BREAKING NEWS
 

Buntut Kekeringan; Gunung Bromo Terbakar, RS Di Kudus Penuh Pasien Dehidrasi

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : ADITYA NUGROHO
Selasa, 4 Agustus 2026 18:02 WIB
Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Dampak musim kemarau yang dipicu fenomena El Nino mulai meluas di berbagai wilayah Indonesia. Kebakaran hutan terjadi di kawasan Gunung Bromo, sementara rumah sakit di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dipenuhi pasien dehidrasi akibat cuaca panas ekstrem.

Kebakaran hutan melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Kabupaten Probolinggo sejak Senin (3/8/2026) sore. Titik api yang semula muncul di Blok Bantengan dan Jantur terus meluas hingga mengarah ke kawasan savana Gunung Bromo karena kondisi vegetasi yang mengering.

Balai Besar TNBTS bersama petugas gabungan terus melakukan pemadaman dengan membuat sekat bakar dan memotong vegetasi untuk mencegah api meluas. Akses wisata Gunung Bromo melalui pintu masuk Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang juga ditutup sementara sejak Senin (3/8/2026) pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditentukan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur Satriyo Nurseno mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, luas lahan yang terbakar masih dalam proses pendataan.

Baca juga : Buntut Kekeringan, Warga Mulai Kekurangan Air Bersih

Dampak kemarau juga mulai mengganggu sektor kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Abdul Hakam mengungkapkan rumah sakit di wilayahnya kini dipenuhi pasien dehidrasi, terutama kalangan lanjut usia yang mengalami kekurangan cairan akibat cuaca panas dan terbatasnya konsumsi air.

"Rumah sakit sekarang relatif penuh pasien dehidrasi, orang sepuh karena minumnya terbatas," ujar Hakam di Pendopo Pemerintah Kabupaten Kudus, Selasa (4/8/2026).

Selain kebakaran dan gangguan kesehatan, kekeringan mulai mengancam sektor pertanian. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kalimantan Selatan mencatat sebanyak 6.691 hektare lahan padi terdampak kekeringan, bahkan sebagian di antaranya mengalami puso atau gagal panen.

Adsense

Wilayah terdampak terluas berada di Kabupaten Tanah Laut seluas 3.383 hektare, disusul Kabupaten Barito Kuala 1.919 hektare, Kabupaten Banjar 622 hektare, dan Kabupaten Tanah Bumbu 446 hektare. Pemerintah daerah bersama dinas pertanian dan Balai Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum mengoptimalkan pompanisasi untuk memanfaatkan sumber air yang masih tersedia.

Baca juga : PN Pangkalpinang Bebaskan dr. Ratna Setia Asih Dari Kasus Dugaan Malpraktik

Krisis air bersih juga terjadi di sejumlah daerah. Di Kabupaten Tangerang, Banten, sebanyak 477 kepala keluarga di Kecamatan Balaraja mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Pemerintah daerah telah mendistribusikan bantuan air melalui Perumda Tirta Kerta Raharja dan menyiapkan pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, sedikitnya tujuh kabupaten dan kota di provinsi tersebut terdampak kekeringan dengan total 140 titik, meliputi Kota Cilegon, Kota Serang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Tangerang.

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Depok, Jawa Barat. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Depok telah menyalurkan bantuan air bersih kepada 78 kepala keluarga di RW 08 Cipayung Jaya yang mengalami krisis air akibat kemarau.

Sementara itu, BPBD Jawa Timur mencatat 14 kabupaten terdampak kekeringan. Tiga daerah, yakni Lumajang, Mojokerto, dan Situbondo, telah menetapkan status tanggap darurat, sedangkan 11 kabupaten lainnya masih berstatus siaga darurat.

Baca juga : Kukuhkan 3 Guru Besar, UNJ Ingin Jadi Kampus Kelas Dunia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi tersebut dipicu penguatan fenomena El Nino. Berdasarkan pemantauan citra satelit per 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi 1.729 titik panas kategori sedang dan 117 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, El Nino kini telah memasuki kategori kuat dengan indeks Nino 3.4 mencapai +2,26. Kondisi itu diperkirakan membuat Agustus hingga September menjadi periode paling kering sehingga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta krisis air bersih, terutama di wilayah selatan Indonesia.

Menurut Faisal, pengaruh El Nino diperkirakan mulai berkurang setelah Indonesia memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober. BMKG bersama Kementerian Pekerjaan Umum juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air di waduk dan mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.

BMKG mengimbau pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau. Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air bersih, menjaga kecukupan cairan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan, serta rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense