BREAKING NEWS
 

Prof. Dadang Kahmad: MPI Jadi Jantung Dakwah Muhammadiyah

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Jumat, 17 Juli 2026 19:29 WIB
Rapat Kerja Nasional Majelis Pustaka dan Informasi (MPI), di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2026). (Foto: Dok. MPI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dadang Kahmad, menegaskan bahwa dakwah saat ini tidak cukup dilakukan hanya dari mimbar ke mimbar. Dakwah zaman sekarang harus juga berlangsung melalui buku, jurnal, media massa, televisi, radio, media sosial, podcast, video digital, hingga kecerdasan artifisial.

Dalam konteks ini, kata Prof. Dadang, peran Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah sangat penting. “Majelis Pustaka dan Informasi kita ini sesungguhnya merupakan jantung dakwah Muhammadiyah,” ucapnya, saat membuka Rapat Kerja Nasional MPI, di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2026).

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung ini menjelaskan, saat ini masyarakat hidup pada zaman yang bebeda dengan waktu Muhammadiyah dilahirkan. Sekarang ini adalah zaman ketika informasi melimpah. Berbagai platform informasi tersebar diakses sangat mudah, tetapi kebijaksanaan sering kali langka.

Baca juga : Menlu & Ketua MPR Ajak Bos NU & Muhammadiyah

Prof. Dadang menambahkan, berita beredar sangat cepat, namun kebenaran sering tertinggal. Teknologi berkembang, tetapi etika sering tertinggal di belakang. “Di sinilah MPI harus hadir,” imbuhnya.

Adsense

Ia menegaskan, Muhammadiyah tidak boleh menjadi korban disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, maupun polarisasi sosial. Muhammadiyah harus menjadi sumber informasi yang terpercaya, menenangkan, mencerahkan, dan mempersatukan.

“Oleh karena itu peran MPI sangatlah menentukan keberhasilan dakwah digital Muhammadiyah. Siapa cepat tentu dapat, lalai ketinggalan,” tegasnya.

Baca juga : Pramono Targetkan Jakarta Jadi Kota Global Jelang Usia 500 Tahun pada 2027

Prof. Dadang lalu mengutip Surah Al-Hujurat ayat 6. Dalam ayat ini disebutkan agar setiap berita terlebih dahulu diverifikasi. Prinsip tabayyun atau rechek berita merupakan fondasi etika komunikasi Islam dan sekaligus fondasi jurnalisme modern.

"Kita sekarang juga memasuki era Artificial Intelligence (AI). Teknologi canggih ini akan mengubah cara manusia belajar, cara bekerja, dan cara berkomunikasi, bahkan cara berdakwah," imbuhnya.

Bagi Muhammadiyah, kata Prof. Dadang, AI tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata, tetapi juga tidak boleh diterima tanpa kritis. Muhammadiyah harus menjadi pelopor pemanfaatan AI yang berlandaskan nilai-nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan etika kemanusiaan.

Baca juga : Zulhas Minta Kader PAN Jadi Solusi Masalah Sampah

"Saya berharap dalam Raker MPI ini membahas dan menyusun mengenai peta jalan transformasi digital Muhammadiyah yang mencakup penguatan literasi digital warga Muhammadiyah; pengembangan arsip digital dan perpustakaan Muhammadiyah; penguatan media Muhammadiyah sebagai rujukan publik; pengembangan konten dakwah yang kreatif, ilmiah, dan mudah diakses generasi muda; serta penyusunan pedoman etika pemanfaatan AI di lingkungan Persyarikatan," tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense