BREAKING NEWS
 

Riset Doktor Ilmu Komunikasi: Algoritma Medsos Turut Tentukan Narasi IKN

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 7 Juli 2026 15:49 WIB
Rustika Nur Istiqomah atau Rustika Herlambang (kiri). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Percakapan publik mengenai Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak lagi semata dibentuk oleh Pemerintah atau media massa. Di era digital, algoritma media sosial (medsos) turut berperan menentukan isu apa yang mendapat perhatian, bagaimana isu berkembang, hingga sejauh mana pesan memperoleh resonansi di ruang publik.

Temuan tersebut diungkap dalam disertasi doktoral Rustika Nur Istiqomah atau yang dikenal dengan Rustika Herlambang pada Sidang Promosi Doktor Program Studi Ilmu Komunikasi melalui penelitian berjudul Algorithmic Intermedia Agenda-Setting dalam Isu Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN): Analisis Big Data Media Daring, Twitter/X, TikTok, serta Mekanisme Agenda-Building Pemerintah (2020–2024), di Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (7/7/2026).

Penelitian ini menganalisis dinamika percakapan digital mengenai IKN selama lima tahun, mulai 2020 hingga 2024, dengan memanfaatkan pendekatan Computational Social Science berbasis big data. Berbeda dengan banyak penelitian komunikasi yang menggunakan sampel, studi ini mengolah keseluruhan populasi data (N=all) dari media daring, Twitter/X, dan TikTok selama sekitar 1.827 hari untuk memetakan bagaimana agenda publik terbentuk di era algoritmik.

Menurut Rustika, teori agenda-setting selama ini menempatkan Pemerintah, media massa, dan publik sebagai aktor utama pembentuk opini publik. Namun, dalam ekosistem digital, algoritma platform juga menjadi faktor yang menentukan visibilitas suatu isu.

Baca juga : Yulisman: Kenaikan Pertamax untuk Jaga Energi Nasional

"Agenda publik tidak lagi dimonopoli oleh satu aktor. Ia terbentuk melalui interaksi antara manusia dan teknologi, termasuk algoritma yang mengatur rekomendasi konten, trending topic, hingga fitur For You Page," ujar Rustika, dalam sidang promosi doktor tersebut.

Rustika Herlambang berfoto bersama para menguji usia sidang promosi doktor.

Resonansi Lebih Penting daripada Jumlah Konten

Salah satu temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi digital tidak lagi ditentukan oleh banyaknya jumlah konten yang dipublikasikan. Menurut Rustika, penelitian menemukan bahwa konten yang diproduksi dalam jumlah besar belum tentu menjadi perhatian publik. Sebaliknya, pesan dengan jumlah publikasi yang lebih sedikit dapat memperoleh resonansi yang jauh lebih tinggi apabila hadir pada momentum yang tepat, dikemas dalam format yang sesuai dengan karakter platform, serta diperkuat oleh mekanisme distribusi algoritmik.

Dalam penelitian ini, resonansi diukur melalui berbagai bentuk keterlibatan publik, seperti komentar, likes, shares, retweet, maupun interaksi digital lainnya. "Di ruang digital saat ini, perhatian publik menjadi sumber daya yang sangat kompetitif. Yang menentukan bukan hanya seberapa banyak pesan dipublikasikan, tetapi seberapa besar resonansi yang berhasil dibangun," jelas Rustika yang juga Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2) tersebut.  

Perhatian Publik Bergerak Ikuti Momentum

Adsense

Penelitian juga menunjukkan bahwa perhatian publik terhadap IKN bersifat episodik. Intensitas percakapan meningkat pada momentum-momentum tertentu, seperti pengesahan Undang-Undang IKN, dinamika politik menjelang Pemilu, perkembangan pembangunan fisik, hingga penyelenggaraan peringatan Hari Kemerdekaan di kawasan IKN.

Baca juga : Kapolri Di Rakorwas Kompolnas: Mitra Strategis Untuk Pembenahan Polri

Temuan tersebut menunjukkan bahwa agenda publik tidak berkembang secara linear, melainkan bergerak mengikuti momentum politik, kebijakan, maupun peristiwa simbolik yang kemudian diperkuat oleh distribusi informasi di berbagai platform digital.

Setiap Platform Membentuk Persepsi dengan Cara Berbeda

Studi ini juga menemukan bahwa setiap platform memiliki karakter dan fungsi yang berbeda dalam membentuk persepsi publik mengenai IKN. Media daring berperan memperkuat legitimasi melalui penyajian informasi kebijakan dan perkembangan pembangunan. 

Twitter/X menjadi ruang diskusi, kritik, dan kontestasi berbagai sudut pandang. Sementara itu, TikTok lebih banyak membangun pengalaman visual dan emosional yang membuat isu kebijakan lebih mudah dipahami sekaligus dibagikan kepada publik. "Isu yang sama bisa tampil sebagai berita di media daring, menjadi perdebatan di Twitter/X, dan berubah menjadi pengalaman visual di TikTok," kata Rustika.

Jajaran tokoh dan undangan yang menghadiri sidang promosi doktor Rustika Herlambang

Perkenalkan Model Baru AIAS

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Rustika memperkenalkan model teoretis baru bernama Algorithmic Intermedia Agenda-Setting (AIAS). Model ini memperluas teori intermedia agenda-setting dengan menempatkan algoritma sebagai salah satu mediator penting dalam pembentukan agenda publik di era digital.

Baca juga : Bamsoet Soroti Ketimpangan Ekosistem Transportasi Online

Melalui model AIAS, agenda publik dipahami sebagai hasil interaksi antara pemerintah, media massa, publik, kreator konten, dan sistem algoritma yang menentukan distribusi serta visibilitas informasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa suatu isu memiliki peluang lebih besar menjadi agenda publik ketika lima unsur bertemu secara bersamaan, yaitu pesan, momentum, format, emosi, dan logika platform.

Relevan bagi Komunikasi Publik di Era Digital

Selain memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu komunikasi, penelitian ini juga menawarkan implikasi praktis bagi pemerintah, media massa, perusahaan, maupun organisasi yang menjalankan komunikasi publik di era media sosial. Penelitian mengidentifikasi enam strategi agenda-building Pemerintah dalam isu IKN, yakni policy anchoring, message discipline, narrative repair, visual proof, eventization, dan komunikasi langsung kepada publik melalui kanal resmi Presiden.

Menurut Rustika, keberhasilan komunikasi publik pada era digital tidak lagi cukup mengandalkan penyebaran informasi, tetapi juga memerlukan kemampuan membangun resonansi sesuai karakter masing-masing platform. "Komunikasi kebijakan hari ini harus memahami bagaimana perhatian publik bekerja dalam marketplace of attention yang dipengaruhi sekaligus oleh manusia dan algoritma. Membangun resonansi kini menjadi sama pentingnya dengan menyampaikan informasi," tutup Rustika.

Penelitian ini menjadi salah satu studi longitudinal paling komprehensif mengenai dinamika komunikasi IKN di Indonesia dan menawarkan perspektif baru mengenai bagaimana algoritma media sosial memengaruhi pembentukan agenda publik dalam ekosistem komunikasi digital yang semakin kompleks.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense