan menentukan apakah Indonesia menjadi pelaku sejarah atau hanya menjadi objek penguasaan bangsa lain,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya