Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Oleh: Agus Sutoyo
Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan (Pusbinawan) Perpustakaan Nasional RI
RM.id Rakyat Merdeka - Menjelang peringatan 46 tahun Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 17 Mei 2026, berbagai program dan kegiatan tengah digelar agar semarak peringatan tetap terasa. Meski tahun ini perayaan dilaksanakan secara sederhana akibat efisiensi anggaran yang mencapai 58 persen, semangat untuk mengingatkan masyarakat terhadap perjalanan Perpusnas sejak berdiri pada 17 Mei 1980 hingga sekarang tetap terus dijaga.
Sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK), Perpusnas memiliki tugas melaksanakan pemerintahan di bidang perpustakaan sekaligus berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, dan perpustakaan deposit. Tahun ini, Perpusnas mengangkat tema “46 Tahun Perpusnas: Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” sebagai penegasan pentingnya merawat informasi masa lalu untuk menatap masa depan.
Dalam menjalankan fungsinya, salah satu peran utama perpustakaan adalah memberikan layanan kepada masyarakat. Di sinilah pustakawan memegang posisi penting sebagai pelayan informasi, baik melalui layanan konvensional maupun layanan digital. Seluruh informasi kini dituntut untuk dikemas ulang secara menarik dan mudah dipahami agar masyarakat semakin mudah menelusuri serta memanfaatkan pengetahuan yang tersedia.
Untuk memperingati hari jadinya, Perpusnas menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mendukung penguatan literasi. Kegiatan tersebut antara lain lomba olahraga seperti voli, tenis meja, catur, tarik tambang, dan jalan bakiak; lomba paduan suara Mars Perpusnas; stand-up comedy bertema “Aku dan Perpustakaan”; lomba pembuatan logo HUT; hingga lomba Khutbah Jumat.
Selain itu, Perpusnas juga akan mengadakan webinar nasional dengan menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, disertai webinar yang diselenggarakan masing-masing unit kerja. Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan serta memperkuat peran Perpusnas dalam pengembangan literasi dan diseminasi pengetahuan kepada masyarakat. Sejumlah nama yang dijadwalkan hadir antara lain Bagus P. Mulyadi, Rieke Diah Pitaloka, Arys Hilman, Chaerul Umam, dengan Dyah R. Sugiyanto sebagai moderator.
Peluncuran tema dan logo HUT ke-46 Perpusnas yang telah dilakukan pada 13 April 2026 menjadi simbol arah strategis lembaga dalam memperkuat peran perpustakaan sebagai penggerak literasi dan pusat pengetahuan masyarakat. Di tengah kebijakan efisiensi, Perpusnas menegaskan layanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal melalui penajaman prioritas serta penguatan kualitas layanan fisik maupun digital.
Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menyatakan bahwa peluncuran tema dan logo tersebut merupakan langkah strategis untuk menunjukkan kepada publik bahwa Perpusnas tidak hanya menjalankan fungsi layanan, tetapi juga berperan sebagai penggerak literasi nasional, penjaga pengetahuan bangsa, dan bagian dari ekosistem pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Hal senada disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto. Menurutnya, Perpusnas akan membuka ruang interaksi publik yang lebih luas melalui pameran dan bimbingan teknis profesional. Selama 4–29 Mei 2026, masyarakat dapat menyaksikan lini masa perjalanan dan capaian strategis Perpusnas melalui pameran fisik maupun virtual. Edukasi publik juga diperkuat melalui diskusi hibrida, lokakarya, webinar, klinik konsultasi, layanan akreditasi, sertifikasi, pengolahan RDA, hingga layanan penomoran standar seperti ISBN, ISMN, dan ISSN.
Baca juga : Prabowo Janji Perhatikan Nasib Nelayan: Tak Boleh Lagi Diabaikan
Program literasi yang berdampak langsung kepada masyarakat juga akan menyemarakkan HUT ke-46 Perpusnas. Deputi Bidang Sumber Daya Perpustakaan, Adin Bondar, menyebut sejumlah program unggulan seperti Relawan Literasi Masyarakat (Relima), Bantuan Bahan Bacaan Bermutu, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi, serta pengembangan perpustakaan di Sekolah Rakyat. Program-program tersebut dinilai mampu memperluas akses pengetahuan hingga ke berbagai lapisan masyarakat.
Menurutnya, efisiensi anggaran tidak mengurangi fokus Perpusnas dalam memperkuat layanan yang menjadi hak masyarakat. Penguatan program literasi justru terus dibangun melalui kolaborasi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah agar layanan literasi tetap hadir di tengah masyarakat.
Selain berbagai aktivitas tersebut, Perpusnas juga akan menyelenggarakan pameran bertema “Perjalanan Sejarah Perpusnas” dalam bentuk fisik dan virtual. Pameran ini menampilkan koleksi serta layanan Perpusnas sebagai sarana edukasi dan promosi kepada masyarakat.
Rangkaian kegiatan lainnya meliputi penerbitan buku bunga rampai “46 Tahun Perpusnas: Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” yang melibatkan penulis internal maupun eksternal Perpusnas, serta program “100 Buku Mengubah Indonesia”. Penerbitan buku tersebut bertujuan mendokumentasikan gagasan, pengetahuan, dan kontribusi Perpusnas dalam pembangunan literasi nasional.
Puncak peringatan HUT ke-46 Perpusnas, menurut Ketua Panitia Supriyanto, akan ditutup melalui kegiatan LiteRun (Literasi Run), yakni lari santai yang melibatkan pegawai, keluarga pegawai, dan masyarakat umum. Kegiatan tersebut bertujuan mempererat kebersamaan, meningkatkan kesehatan, serta memperluas partisipasi publik dalam menyemarakkan HUT Perpusnas. Pada kesempatan yang sama juga akan digelar bazar produk UMKM dan kuliner nusantara oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Perpusnas.
Di balik seluruh rangkaian kegiatan tersebut, terdapat satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni pentingnya keberadaan pustakawan. Perpustakaan tanpa pustakawan tidak lebih dari deretan buku di rak yang kehilangan makna dan arah layanan. Pustakawan merupakan sumber daya manusia utama yang menghidupkan perpustakaan melalui pelayanan kepada masyarakat berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi, dan informasi yang dimilikinya.
Namun, bekal pendidikan formal saja belum cukup. Pustakawan harus terus bergerak dan menebarkan semangat literasi. Bergerak di sini berarti dinamis, aktif melakukan inovasi, mengadakan aksi nyata, serta terus berkegiatan di bidang kepustakawanan. Di tengah keterbatasan anggaran, muncul inovasi bertajuk “Bakwan Hangat” atau Bakti Pustakawan Harmoni dan Tetap Semangat sebagai bentuk pengabdian pustakawan Perpusnas agar tetap hadir di tengah masyarakat melalui upaya mandiri.
Kompetensi Pustakawan Bergerak
Pustakawan bergerak memiliki dua dimensi utama. Pertama, dimensi pribadi, yaitu pustakawan harus terus meningkatkan keahlian dan kompetensinya. Seorang pustakawan tidak boleh cepat puas hanya dengan ijazah diploma, sarjana, maupun pascasarjana.
Kedua, dimensi sosial, yakni pustakawan harus hadir bersama masyarakat agar kompetensi yang dimiliki benar-benar memberi manfaat. Pustakawan harus mampu bergerak mengikuti dinamika kebutuhan informasi masyarakat serta aktif dalam organisasi profesi maupun lembaga perpustakaan.
Baca juga : Pangan Terjamin, Papan Terlindungi: Menata Fondasi Martabat Bangsa
Karena itu, implementasi pustakawan bergerak membutuhkan prinsip sinergi, keterbukaan, dan profesionalisme.
Prinsip pertama adalah sinergi. Kekuatan bersama selalu lebih besar daripada kekuatan individu. Karena itu, pustakawan perlu membangun kerja sama dengan berbagai profesi dan lembaga lain demi memperkuat gerakan literasi.
Prinsip kedua adalah keterbukaan. Tidak semua perpustakaan memiliki koleksi, sumber daya manusia, fasilitas, maupun layanan yang sama. Oleh sebab itu, keterbukaan dan berbagi sumber daya menjadi penting agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara bersama-sama.
Prinsip ketiga adalah profesionalisme. Pustakawan harus mampu menjangkau berbagai komunitas secara inklusif, memiliki kode etik profesi, menunjukkan kualitas layanan yang unggul, serta terus mengembangkan kapasitas diri secara berkelanjutan.
Dalam buku Library is Librarian; Perpustakaan dan Pustakawan di Era Milenial dan 4.0 (Graha Ilmu, 2020), Rhoni Rodin menjelaskan pentingnya perpustakaan dan pustakawan beradaptasi dengan era digital. Menurutnya, pustakawan profesional adalah mereka yang mampu memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas layanan dan tetap kompetitif di era Revolusi Industri 4.0.
Ia menekankan bahwa pustakawan modern tidak lagi hanya menjaga buku, melainkan menjadi fasilitator informasi yang mampu memenuhi kebutuhan pemustaka secara cepat dan tepat. Karena itu, kualitas layanan menjadi kunci utama yang akan membentuk citra positif perpustakaan.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan pemikiran Lauren Pressley dalam bukunya So You Want To Be A Librarian (2009). Menurutnya, pustakawan umumnya mencintai profesinya dan memandang kepustakawanan sebagai karier yang bernilai.
Pressley juga mengutip pemikiran S. R. Ranganathan yang menyebut perpustakaan sebagai “a library is a growing organism”. Artinya, perpustakaan merupakan organisasi yang terus tumbuh dan berkembang. Karena itu, pustakawan harus memiliki komitmen terhadap institusi perpustakaan dan kode etik profesinya, sekaligus memberikan pelayanan terbaik bagi pemustaka.
Selain itu, pustakawan juga dituntut memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Jiwa kewirausahaan akan membentuk pustakawan yang kreatif, inovatif, berani mengambil risiko, mandiri, dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan dunia kepustakawanan.
Baca juga : Panas Makkah Kian Terik, Jemaah Lansia Banyak Yang Kelelahan
Di era disrupsi saat ini, pustakawan juga harus terbuka terhadap perubahan. Pengetahuan, keterampilan digital, kemampuan komunikasi, hingga empati sosial harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Hal terpenting lainnya adalah kompetensi yang teruji dan tersertifikasi. Kompetensi pustakawan mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar kerja profesi. Semakin diasah dan ditempa, pustakawan akan semakin profesional dan mampu memberikan layanan terbaik.
Ke depan, pustakawan dituntut semakin aktif bergerak, cepat beradaptasi, dan berani keluar dari zona nyaman tradisi lama. Pustakawan harus mampu mentransformasikan diri melalui berbagai praktik sosial yang dinamis serta membangun jejaring yang kuat dengan masyarakat dan mitra kerja.
Memasuki usia ke-46 tahun, diharapkan Perpusnas semakin terdepan dalam memartabatkan dunia perpustakaan sekaligus meningkatkan martabat para pengelola perpustakaan yang sepenuhnya mengabdikan diri pada dunia kepustakawanan.
Selamat bekerja bagi seluruh pustakawan Indonesia dalam memobilisasi pengetahuan untuk masyarakat. Tugas pustakawan sebagai penggerak budaya gemar membaca dan penguat literasi masyarakat tidak boleh kendor, meski anggaran terus mengalami penurunan. Sebab, kita percaya bahwa ekosistem literasi yang kuat akan memajukan dan memartabatkan bangsa di semua sektor.
Salam literasi. Dirgahayu Perpusnas.***
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya